Kutuliskan yang Terkenang
Tulisan ini khusus bentuk apresiasi penulis secara
pribadi untuk suatu lembaga non pemerintah di bidang gerakan anti korupsi, sebutlah dia
Gerakan Pemuda Anti Korupsi (GEPAK), diketuai bang Ipank (Irfan Maulana,
mahasiswa Pascasarjana Universitas Nasional). Sang ketua memimpin para
anggotanya, termasuk beberapa junior sekampusnya, Aditya Pamungkas (alumni
Universitas Nasional), Glen Simanjuntak (Alumni Universitas Nasional) dan
Rimank (Mahasiswa Universitas Nasional).
Kini penulis tak lagi terlibat di internal lembaga tersebut, namun
pelajaran berguna banyak didapat dari sana dan masih tetap dijunjung tinggi
dalam hidup dalam penulis, memang konsistensi dalam keseharian si penulis ini patut
juga diragukan.
Penulis di Suatu Kegiatan GEPAK
Desember 2012, sekitar sebulan-an
diwisuda dari kampus negeri Jakarta saya diberi kesempatan untuk terlibat dalam
1 lembaga yang bergerak di bidang anti korupsi.
Kenapa saya menyebutnya sebagai kesempatan, karena seorang kakak tingkat
(senior) sekampus yang memberikan informasi bahwa lembaga tersebut sedang membutuhkan
SDM dan jika masuk saya secara langsung menjadi anggota tim bersama senior
tersebut. Entah lah apa dasar pertimbangannya sehingga saya diajak, diberi
kesempatan, dan sempat bekerja sama dengan dia untuk beberapa waktu. Supaya tak
penasaran, dia bernama bang Jo (Johan Nurul Imani, Alumni Sosiologi Pembangunan
Universitas Negeri Jakarta).
Saat
menjadi bagian dari lembaga anti korupsi itu banyak hal yang saya dapatkan
selain fee bulanan. Apa yang saya dapatkan sulit dinilai atau digantikan dengan
uang, karena benar apa yang pepatah katakan, pengalaman adalah guru yang paling
berharga. Kini, kesempatan yang sudah saya manfaatkan dan telah dilewati
menjadi bagian pengalaman hidup pribadi. Bagi saya pribadi bekerja bukan
sekedar bekerja, hidup untuk cari dan dapatkan uang tidak bisa dibantah, tapi
uang selamanya tidak mampu memberi kenyamanan hidup. Prinsip saya setelah
meluluskan diri dari pendidikan di kampus dahulu ialah tidak melacurkan ilmu
yang saya dapat selama di perkuliahan, karena prinsip itu membuat orientasi
pekerjaan saya menjadi terbatas, kebiasaan saya memilih pekerjaan sempat
berlangsung beberapa lama terutama sesaat setelah diwisuda dan sesaat setelah
mengundurkan diri dari keanggotaan lembaga anti korupsi itu. Orientasi kerja
saya mengutamakan pengembangan diri, kebebasan berpikir, berbicara dan
bergagasan, bentuk pekerjaan yang saya inginkan sangat sempit, kalau tidak
menjadi jurnalis, menjadi guru bimbingan belajar bidang studi ilmu
saya:sosiologi, atau bekerja di organisasi non pemerintah.
Karakter dan
Pengembangan Diri
Kembali kepada pengalaman yang telah
saya dapat selama terlibat sesaat di dalam lembaga yang saya sebutkan sedari
tadi, karakter dan pengembangan diri dua hal yang sangat berdampak baik secara
langsung pada diri saya. Karakter itu meliputi nilai-nilai hidup seperti
integritas dan kesederhanaan, pengembangan diri seperti menghidupkan gagasan
dan menuangkannya melalui media relevan. Prediksi penulis, jika dahulu tidak
pernah terlibat dalam lembaga anti korupsi mungkin masih ‘doyan’ suap polisi lalu
lintas ketika melanggar aturan lalu lintas, kebiasaan membolos dari kuliah,
atau membohongi orang tua di kampung dalam hal apapun. Pengalaman nyata penulis
beberapa kali melanggar lalu lintas dan pasti bertemu aparat lalu lintas di
jalan, selama aktif di GEPAK tidak pernah sekalipun berusaha untuk menyuap
oknum-oknum korup, penulis selalu berusaha untuk jujur, kalau salah selalu
mengakui dan menyudahinya dengan permintaan surat tilang. Pernah pula bertemu
polantas di jalan raya lenteng agung, seorang polantas menasehati penulis
dengan berwibawa, tidak menawarkan damai di jalan, tidak
membentak-menakut-nakuti, dan membiarkan penulis segera berlalu tanpa diberi
surat tilang. Salut untuk bapak polantas itu.
Surat Tilang yang Sempat Terekam
Pengalaman lain menyoal integritas,
menjalani rutinitas dan tanggung jawab kerja dan kuliah memang berat ternyata,
berbangga untuk orang yang selama ini giat bekerja dan tekun belajar. Karena
berat nya itu sering kali ada dorongan diri untuk tidak masuk kuliah, membolos
bahasa kerennya. Titip absen melalui teman sekelas merupakan cara sederhana
agar tidak merugi saat memboloskan diri dari perkuliahan. Saat ada niatan itu
mungkin rekan-rekan kerja di lembaga tersebut bisa membaca niatan buruk itu
sehingga pernah ada guyonan dari satu rekan kerja sebutlah dia bang Jek
(Jakaria, mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta) yang lumayan
ampuh untuk mengajarkan integritas dalam kaitannya tanggung jawab kuliah.
Selama 1 semester full penulis tidak
pernah kalah saat melawan godaan agar titip absen, pulang kantor segera ke
kos-kosan.
Bahasa sederhana dari integritas
biasanya berdekatan dengan makna kejujuran. Korupsi bisa disebut sebagai contoh
perilaku tidak jujur, kalaupun orang terlalu berat menyebut sebagai perilaku
tak bermoral, penulis lebih memilih menyebutnya sebagai perilaku tak
berintegritas. Saat dikombinasi, korupsi dimaknai sebagai perilaku tak bermoral
dan tidak berintegritas, ketika ingin memberantas perilaku korup penulis pun
memilih solusi dengan pengembangan nilai integritas, sebelum jujur pada orang
lain, jujur dan malulah pada diri sendiri saat sedang berbuat/perperilaku tak jujur. Jika
tak ada rasa malu pada diri sendiri saat berperilaku tak jujur, berdamailah
segera dengan diri sendiri. Simpel sebenarnya.
Selain pembangunan karakter, yang paling
berdampak langsung secara pribadi saat itu adalah pengembangan diri. Tidak
mungkin terjadi pengembangan diri bagi para pekerja saat tidak ada kebebasan,
pekerjaan hanya berdasarkan perintah institusi dan atasan, ruang berpikir dan
menyalurkan gagasan tidak tersedia. Namun semua itu tidak saya dapatkan ketika
berada di dalam lembaga semacam GEPAK, dan saya yakin kebanyakan lembaga non
pemerintah pola kerjanya tidak jauh berbeda, mengedepankan produktivitas
ide, kebebasan dan menghormati kesederhanaan. Membicarakan soal korupsi dalam
skala nasional rasanya tidak habis-habis, terkesan fana sekedar bayang. Namun
jika belajar memperlengkapi diri dengan sering-sering bertanya, gemar
berdiskusi, meminati dan membiasakan menulis ia sudah berwujud, korupsi untuk
penindakan menjadi ranah pekerjaan penegak hukum, kampanye dan penyebaran sikap
anti korupsi dapat dilakukan siapapun, kumpulan orang yang melembagakan diri
dalam satu lembaga formal (non pemerintah) menjadi aksi nyata paling sederhana
tiap individu. Saat mau belajar tentang korupsi, kasus, literatur, regulasi,
mengaplikasikan sikap anti korupsi, saya berpikir ia telah berguna sebagai
manusia, minimal bagi diri nya sendiri, berguna bagi orang lain itu bonus dari
gerakan tulus yang dilakukan.
Pengalaman ‘Singkat’
Bekerja
Apa
yang telah saya peroleh dari lembaga anti korupsi ini masih tetap hidup dalam
diri penulis, namun dengan jujur harus disadari ketidak konsistenan dalam
berperilaku jujur/integritas dan kebiasaan pengembangan diri. Pertengahan Juni
2013 tidak genap setahun terlibat dalam lembaga itu penulis mengundurkan diri
dari keanggotaan lembaga dengan alasan yang mungkin internal bisa menebaknya.
Ketidak konsistenan berintegritas dalam aktivitas hidup itu terlihat saat
penulis mulai terjebak dalam kemalasan, terkadang manfaatkan teman untuk
menitipkan absen, sampai suatu ketika penulis meyakini peristiwa itu teguran
langsung dari Tuhan, tidak ada lagi orang-orang jujur, aktivis anti korupsi
yang mengingatkan berperilaku jujur. Disatu mata kuliah, di kampus negeri
Depok, penulis mengalami ulah sabotase dari orang yang belum terungkap hingga saat
ini, absensi penulis yang terisi penuh dengan tanda tangan tiba-tiba di suatu
pertemuan kuliah tampak tercoret kasar. Harus diakui absensi itu penuh karena
bantuan teman-teman yang menggantikan tanda tangan saya, walaupun secara fisik
tak mengikuti perkuliahan tersebut.
Coretan Absensi
Penulis
Peristiwa itu cukup mengkuatirkan karena
ancamannya penulis tak dapat mengikuti ujian tengah semester Maret lalu dan
terancam pula gagal untuk satu mata kuliah itu karena coretan tanda tangan
lumayan untuk beberapa minggu pertemuan kuliah. Dengan bantuan staf jurusan, dan terpaksa
berkata jujur pada sang pengampu dosen bahwa penulis pernah tiga kali tidak
menghadiri perkuliahan, 2 kali alfa, 1 kali sakit. Dengan kejujuran itu penulis
pun diijinkan mengikuti UTS dan terbuka peluang untuk lulus dari mata kuliah di
akhir semester. Sejak peristiwa menjengkelkan itu penulis berkomitmen untuk
tidak lagi membolos, walau lelah di sore hari memaksakan diri berjuang di jumat
keramat untuk mengejar kereta dari Stasiun Manggarai menuju Depok. Dan sampai
saat ini tidak pernah lagi menitipkan absensi karena teguran yang keras itu
telah membuat penulis untuk mengubah perilakunya dalam menjalani tanggung jawab
kuliah.
Mengundurkan
diri dari kelembagaan GEPAK, membuat banyak waktu luang untuk melakukan hal-hal
berguna dan produktif, tidak selalu dihitung dalam bentuk uang. Penerimaan
pegawai CPNS tahun 2013 lalu dimanfaatkan penulis sebagai ajang cari pengalaman
dalam seleksi umum aparatur negara. Berbagai tahapan, perjalanan melamar dari
satu lembaga ke lembaga lain terus ditempuh saat masa-masa seleksi, dari sekian
banyak lamaran, ada satu lembaga terakhir yang memberi kesempatan untuk lolos
di beberapa tahapan seleksi dan harus mengikuti ujian akhir sesuai ketentuan
panitia seleksi dari lembaga tersebut. Nah, disinilah GEPAK memang punya peran
saat proses lamaran ke lembaga terakhir itu. Di tahap psikotes, psikolog
menggali pengalaman kerja penulis yang terbilang tidak berpengalaman
sebenarnya, penulis menceritakan apa yang benar terjadi, tanpa dipoles agar
terkesan berpengalaman. Kejujuran jawaban dan orisinalitas gagasan mungkin
menjadi pertimbangan sang psikolog hingga mengijinkan penulis lolos masuk ke tahapan paling akhir dimana seleksi akhir
berhadapan dengan petinggi lembaga yang dilamar penulis.
Dua tahapan terakhir seleksi yakni tes
psikotes-wawancara psikolog dan tes wawancara internal lembaga tidak pernah
lepas dari bagian menceritakan pengalaman kerja, gagasan dan tanggung jawab terkait
tentang pekerjaan dahulu. Tidak mungkin pengalaman bekerja yang tak genap
setahun mampu memberi jawaban yang mendekati sempurna. Karena berusaha tulus,
lulus ya syukur, ga lulus ya tetap juga bersyukur dan menjaga semangat membuat
penulis memberikan jawaban apa adanya, jauh dari kesan kemunafikan, karangan.
Setiap penanya pasti punya strategi mengetahui tingkat kejujuran seberapa besar
kebohongan pelamar saat berbicara, memberikan jawaban atau pernyataannya.
Kelulusan hingga tahap akhir dan diterima sebagai bagian internal lembaga
negara tersebut penulis menyadarinya
tidak bisa dilepaskan dari kontribusi lembaga yang sebelumnya mengajari nilai
dan karakter integritas tadi. Soal pengembangan diri tentu menyesuaikan dengan
budaya dan perspektif yang terbangun dalam tiap-tiap lembaga.
Gagasan Hukuman Mati Koruptor
dalam Baju
Dahulu saya belajar tentang setiap hal
yang berkaitan dengan korupsi dan gagasan anti korupsi, kini saya belajar
tentang hak asasi manusia. Dahulu saya mendukung hukuman mati bagi koruptor,
kini dengan perspektif baru saya berusaha menjunjung tinggi perspektif lembaga,
menolak hukuman mati, menghormati hak atas hidup tiap manusia di dunia. Walaupun
kini tidak lagi setiap hari membaca berita korupsi, mencari literatur ilmiah
tentang korupsi, nilai-nilai anti korupsi berusaha dipertahankan penulis, butuh
waktu yang terus berproses, kedewasaan dengan konsistensi.
Terimakasih untuk segenap internal
GEPAK, lembaga non pemerintah yang berfokus pada bidang anti korupsi dengan
apapun yang telah dipertukarkan, diberikan pada penulis. Aktivis anti korupsi
adalah orang yang paling sadar dan peka dengan kasus korupsi, kampanye anti
korupsi. Semoga tetap menjunjung tinggi semangat anti korupsi, dimulai dari
pengembangan nilai anti korupsi di internal dahulu, lembaga dan tiap-tiap orang
di lembaga (kritik membangun). Dan tetap mempengaruhi positif bagi masyarakat,
menyadarkan orang-orang bermental korup, ikut turun tangan membentuk pribadi
yang berintegritas di Indonesia.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar