Makanan yang disebut donat jd salah satu makanan
kesukaanku, selain pisang goreng. Donat buatan pabrikan ternama dan buatan
rumahan tak punya nama, tak jadi soal. Kenikmatan donat tentu karena manis dan
lembutnya, ia manis karena ditaburi manisan dalam ragam jenis, misalnya pakai
gula putih, mises, coklat atau strawberry. Ia lembut karena keseimbangan adonan
bahannya, kalo tidak salah tepung terigu, telur, mentega. Saya lupa entah sejak
kapan pertama kali kenal donat, tapi sampai hari ini saya tetap tidak pernah
bosan untuk menyipinya.
Dari suatu kesukaan atau minat kadang lahir suatu
filosofi, dari makanan kesukaanku ini baru saja terpikir ada satu filosofi yang
terkandung atau inspirasi yang muncul. Filosofi donat ini mungkin lebih pas
kalo dikaitkan dengan hal percintaan khususnya bagi muda-mudi.
Kecantikan, keindahan, dan kelembutan paling disenangi
setiap orang kebanyakan, tapi agak kurang nyaman menyebut kemanisan. Paling
tidak sesuatu yang cantik, indah, dan lembut tidak jauh dari sesuatu hal yang
manis, dan harus kuakui juga kalo semua itu sifatnya subjektif. Tiap-tiap orang
punya nilai dan rasa sendiri.
Perempuan disebut manis bisa karena segala yang ada dalam
fisiknya menunjukkan kecantikan dan keindahan, bahkan dilengkapi lagi dengan
kelembutan yang merupakan sesuatu hal non fisik. Misalnya, tutur sapa,
kepekaan, dan perhatian. Menjadi tidak seimbang kalau yang ditemui dari
seseorang lebih dominan sesuatu yang cantik dan indah, kelembutan tidak pernah
jadi kebiasaan dan pembawaan.
Aku pernah menemui perempuan manis karena memang cantik
dan indahnya itu, tapi kelembutan jadi hal yang sulit untuk didapatkan.
Kelembutan sudah barang tentu sesuatu yang alami/ natural, jika kelembutan
tidak natural tidak beda jauh dengan robot, yang dibuat-buat. Begitupun dengan
donat, donat manis juga tidak selalu berasa lembut, kadang keras, bantat,
penyebabnya, karena pembuatannya yang tak sempurna. Setiap manusia tak sempurna pasti punya kerinduan akan kelembutan di dalam hidupnya.

