Kamis, 29 Mei 2014

Kutuliskan yang Terkenang

Kutuliskan yang Terkenang
Tulisan ini khusus bentuk apresiasi penulis secara pribadi untuk suatu lembaga non pemerintah di bidang gerakan anti korupsi, sebutlah dia Gerakan Pemuda Anti Korupsi (GEPAK), diketuai bang Ipank (Irfan Maulana, mahasiswa Pascasarjana Universitas Nasional). Sang ketua memimpin para anggotanya, termasuk beberapa junior sekampusnya, Aditya Pamungkas (alumni Universitas Nasional), Glen Simanjuntak (Alumni Universitas Nasional) dan Rimank (Mahasiswa Universitas Nasional).  Kini penulis tak lagi terlibat di internal lembaga tersebut, namun pelajaran berguna banyak didapat dari sana dan masih tetap dijunjung tinggi dalam hidup dalam penulis, memang konsistensi dalam keseharian si penulis ini patut juga diragukan.



Penulis di Suatu Kegiatan GEPAK

Desember 2012, sekitar sebulan-an diwisuda dari kampus negeri Jakarta saya diberi kesempatan untuk terlibat dalam 1 lembaga yang bergerak di bidang anti korupsi.  Kenapa saya menyebutnya sebagai kesempatan, karena seorang kakak tingkat (senior) sekampus yang memberikan informasi bahwa lembaga tersebut sedang membutuhkan SDM dan jika masuk saya secara langsung menjadi anggota tim bersama senior tersebut. Entah lah apa dasar pertimbangannya sehingga saya diajak, diberi kesempatan, dan sempat bekerja sama dengan dia untuk beberapa waktu. Supaya tak penasaran, dia bernama bang Jo (Johan Nurul Imani, Alumni Sosiologi Pembangunan Universitas Negeri Jakarta).
            Saat menjadi bagian dari lembaga anti korupsi itu banyak hal yang saya dapatkan selain fee bulanan. Apa yang saya dapatkan sulit dinilai atau digantikan dengan uang, karena benar apa yang pepatah katakan, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Kini, kesempatan yang sudah saya manfaatkan dan telah dilewati menjadi bagian pengalaman hidup pribadi. Bagi saya pribadi bekerja bukan sekedar bekerja, hidup untuk cari dan dapatkan uang tidak bisa dibantah, tapi uang selamanya tidak mampu memberi kenyamanan hidup. Prinsip saya setelah meluluskan diri dari pendidikan di kampus dahulu ialah tidak melacurkan ilmu yang saya dapat selama di perkuliahan, karena prinsip itu membuat orientasi pekerjaan saya menjadi terbatas, kebiasaan saya memilih pekerjaan sempat berlangsung beberapa lama terutama sesaat setelah diwisuda dan sesaat setelah mengundurkan diri dari keanggotaan lembaga anti korupsi itu. Orientasi kerja saya mengutamakan pengembangan diri, kebebasan berpikir, berbicara dan bergagasan, bentuk pekerjaan yang saya inginkan sangat sempit, kalau tidak menjadi jurnalis, menjadi guru bimbingan belajar bidang studi ilmu saya:sosiologi, atau bekerja di organisasi non pemerintah.

Karakter dan Pengembangan Diri
Kembali kepada pengalaman yang telah saya dapat selama terlibat sesaat di dalam lembaga yang saya sebutkan sedari tadi, karakter dan pengembangan diri dua hal yang sangat berdampak baik secara langsung pada diri saya. Karakter itu meliputi nilai-nilai hidup seperti integritas dan kesederhanaan, pengembangan diri seperti menghidupkan gagasan dan menuangkannya melalui media relevan. Prediksi penulis, jika dahulu tidak pernah terlibat dalam lembaga anti korupsi mungkin masih ‘doyan’ suap polisi lalu lintas ketika melanggar aturan lalu lintas, kebiasaan membolos dari kuliah, atau membohongi orang tua di kampung dalam hal apapun. Pengalaman nyata penulis beberapa kali melanggar lalu lintas dan pasti bertemu aparat lalu lintas di jalan, selama aktif di GEPAK tidak pernah sekalipun berusaha untuk menyuap oknum-oknum korup, penulis selalu berusaha untuk jujur, kalau salah selalu mengakui dan menyudahinya dengan permintaan surat tilang. Pernah pula bertemu polantas di jalan raya lenteng agung, seorang polantas menasehati penulis dengan berwibawa, tidak menawarkan damai di jalan, tidak membentak-menakut-nakuti, dan membiarkan penulis segera berlalu tanpa diberi surat tilang. Salut untuk bapak polantas itu.


Surat Tilang yang Sempat Terekam

Pengalaman lain menyoal integritas, menjalani rutinitas dan tanggung jawab kerja dan kuliah memang berat ternyata, berbangga untuk orang yang selama ini giat bekerja dan tekun belajar. Karena berat nya itu sering kali ada dorongan diri untuk tidak masuk kuliah, membolos bahasa kerennya. Titip absen melalui teman sekelas merupakan cara sederhana agar tidak merugi saat memboloskan diri dari perkuliahan. Saat ada niatan itu mungkin rekan-rekan kerja di lembaga tersebut bisa membaca niatan buruk itu sehingga pernah ada guyonan dari satu rekan kerja sebutlah dia bang Jek (Jakaria, mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta) yang lumayan ampuh untuk mengajarkan integritas dalam kaitannya tanggung jawab kuliah. Selama 1 semester full penulis tidak pernah kalah saat melawan godaan agar titip absen, pulang kantor segera ke kos-kosan.
Bahasa sederhana dari integritas biasanya berdekatan dengan makna kejujuran. Korupsi bisa disebut sebagai contoh perilaku tidak jujur, kalaupun orang terlalu berat menyebut sebagai perilaku tak bermoral, penulis lebih memilih menyebutnya sebagai perilaku tak berintegritas. Saat dikombinasi, korupsi dimaknai sebagai perilaku tak bermoral dan tidak berintegritas, ketika ingin memberantas perilaku korup penulis pun memilih solusi dengan pengembangan nilai integritas, sebelum jujur pada orang lain, jujur dan malulah pada diri sendiri saat sedang berbuat/perperilaku tak jujur. Jika tak ada rasa malu pada diri sendiri saat berperilaku tak jujur, berdamailah segera dengan diri sendiri. Simpel sebenarnya.
Selain pembangunan karakter, yang paling berdampak langsung secara pribadi saat itu adalah pengembangan diri. Tidak mungkin terjadi pengembangan diri bagi para pekerja saat tidak ada kebebasan, pekerjaan hanya berdasarkan perintah institusi dan atasan, ruang berpikir dan menyalurkan gagasan tidak tersedia. Namun semua itu tidak saya dapatkan ketika berada di dalam lembaga semacam GEPAK, dan saya yakin kebanyakan lembaga non pemerintah pola kerjanya tidak jauh berbeda, mengedepankan produktivitas ide, kebebasan dan menghormati kesederhanaan. Membicarakan soal korupsi dalam skala nasional rasanya tidak habis-habis, terkesan fana sekedar bayang. Namun jika belajar memperlengkapi diri dengan sering-sering bertanya, gemar berdiskusi, meminati dan membiasakan menulis ia sudah berwujud, korupsi untuk penindakan menjadi ranah pekerjaan penegak hukum, kampanye dan penyebaran sikap anti korupsi dapat dilakukan siapapun, kumpulan orang yang melembagakan diri dalam satu lembaga formal (non pemerintah) menjadi aksi nyata paling sederhana tiap individu. Saat mau belajar tentang korupsi, kasus, literatur, regulasi, mengaplikasikan sikap anti korupsi, saya berpikir ia telah berguna sebagai manusia, minimal bagi diri nya sendiri, berguna bagi orang lain itu bonus dari gerakan tulus yang dilakukan.

Pengalaman ‘Singkat’ Bekerja
            Apa yang telah saya peroleh dari lembaga anti korupsi ini masih tetap hidup dalam diri penulis, namun dengan jujur harus disadari ketidak konsistenan dalam berperilaku jujur/integritas dan kebiasaan pengembangan diri. Pertengahan Juni 2013 tidak genap setahun terlibat dalam lembaga itu penulis mengundurkan diri dari keanggotaan lembaga dengan alasan yang mungkin internal bisa menebaknya. Ketidak konsistenan berintegritas dalam aktivitas hidup itu terlihat saat penulis mulai terjebak dalam kemalasan, terkadang manfaatkan teman untuk menitipkan absen, sampai suatu ketika penulis meyakini peristiwa itu teguran langsung dari Tuhan, tidak ada lagi orang-orang jujur, aktivis anti korupsi yang mengingatkan berperilaku jujur. Disatu mata kuliah, di kampus negeri Depok, penulis mengalami ulah sabotase dari orang yang belum terungkap hingga saat ini, absensi penulis yang terisi penuh dengan tanda tangan tiba-tiba di suatu pertemuan kuliah tampak tercoret kasar. Harus diakui absensi itu penuh karena bantuan teman-teman yang menggantikan tanda tangan saya, walaupun secara fisik tak mengikuti perkuliahan tersebut.

Coretan Absensi Penulis

Peristiwa itu cukup mengkuatirkan karena ancamannya penulis tak dapat mengikuti ujian tengah semester Maret lalu dan terancam pula gagal untuk satu mata kuliah itu karena coretan tanda tangan lumayan untuk beberapa minggu pertemuan kuliah.  Dengan bantuan staf jurusan, dan terpaksa berkata jujur pada sang pengampu dosen bahwa penulis pernah tiga kali tidak menghadiri perkuliahan, 2 kali alfa, 1 kali sakit. Dengan kejujuran itu penulis pun diijinkan mengikuti UTS dan terbuka peluang untuk lulus dari mata kuliah di akhir semester. Sejak peristiwa menjengkelkan itu penulis berkomitmen untuk tidak lagi membolos, walau lelah di sore hari memaksakan diri berjuang di jumat keramat untuk mengejar kereta dari Stasiun Manggarai menuju Depok. Dan sampai saat ini tidak pernah lagi menitipkan absensi karena teguran yang keras itu telah membuat penulis untuk mengubah perilakunya dalam menjalani tanggung jawab kuliah.
            Mengundurkan diri dari kelembagaan GEPAK, membuat banyak waktu luang untuk melakukan hal-hal berguna dan produktif, tidak selalu dihitung dalam bentuk uang. Penerimaan pegawai CPNS tahun 2013 lalu dimanfaatkan penulis sebagai ajang cari pengalaman dalam seleksi umum aparatur negara. Berbagai tahapan, perjalanan melamar dari satu lembaga ke lembaga lain terus ditempuh saat masa-masa seleksi, dari sekian banyak lamaran, ada satu lembaga terakhir yang memberi kesempatan untuk lolos di beberapa tahapan seleksi dan harus mengikuti ujian akhir sesuai ketentuan panitia seleksi dari lembaga tersebut. Nah, disinilah GEPAK memang punya peran saat proses lamaran ke lembaga terakhir itu. Di tahap psikotes, psikolog menggali pengalaman kerja penulis yang terbilang tidak berpengalaman sebenarnya, penulis menceritakan apa yang benar terjadi, tanpa dipoles agar terkesan berpengalaman. Kejujuran jawaban dan orisinalitas gagasan mungkin menjadi pertimbangan sang psikolog hingga mengijinkan penulis lolos masuk  ke tahapan paling akhir dimana seleksi akhir berhadapan dengan petinggi lembaga yang dilamar penulis.
Dua tahapan terakhir seleksi yakni tes psikotes-wawancara psikolog dan tes wawancara internal lembaga tidak pernah lepas dari bagian menceritakan pengalaman kerja, gagasan dan tanggung jawab terkait tentang pekerjaan dahulu. Tidak mungkin pengalaman bekerja yang tak genap setahun mampu memberi jawaban yang mendekati sempurna. Karena berusaha tulus, lulus ya syukur, ga lulus ya tetap juga bersyukur dan menjaga semangat membuat penulis memberikan jawaban apa adanya, jauh dari kesan kemunafikan, karangan. Setiap penanya pasti punya strategi mengetahui tingkat kejujuran seberapa besar kebohongan pelamar saat berbicara, memberikan jawaban atau pernyataannya. Kelulusan hingga tahap akhir dan diterima sebagai bagian internal lembaga negara  tersebut penulis menyadarinya tidak bisa dilepaskan dari kontribusi lembaga yang sebelumnya mengajari nilai dan karakter integritas tadi. Soal pengembangan diri tentu menyesuaikan dengan budaya dan perspektif yang terbangun dalam tiap-tiap lembaga.

Gagasan Hukuman Mati Koruptor dalam Baju


Rumah Baru dan Perspektifnya

Dahulu saya belajar tentang setiap hal yang berkaitan dengan korupsi dan gagasan anti korupsi, kini saya belajar tentang hak asasi manusia. Dahulu saya mendukung hukuman mati bagi koruptor, kini dengan perspektif baru saya berusaha menjunjung tinggi perspektif lembaga, menolak hukuman mati, menghormati hak atas hidup tiap manusia di dunia. Walaupun kini tidak lagi setiap hari membaca berita korupsi, mencari literatur ilmiah tentang korupsi, nilai-nilai anti korupsi berusaha dipertahankan penulis, butuh waktu yang terus berproses, kedewasaan dengan konsistensi.
Terimakasih untuk segenap internal GEPAK, lembaga non pemerintah yang berfokus pada bidang anti korupsi dengan apapun yang telah dipertukarkan, diberikan pada penulis. Aktivis anti korupsi adalah orang yang paling sadar dan peka dengan kasus korupsi, kampanye anti korupsi. Semoga tetap menjunjung tinggi semangat anti korupsi, dimulai dari pengembangan nilai anti korupsi di internal dahulu, lembaga dan tiap-tiap orang di lembaga (kritik membangun). Dan tetap mempengaruhi positif bagi masyarakat, menyadarkan orang-orang bermental korup, ikut turun tangan membentuk pribadi yang berintegritas di Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar