Kamis, 04 September 2014

Membangun Standar KeIndonesia-an lewat Bahasa


Mengutip sepatah kalimat Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tahun 1928: Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Tulisan ini pantas diawali dari sejarah bangsa yang saat itu sedang berproses dalam pembentukan Indonesia sebagai bangsa dan negara, dan akhirnya satu kisah sejarah itu dapat diambil maknanya, menjadi pelajaran yang berguna sehingga sampai pada hari ini kita bisa menikmati dan terlibat di setiap aspek yang ada di tanah air Indonesia.
Kemajemukan Indonesia sudah diakui bersama oleh segenap penghuninya, mulai dari suku, aliran dan tradisi kebudayaan, agama, aliran kepercayaan. Saya mencoba membenturkan kemajemukan itu pada ego ke-aku-an, sikap-sikap primordial, gaya-gaya yang mementingkan suku, aliran dan tradisi kebudayaan, agama, aliran kepercayaan. Saat itu yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, kemungkinan besar Indonesia akan berusia muda, tak sampai usianya 69 tahun seperti sekarang ini. Tiap saat orang-orang Indonesia tak bisa hidup tenang, bukan soal konflik karena perbedaan yang menganga, justru tercipta kondisi dimana tak bersatunya visi orang-orang dalam KeIndonesiaannya. Ada orang batak menggunakan bahasa batak tiap saat, padahal disekitarnya tak mampu mengartikan bahasanya, pun begitu orang minang tiap saat berbahasa Minang padahal lawan bicaranya orang Jawa (Barat, Tengah, Timur). Ambon, Sulawesi, Papua, Mentawai, Nias, semua ego akan bahasanya masing-masing.
Keegoan tiap orang bersuku misal, berakibat pada kondisi dimana mereka tak mampu menyatukan atau mempertemukan apa yang ingin dibicarakan, apa yang diinginkan, apa yang direncanakan. Itulah pentingnya bahasa. Bahasa punya makna untuk menuangkan isi pikirannya, bahasa punya makna untuk dituangkan pada tulisan, bahasa bermakna memberi wujud suatu emosi, bahkan bahasa mampu menjadi pemersatu setiap yang berbeda, jikalau sekitarnya tak ingin menang sendiri, terlalu fanatis, terlalu primordial. Pemersatu itu hanya bahasa Indonesia. Tak bisa dibantah lagi, kembali pada sejarah yang sudah terlewati. Sejarah ada kemungkinan terhadap pengulangan, namun lebih besar kemungkinannya belajar pada sejarah bangsanya. Soekarno saja sudah mewarisi kalimat wejangan yang sering disebut Jas Merah yakni Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.
Sulit menilai sedalam apa, sebesar apa keIndonesiaan individu dalam jati diri dan praktek kehidupannya. Bagi penulis, ide-ide soal standar keIndonesiaan seseorang bisa dilihat dari hal paling nyata, paling sederhana, sepeduli apa dia dengan sekitarnya akan perbedaan, seperhatian apa dia dengan kelestarian bahasa bangsanya. Jika dari kecil kita diajarkan bahasa ibu (baca: bahasa daerah), dan sampai kita mati kita tak mengerti makna bahasa Indonesia, lebih terbuai akan pesona bahasa negeri orang,  pantas saya menyebut bumi pertiwi terus menangis. Kita hanya menikmati Indonesia dan isinya, tanpa tahu dan mau untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan, patriotism, dan apapun itu yang tujuannya mengutamakan kepentingan bangsa, bukan kepentingan sekelompok, segolongan, sesuku, seagama. Saya Batak, saya lahir di tanah Minang, tinggal di rantau tanah Betawi, dan saya Indonesia.

*Dari kisah nyata