Setiap tanggal 25 November, ditetapkan sebagai hari peringatan guru
Indonesia, yang ditandai dengan berdirinya organisasi Persatuan Guru Republik
Indonesia (PGRI). Tulisan ini tercetus karena
mengingat bapak dan mamakku yang berprofesi sebagai Guru. Trus, satu per satu
saya ingat wajah, sosok dan gaya mengajar guru-guru ku yang pernah ajar saya
sejak SD-SMA. 3 tahun bersekolah di SDN 76 Sarik (1996-1999), 3 tahunnya lagi
di SDS Budi Setia (1999-2002), SMPN 1 Luhak Nan Duo (2002-2005), SMAN 1 Pasaman
(2005-2008). Guru, profesi yang sangat saya segani dan banggakan, 12 tahun
diajar oleh orang-orang sabar untuk mengajari muridnya sampai mereka lupa
makan, magh dan darah tingginya sampe kambuh, mau gimanapun kondisinya mereka
tetap berjuang untuk berdiri di depan kelas, kadang nungguin muridnya di pintu
gerbang.
Dulu Guru itu katanya gak enak, gajinya kecil,
cukup-cukup buat makan atau beli sepeda, sampe ada lagu Oemar Bakri yang
mengisahkan kehidupan Guru. Tapi itu dulu, Guru sekarang sudah jadi pekerjaan
idaman karena gajinya udah gede. Jumlah mahasiswa di kampus-kampus bekas IKIP
bisa bersaing dengan kampus umum, contoh lain banyak orang meminati jurusan
Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Ya, kalo guru-guru jaman sekarang belum
masuk dalam kriteria guru idaman dan teladanku. Pengabdian tanpa bukti pasti
sulit untuk kukenang. Kecuali mungkin guru-guru muda yang udah atau sedang
mengajar di daerah terluar dan terpelosok Indonesia, itu baru anak muda, guru
pula, joss!
Profesi pertama yang saya kenal dan tau secara nyata
adalah Guru, sejak lahir sudah mengenal sekolah dan lingkungannya. Tahun 1990 saya
lahir di rumah dinas sekolahnya bapak dan tiap hari liat bapak berangkat-pulang
ngajar. Bertahun-tahun sebelum bapak mama punya rumah, lingkungan kecilku
adalah sekolah. Oemar Bakri sejati dikeluargaku adalah Bapak, kemudian mamak
mengikuti jejaknya Bapak. Dari jaman saya belum lahir bapak udah jadi Guru,
mungkin gajinya dulu kalo dibanding sekarang ya cukup beli paketan internet 3
Gb.
Masuk ke lingkungan sekolah sebagai siswa, selama 12
tahun bertemu dengan Guru-Guru yang secara formal mengajari banyak mata
pelajaran. Pulang sekolah, di rumah ketemu guru lagi. Setiap hari Guru, Guru
dan Guru, bangganya saya mengenal apa itu Guru, dan meneladani Guru dari setiap
didikan dan ajarnya. Pengabdian Guru semakin hari makin dihargai oleh
Pemerintah, kenyataan disisi lain juga masih ada Guru yang status dan
pendapatan kurang memadai untuk penghidupannya. Setidaknya Guru gak pernah ngeluh
kesah kayak driver Gojek atau buruh-buruh yang suka nuntut ini itu. Jadi,
Selamat Hari Guru untuk Bapak Mamak, Guru-guruku dari SD-SMA, dan Adekku Iin yang
kelak menjadi Guru.

