Rabu, 25 Desember 2013

menghayati Natal, mengimani Maknanya

Malam Natal 2013
Sebelum suatu tahun berganti ke tahun berikutnya, momen natal takkan bisa dilewatkan. Biasanya seminggu sebelum 25 desember suasana, bau, aroma natal mulai berasa. Kawan-kawan yang merayakan natal satu per satu bercerita agenda yang direncanakan untuk natalnya. Nonton tv, iklan, berita, ramai-ramai bermuatan tentang natal, musik-musik rohani tentang natal pun semakin sering terdengar. Lalu saat bepergian, di KRL ada pamflet iklan produk yang berwarna cerah dengan kombinasi gambar pohon natal atau lilin. Saat-saat seperti itu makin berasa sejak 3 atau 2 hari sebelum natal.  Dan 24 desember saat malam sebelum 25 desember yang biasa disebut malam natal, saat itu aroma natal makin menyengat.
Bagi siapapun yang merayakan natal sudah pasti mereka pun merasakan dan melewati itu semua. Ada beberapa mungkin yang menjadi pembedanya, beberapa bagian tidak dirasa semua orang. Gw terakhir ngerasain natal yang benar-benar natal itu 6 tahun lalu Desember 2007, saat itu gw masih tinggal serumah bersama keluarga kecil gw. Benar-benar ngerasain natal artinya gw ngerasain keriuhan orang-orang yang sedang mempersiapkan natalnya, dibeliin baju sama orang tua, pergi jalan-jalan dengan teman sepermainan, bersih-bersih rumah dan pekarangan, lantunan musik natal terus mengisi ruangan rumah. Selain keriuhan, gw jg saat itu masih ngerasain kebersamaan keluarga menyambut natal, masih sempat ibadah malam natal bersama keluarga di gereja lingkungan, sepulangnya berdoa di rumah, bercengkrama, dan esoknya kembali ke gereja untuk merayakan hari natal itu.
2008, tahun pertama gw ngerayain natal yang benar-benar sendiri, sampai tahun ini. Baju baru bukan lagi dibelikan langsung sama orang tua, sejak 5 tahun lalu sebelum natal dikirimin khusus sama orang tua buat beli baju baru dan harus beli sendiri. Soal peribadatan ke gereja, jelas bukan sama keluarga lagi. Kadang sendiri, kadang sama teman, kadang ga gereja sama sekali, suasana malam natal yang sendiri di dalam kamar dalam suasana sepi, lampu kamar sengaja dimatiin, nyalain sebatang lilin yang udah disiapin sebelumnya. Sebenernya pernah pengen beli pohon natal yang ukuran sangat-sangat mini, tapi belum kesampean sampe sekarang, karena kelupaan ga ada waktu dan kelupaan karena ga ada duit.
Mau bilang momen natal paling menyedihkan terlalu cengeng rasanya. Mau bilang momen natal menjengkelkan, ga tau diri rasanya. Mau bilang natal ga usah ada, gak punya iman namanya. Dijalanin dan dilewati, itu harus. Orang sibuk mendebatkan keabsahan hari kelahiran Tuhan Yesus, gw gamau ikutan kesana. Orang sibuk riuh-riuh perayaan natal, gw pasti ala kadarnya. Yang gw senangin dari natal tiap tahun, adek-adek gw bisa pulang ke rumah, kumpul keluarga ketemua orang tua ketemu adek bungsu. Udah rejeki mereka tiap tahun bisa pulang, rejeki gw idup di Jakarta dan konsekuensi nya ga bisa pulang kampung seenak jidat karena jauh dan mahalnya ongkos transportasi.
Satu lagi yang gw selalu syukurin dari natal setiap tahun karena gw masih bisa lihat orang berbahagia merayakan natal, masih bisa dengerin musik dan lagu natal, dan juga ikut ibadahnya walaupun gak sama keluarga. Bagi yang belum bisa rayain natal entah karena suatu alasan, gw tetep percaya Tuhan gak marah kalo mereka gak bisa rayain natal. Bagi yang rayain natalan moga gak sekedar ritual. Itu yang bikin gw bener-bener gak bisa lewatin momen malam natal untuk sendiri, masuk kamar, matikan lampu, nyalain sebatang lilin itu, lipat tangan lalu berbicara sama Tuhan lewat doa, asli teduh! Saat serius berdoa kadang terlintas ingatan sama keluarga di rumah, inget orang tua Bapak Mama, inget adek-adek si Duma, Iin, Agnes. Doa semakin kencang, ingatan itu pun makin kuat. Gak bisa dirasain di hari-hari lain. Keteduhan memang erat di malam natal dan perayaannya. Pesta pora memang dari kecil ga dibiasain di keluarga gw, kalopun mengarah ke pesta pora seperti disediain bir untuk tamu di rumah, bikin kue-kue sajian untuk tamu, beli baju dan semua-semuanya baru itu lebih sering di momen pergantian Tahun. Nah, ketika natal terlewati, Tahun pun dilewati, rasa syukur pun akan berlipat-lipat. Masih punya nafas, bisa lewatin satu tahun masuk  ke Tahun baru, introspeksi dan refleksi diri di dua momen yang berdekatan, Natal dan Tahun Baru.
Selamat Natal Pak, Ma, Duma, Iin, Agnes.
Selamat Natal buat siapapun yang merasakan keteduhan Natal itu.


Jumat, 06 Desember 2013

EYD Gado-gado

Catatan Semester I Bagian Pertama
Februari 2013, awal gw mulai studi pascasarjana di Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP, UI. Coba kembali ke masa sebelumnya yang sudah terlewat. Modal nekat, tanpa dana memadai, masih didukung sepenuhnya dana orangtua, tidak punya pekerjaan tetap, saat ada ujian SIMAK pascasarjana gw coba peruntungan untuk ikut tes itu. Modal nekat lalu saat pengumuman seleksi SIMAK gw diterima di Kampus UI, apalah namanya kalau bukan rejeki dan keberuntungan. Seminggu pertama studi pascasarjana diawali kuliah matrikulasi, tujuan diadakannya matrikulasi pada mahasiswa Ilmu Kesejahteraan sosial adalah untuk menyatukan pemahaman seluruh mahasiswa tentang disiplin ilmu Kesejahteraan sosial, mengingat latar belakang studi sarjana para mahasiswa sangat beraneka ragam, ada yang dari kalangan ilmu pendidikan, teknik, ilmu pemerintahan, filsafat, dan ekonomi.
Adaptasi merupakan hal lumrah bagi tiap orang yang memasuki dunia baru. Lingkungan baru tentu memiliki karakteristik masing-masing yang perlu dipelajari, disesuaikan dan diadaptasikan. Kampus baru menyediakan teman baru, sistem perkuliahan dan  corak interaksi yang baru pula. Perlu diketahui, gw masuk sebagai mahasiswa baru di semester genap saat tahun ajaran telah berlangsung 1 semester yakni pada tahun ajaran 2012/2013, dan kemudian langsung dipertemukan dengan kakak kelas/senior yang masuk di semester sebelumnya. Ibarat penumpang dan bis AKAP, gw naiknya bukan dari terminal, tapi naik di tengah jalan, langsung menyatu dengan penumpang yang sudah terlebih dahulu berada dalam bis itu. Konsekuensi bergabung dengan kakak kelas 1 semester katakanlah mereka senior adalah tingkat pemahaman mereka lebih banyak dibanding gw dan teman-teman seangkatan yang masuk di semester genap. Konsekuensi lainnya, gw dan teman seangkatan dituntut untuk menyesuaikan mata perkuliahan yang sudah dipaketkan oleh departemen. Padahal seharusnya sistem perkuliahan yang ideal adalah mencoba mengikuti mata perkuliahan sejak dari paket pertama, kedua, dan seterusnya. Untuk gw tidak, sudahlah anak baru, masuk ke lingkungan baru, dihadapkan dengan senior, lalu dituntut untuk segera adaptasi dengan mata perkuliahan yang telah dipaket, Setidaknya itulah proses yang sudah terlewati 1 semester, dan kini gw tidak lagi belajar dengan para senior-senior itu.
Ada saatnya sebagai adik kelas yang punya kakak kelas, sebaliknya juga ada. Kini, gw statusnya sebagai kakak kelas yang telah dulu 1 semester mengecap perkuliahan di Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial. Artinya, gw dan teman-teman seangkatan sudah memiliki adik kelas saat ini. Bagian ini belum mendapat porsi untuk dideskripsikan lebih lanjut dan mendalam. Porsi dalam bagian tulisan ini adalah mencoba merefleksi apa yang sudah terlewat di semester lalu dengan pengalaman-pengalaman yang sudah bertambah, dan tentu sangat terkait dengan para senior/kakak kelas gw yang kini kebanyakan dari mereka sedang mengerjakan proposal dan tesis mereka.
Memiliki senior juga punya manfaat yang tak bisa lupa dengan mudah. Dari sisi pengalaman, mereka kebanyakan telah berkecimpung dalam pergerakan dan organisasi yang beragam bentuknya di tengah masyarakat. Ada yang menggeluti dunia pendidikan, karyawan swasta, freelance, wirausaha, pekerja sosial, staf ahli kementerian dan DPR, dan aparatur pemerintah di berbagai institusi.  Dari sisi pengetahuan akademik dan non akademik jelas mereka lebih tahu banyak ketimbang gw, tidak ada salahnya mengakui kekurangan dan mencoba menutup kekurangan itu dengan memperbanyak interaksi melalui komunikasi dan kerjasama. Komunikasi dengan kontak langsung seperti diskusi, dan tugas kelompok menunjukkan makna kerjasama paling sederhana di ranah kampus. Berhubung di jurusan gw peminatannya ada beberapa, seperti peminatan perencanaan dan evaluasi program pembangunan, otonomi dan pembangunan lokal dan peminatan pengembangan masyarakat, kemiskinan-CSR, peminatan terakhir adalah merupakan peminatan gw di Departemen Ilmu Kessos. Pengalaman gw saat menjawab 1 pertanyaan dari dosen yakni alasan mengapa memilih peminatan tersebut, gw menjawabnya karena gw meminati tentang kemiskinan dan pengembangan masyarakat, masuk akal dan terkesan polos memang jawabannya.
Gw ga memungkiri jika dikalkulasi intensitas komunikasi dan kerjasama, dari beberapa senior yang ada, gw lebih sering bersama senior di 1 peminatan gw tadi, disitu gw banyak belajar tentang kemiskinan, comdev, dan CSR, kebanyakan dari mereka punya pengalaman dalam bidang itu. Sebaliknya dengan gw, tidak punya pengalaman banyak tentang itu. Bang Andreas, sebenarnya gw dua kali ketemu dia di 2 kampus berbeda. Sebelumnya, di UNJ dia telah menjadi senior gw, namun beda fakultas, dan di kampus UI gw dipertemukan lagi dengannya di departemen dan ruang kelas yang sama. Bang Andreas menjadi tempat gw bertanya tentang banyak hal, tidak saja soal kuliah di kampus, gw pernah diskusi tentang dinamika UN penuh masalah, pengalaman kerjanya sebagai pendidik di suatu sekolah. Yang gw salutin dari dia, kemampuannya membagi waktu sebagai kepala keluarga di rumahnya, sebagai pendidik di sekolahnya, dan sebagai mahasiswa di kampusnya ditambah dengan masing-masing tugas tiap peran. Bang Adnan dan Bang Andi, duo makassar ini menjadi kawan baru gw dari kawasan Indonesia Tengah. Logatnya yang khas, intonasi lantang, dan kental dengan kelihaian mereka dalam beretorika menjadi karakter unik mereka. Bagi gw pribadi, mereka punya andil besar dalam kelulusan gw di semester lalu, sejelek-jeleknya kelakuan gw sebagai mahasiswa adalah titip absen dan berbagi jawaban saat ujian akhir. Gw bukan bermaksud mengarahkan peran mereka dalam hal yang buruk, namun ingin menekankan betapa solidnya mereka terhadap orang-orang disekitarnya, tidak butuh balasan, yang diinginkan bagaimana orang lain bisa merasakan apa yang merasakan, tidak merasakan pengalaman buruk, contoh tidak lulus di suatu matakuliah karena absen bolong atau jawaban kosong saat ujian akhir.
Ada 1 orang yang paling berkesan selama pernah kuliah 1 semester dengannya, namanya Bang Arya. Gw mikirnya dia orang Jawa atau sunda, ternyata orang Manado dan logatnya udah kebawa logat Pulau Jawa, jadi maapkan gw bang kalo salah menduga latar belakang elu. Hal yang paling berkesan saat gw hampir alpa dalam pengumpulan tugas UAS. Itulah gunanya sapa-sapa di jejaring sosial. Pagi hari saat hari-H pengumpulan tugas bang arya nanyain ke kampus apa engga, pertanyaan itu bikin gw gelagapan karena setau gw udah ga ada jadwal pertemuan kuliah. Ternyata hari H itu hari untuk ngumpulin tugas UAS Perspektif Global, Lokal dan Nasional dalam kemiskinan, dan nyatanya juga gw belum ngerjain sama sekali, sepatah kata pun belum ada. Bukan lagi SKS Sistem Kebut Semalam, tapi SKBJ Sistem Kebut Beberapa Jam menuju ke Jam 5 Sore. Beberapa jam gw kerjain tugas itu selesai, dan gw kembali hubungin bang Arya untuk minta tolong print sekaligus ngumpulin tugas gw ke Departemen. Bayangin betapa tidak tau diuntungnya gw ke Bang Arya. Asli itu pengalaman berkesan dari Bang Arya! Motivasi bernilai spiritual pun tidak jarang dibagi ke gw saat-saat gw sering ketemu dengan dia.
Ada lagi bang eko, tampilannya kental dengan orang muda yang enerjik terutama dalam bidang wirausaha, setau gw dia sebagai pengusaha kopi di sekitaran kampus daerah Kukusan. Gw pernah 1 kelompok bareng dalam 1 matakuliah peminatan, penuh dengan inspirasi dan inovasi ketika bergabung 1 tim dengannya. Terlihat saat dia menyajikan materi dalam bentuk verbal dan visualisasi materi, tidak ada salahnya mencontoh yang sudah ada dan harus bermakna positif tentunya. Kalo mbak-mbak senior di peminatan gw, ada mbak novi, mbak ini sering dijodohin sama bang eko. Nah kalo yang ini gw gatau kebenarannya sampai dimana. Mbak novi, logat jawanya medok banget, mirip sari asal jember teman seangkatan gw, kalau mbak novi sepertinya dari daerah Jogja. Secara fisik, kayak perempuan jawa pada umumnya, item manis ayu gitu lah pokoknya. Nah kalo mbak fidi gw ingetnya itu dia lulusan Unpad Kesos, punya turunan padang, dia kenal sama teman 1 SMA gw namanya Sutan yang kebetulan mereka pernah kerja bareng di 1 projek di Unpad. Trus temen yang sering bareng mbak Fidi namanya Mbak Lita, perempuan berkacamata ini kayaknya paling bawel deh diantara senior perempuan yang lain. Mau itu kalo melontarkan pertanyaan di kelas ataupun saat diskusi, bercanda. Dan itu mungkin udah jadi ciri khas mbak Lita. Kalo dari pihak laki-lakinya, ada bang Abi yang mirip karakternya dengan mbak Lita, sama-sama bawel tapi pembawaan bang Abi lebih kalem terlihat saat vokal di kelas volume suaranya kecil dan intonasinya pelan. Nah, ada lagi yang bener-bener kalem, oranngya itu mbak Tri, Bawaannya Jawa Banget, lulusan sosiatri UGM, kerja di kemensos, sayangnya emang gw belum pernah satu tim kerja dengan dia di perkuliahan, sering interaksinya kalau di luar kelas contoh saat gw datang kepagian di kuliah MPS 2 yang jadwalnya jam 2 tapi gw udah datang jam 1 dan mbak Tri udah datang lebih dulu. Sosok terakhir dalam tulisan ini, mungkin dia adalah icon dari peminatan kami. Namanya Om Bungen, kenapa gw panggil om. Dari usia emang beliau paling senior, tapi sikap dan tingkahnya anak muda banget, bisa nyesuain dengan adek-adekunya. Karakter khasnya itu jago maen sulap kartu, tapi sampai sekarang gw ga dapat triknya gimana.
Sekian dulu tulisan yang menceritakan pengalaman belajar bersama senior yang menjadi kawan-kawan 1 semester ketika gw masuk di Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP. Masih banyak nama-nama yang harusnya masuk di tulisan ini dan mengupas sedikit profil masing-masingnya, namun apa daya kemampuan imaginasi dan kemampuan menuliskannya sangat terbatas. Setidaknya, bagian tulisan ini ingin menyampaikan begitu berharganya sesama yang berada di sekitar kita. Pergaulan yang tidak ditentukan materi, namun jangan sampai pergaulan tidak bisa memberikan manfaat apa-apa buat pribadi kita, ilmu wawasan dan pengalaman merupakan manfaat yang justru tak punya nilai, karena uang tidak mampu membeli semuanya. Sekian dari penulis.