Sabtu, 16 Januari 2016

Holong Nasian Tuhan Cipt. Bulan Panjaitan


Sada do sirondang ni bulan
Sada do sinondang ni bintang
Tong do sasada ho di rohakki
Ho do bulan, ho do bintang di rohakki

Tung ganjang pe pardalan hu
Tung marragam si doli (boru) hutanda
Tong do ho naro hot di rohakki
Holan ho ito holan ho sasada ho

Reff:
Tung buni pe au, di asal ni porhis
Molo na gabe ho ito, sirokkap ni tondikki
Na ikkon do pajuppang

Tung dao pe au, disi hadaoan
Najonok do i ito, molo saroha hita on
Dibagasan holong i
Na ikkon do marokkap, holong na sian Tuhan i
Na ikkon do marokkap, holong na sian Tuhan i

Sabtu, 05 Desember 2015

Manis Tak Selalu Lembut



Makanan yang disebut donat jd salah satu makanan kesukaanku, selain pisang goreng. Donat buatan pabrikan ternama dan buatan rumahan tak punya nama, tak jadi soal. Kenikmatan donat tentu karena manis dan lembutnya, ia manis karena ditaburi manisan dalam ragam jenis, misalnya pakai gula putih, mises, coklat atau strawberry. Ia lembut karena keseimbangan adonan bahannya, kalo tidak salah tepung terigu, telur, mentega. Saya lupa entah sejak kapan pertama kali kenal donat, tapi sampai hari ini saya tetap tidak pernah bosan untuk menyipinya.
 
Dari suatu kesukaan atau minat kadang lahir suatu filosofi, dari makanan kesukaanku ini baru saja terpikir ada satu filosofi yang terkandung atau inspirasi yang muncul. Filosofi donat ini mungkin lebih pas kalo dikaitkan dengan hal percintaan khususnya bagi muda-mudi. 

Kecantikan, keindahan, dan kelembutan paling disenangi setiap orang kebanyakan, tapi agak kurang nyaman menyebut kemanisan. Paling tidak sesuatu yang cantik, indah, dan lembut tidak jauh dari sesuatu hal yang manis, dan harus kuakui juga kalo semua itu sifatnya subjektif. Tiap-tiap orang punya nilai dan rasa sendiri. 

Perempuan disebut manis bisa karena segala yang ada dalam fisiknya menunjukkan kecantikan dan keindahan, bahkan dilengkapi lagi dengan kelembutan yang merupakan sesuatu hal non fisik. Misalnya, tutur sapa, kepekaan, dan perhatian. Menjadi tidak seimbang kalau yang ditemui dari seseorang lebih dominan sesuatu yang cantik dan indah, kelembutan tidak pernah jadi kebiasaan dan pembawaan. 

Aku pernah menemui perempuan manis karena memang cantik dan indahnya itu, tapi kelembutan jadi hal yang sulit untuk didapatkan. Kelembutan sudah barang tentu sesuatu yang alami/ natural, jika kelembutan tidak natural tidak beda jauh dengan robot, yang dibuat-buat. Begitupun dengan donat, donat manis juga tidak selalu berasa lembut, kadang keras, bantat, penyebabnya, karena pembuatannya yang tak sempurna. Setiap manusia tak sempurna pasti punya kerinduan akan kelembutan di dalam hidupnya.

Rabu, 25 November 2015

Selamat Hari Guru!



Setiap tanggal 25 November, ditetapkan sebagai hari peringatan guru Indonesia, yang ditandai dengan berdirinya organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).  Tulisan ini tercetus karena mengingat bapak dan mamakku yang berprofesi sebagai Guru. Trus, satu per satu saya ingat wajah, sosok dan gaya mengajar guru-guru ku yang pernah ajar saya sejak SD-SMA. 3 tahun bersekolah di SDN 76 Sarik (1996-1999), 3 tahunnya lagi di SDS Budi Setia (1999-2002), SMPN 1 Luhak Nan Duo (2002-2005), SMAN 1 Pasaman (2005-2008). Guru, profesi yang sangat saya segani dan banggakan, 12 tahun diajar oleh orang-orang sabar untuk mengajari muridnya sampai mereka lupa makan, magh dan darah tingginya sampe kambuh, mau gimanapun kondisinya mereka tetap berjuang untuk berdiri di depan kelas, kadang nungguin muridnya di pintu gerbang. 

Dulu Guru itu katanya gak enak, gajinya kecil, cukup-cukup buat makan atau beli sepeda, sampe ada lagu Oemar Bakri yang mengisahkan kehidupan Guru. Tapi itu dulu, Guru sekarang sudah jadi pekerjaan idaman karena gajinya udah gede. Jumlah mahasiswa di kampus-kampus bekas IKIP bisa bersaing dengan kampus umum, contoh lain banyak orang meminati jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Ya, kalo guru-guru jaman sekarang belum masuk dalam kriteria guru idaman dan teladanku. Pengabdian tanpa bukti pasti sulit untuk kukenang. Kecuali mungkin guru-guru muda yang udah atau sedang mengajar di daerah terluar dan terpelosok Indonesia, itu baru anak muda, guru pula, joss!

Profesi pertama yang saya kenal dan tau secara nyata adalah Guru, sejak lahir sudah mengenal sekolah dan lingkungannya. Tahun 1990 saya lahir di rumah dinas sekolahnya bapak dan tiap hari liat bapak berangkat-pulang ngajar. Bertahun-tahun sebelum bapak mama punya rumah, lingkungan kecilku adalah sekolah. Oemar Bakri sejati dikeluargaku adalah Bapak, kemudian mamak mengikuti jejaknya Bapak. Dari jaman saya belum lahir bapak udah jadi Guru, mungkin gajinya dulu kalo dibanding sekarang ya cukup beli paketan internet 3 Gb. 

Masuk ke lingkungan sekolah sebagai siswa, selama 12 tahun bertemu dengan Guru-Guru yang secara formal mengajari banyak mata pelajaran. Pulang sekolah, di rumah ketemu guru lagi. Setiap hari Guru, Guru dan Guru, bangganya saya mengenal apa itu Guru, dan meneladani Guru dari setiap didikan dan ajarnya. Pengabdian Guru semakin hari makin dihargai oleh Pemerintah, kenyataan disisi lain juga masih ada Guru yang status dan pendapatan kurang memadai untuk penghidupannya. Setidaknya Guru gak pernah ngeluh kesah kayak driver Gojek atau buruh-buruh yang suka nuntut ini itu. Jadi, Selamat Hari Guru untuk Bapak Mamak, Guru-guruku dari SD-SMA, dan Adekku Iin yang kelak menjadi Guru.

Rabu, 08 Juli 2015

Akulah Neon Kolong Langit, Terimakasih Kapal Api!



            Tiap orang yang berkuliah, pada akhir masa studinya punya kewajiban untuk membuat suatu karya akademik yang siap untuk diuji dan dipublikasi. Dinamika mahasiswa tingkat akhir, biasanya tak jauh dari rasa malas, mood kembang kempis, atau bagi yang sedang bekerja alasan sibuk sering menjadi alasan atas leletnya penyelesaian studi (tugas akhirnya).  Dan biasanya lagi, menjelang masa studi yang akan habis, mahasiswa macam begitu akan berpikir ulang, memenuhi kewajibannya dengan menyelesaiakan tugas akhir atau meninggalkan semuanya itu. Bagi saya pribadi, sempat berpikir untuk meninggalkan status mahasiswa, kewajiban menyelesaikan tugas akhir, menanggalkan harapan untuk mendapatkan ijazah atau ikut rutinitas wisuda.
            Terhitung per Februari 2015, merupakan semester baru buat saya, setelah menyelesaikan studi dalam masa 4 semester tak tercapai. Semester baru saya mulai bimbingan tugas akhir dengan Pembimbing pada 4 Februari 2015, sebelum kemudian menghilang dalam waktu yang tidak terlalu singkat. Untuk membangun mood dan semangat studi akhir, pada periode wisuda Februari 2015 saya sudah berencana untuk menghadiri wisuda rekan seangkatan, rencana hanya manusia yang punya kuasa, lebih dari itu tak punya kuasa apapun. Pada hari yang sama dengan pelaksanaan wisuda Februari 2015, saya ditugaskan mendadak sebagai buruh abdi negara untuk pemantauan dan penyelidikan kasus bentrokan di wilayah Lampung, tepatnya Lampung Timur. Alhasil, saya tidak dapat melihat pelaksanaan wisuda saat itu, tidak dapat abadikan momen kebahagiaan rekan seangkatan yang diwisuda, sedihnya juga tidak dapat membangun semangat, mood sebagai mahasiswa yang harus menunaikan kewajibannya.
            Februari, Maret, April 2015 saya habiskan waktu dan fokus benar-benar untuk pekerjaan kantor dalam pengabdian penegakan Hak Asasi Manusia. Kembali mengingat yang telah terlewat, saya diberi tugas  Pemantauan dan Penyelidikan pada akhir Maret ke Kendari, Sulawesi Tenggara, pada awal April mengikuti tugas Training HAM Dasar di Bogor, Jawa Barat. Selama beberapa bulan itu, saya lupa bahwa saya mahasiswa, saya lupa masih punya ‘hutang’ pada banyak pihak, kepada Pembimbingku, orangtuaku, lembaga tempat saya bekerja, dan pada negara. Hutang, ketika tidak terbayar tentu menjadi beban moril bagi siapapun yang berhutang. Satu hal yang ternyata membuat pusing dan berdosa bukan kepalang, ketika Dosen Pembimbingmu menanyai kabarmu, bagaimana perkembangan tugas akhir, kendalanya apa, apakah sudah turun lapangan, lalu diakhiri dengan saran agar segera membawa perkembangannya kehadapan Pembimbing. Karena saya berbohong pada Pembimbing, itulah dosa yang saya maksud, selama beberapa bulan menghilang dari radar Pembimbing, tidak ada  perkembangan berarti atas pengerjaan tugas akhir itu, hanya 7 lembar untuk bab 3 Gambaran Lokasi Penelitian. Kebohongan itu dilakukan sebagai cara membentengi diri agar tidak terpojok ketika ditanyai kabar oleh Pembimbing. Parah! Maafkan saya Mba Sari (Viciawati Machdum), Pembimbingku.   
            Sari (Dewi Poerwanti), dia rekan seangkatan di Program Pascasarajana Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP UI, adalah orang yang dipakai Tuhan untuk menyembuhkan kelupaan atas tugas akhir yang disengaja. Pertengahan April 2015, kalau tidak salah tanggalnya 12 April 2015 kami berkontakan via jejaring WhatsApp. Sejak tanggal itu saya rutin bertukar informasi terkait teknis dan substansi pengerjaan tesis, pertukaran kabar dan informasi dengan rekan seangkatan cukup ampuh dalam membangun dan menjaga semangat-mood, beda cerita ketika berjalan sendirian tanpa tahu perkembangan rekan yang senasib, memang berjuang sendiri-sendiri juga ya.
            Dengan waktu setengah April, Full Mei dan setengah Juni saya gunakan untuk mengejar ketertinggalan yang disengaja selama hampir 1 semester. Dalam waktu tersebut saya turun lapangan, ketemu para informan, menuliskan temuan dan analisa, semua kegiatan itu takkan bisa kau hindari ketika rill mengerjakan tugas akhir (studi kasus/ deskriptif/ analisa lapangan, jika banyak berbeda dari itu tentu diragukan juga keasliannya. 25 Mei 2015, akhirnya ketemu Pembimbing lagi, beberapa bulan takut untuk menghadap Pembimbing karena memang tidak ada bahan materi yang hendak dibimbingkan.
            Sepulang dari bimbingan, ternyata efeknya luar biasa, melengkapi efek dari komunikasi yang sebelumnya sudah terjalin dengan rekan seangkatan. Dalam waktu 4 hari, pada 29 Mei 2015 kembali saya membawa perkembangan tesis untuk dibimbing oleh Pembimbing. Walau pengerjaannya terkesan instan, keaslian dan keakuratan penelitian tak perlu diragukan. Berkat kopi Kapal Api saya mampu menuliskan banyak halaman dari jam 5 sore sampai jam 3 pagi, saya benar-benar bagai lampu neon yang tak kunjung padam demi meluluskan diri. 4 Juni 2015 saya dapat ACC tesis siap uji, via email oleh Pembimbing yang kebetulan sedang dinas luar kota, ACC tesis itu diperkuat dengan bubuhan (scan) tanda tangan Pembimbing yang diberikan oleh staf Departemen Mas Cece.
            Tak butuh waktu lama, jadwal ujian tesis saya keluar. Pada tanggal (dua puluh-an) Juni saya mempertanggungjawabkan tugas akhir dihadapan para dosen yang kami sebut Dewan Penguji. Bersyukur, pada saat itu saya dinyatakan lulus (dengan catatan revisi). Mengerjakan revisi, menghampiri tiap-tiap Penguji, dan Mengejar Tanda Tangannya, dengan satu tujuan, agar dapat menyerahkan tesis ke para pihak yakni Perpustakaan Pusat, Fakultas, Departemen dan Pembimbing dalam bentuk tercetak dan CD.
Sekarang, saya sudah lega dengan beban moril itu, kelulusan ini teristimewa buat keluargaku ini, Bapak T. Tamba, S.Pd., Mama L. Br. Sianturi S.Pd., dan ketiga orang adik saya, Duma Br. Tamba S.Ap., Iin Br. Tamba, Agnesia Br. Tamba, terimakasih atas doa dan semangat yang selalu diberikan kepada penulis. Buat Bapak Mama, maafkan saya tidak bisa lulus tepat waktu dan buat adik-adikku agar tetap semangat belajarnya. Selanjutnya kepada Ibu Dr. Sari Viciawati Machdum, M.Si selaku dosen pembimbing tesis saya. Penulis berterimakasih karena sejak awal telah bersedia menjadi dosen pembimbing, menjadi orang yang selalu mengingatkan, memberikan waktu untuk bimbingan, saran dan masukan yang sangat berarti dalam membangun studi penelitian ini sehingga dapat berguna bagi dunia akademis serta secara pribadi menjadi panutan penulis untuk terus memperdalam wawasan dalam rangka pengembangan kapasitas dan kapabilitas diri. Kepada para Dosen Penguji penelitian Tesis penulis, Bapak Sofyan Cholid, S.Sos, M.Si, sebagai Penguji Ahli Tesis. Ketua Sidang Ujian Tesis Ibu Dra. Ety Rahayu, M.Si, dan Ibu Getar Hati S.Sos, M.Kesos sebagai Sekretaris Sidang Ujian Tesis, terimakasih atas masukan dan saran yang telah diberikan kepada penulis untuk adanya perbaikan dan penyempurnaan hasil penelitian ini. Dan seluruh dosen di Program Magister Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial yang telah membagikan ilmunya selama penulis menjalani perkuliahan. Dan para Staf Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial yang telah membantu penulis dalam urusan administrasi akademis sejak awal hingga akhir perkuliahan, Mba Valent, Mas Cece dan Mas Tinton. (Paragraf terakhir dikutip dari Kata Pengantar Tesis milik Penulis).

 Rawamangun-Cipinang Besar Selatan-Depok
           

           

Sabtu, 20 Juni 2015

Gerah, Polisi dan Jokowi



Karena saya gerah, maka saya menulis. Saya gerah dengan kinerja aparat kepolisian dalam mengungkap kasus-kasus yang terlanjur ke publik. Tahun 2015 sudah berjalan setengah tahun, banyak kasus yang tak mampu diungkap oleh Kepolisian, jika ingin berbahasa santun, pernyataannya begini “Kinerja Kepolisian Lamban”. Akhir bulan Maret 2015, seorang mahasiswa jurusan Biologi FMIPA Universitas Indonesia ditemukan dalam kondisi tewas mengambang di danau UI, setelah berbulan-bulan  aparat Polresta Depok baru berani menyimpulkan bahwa korban diduga dibunuh, akhirnya penanganan kasus itu ditingkatkan ke tahap penyidikan. Hingga saat ini Polisi belum mampu mengungkap siapa pelaku atas pembunuhan korban, kelihatannya kemampuan analisa mereka di bawah kemampuan si pelaku, sampai-sampai waktu yang begitu lama habis terbuang untuk mengurus tulisan dan tanda tangan diselembar kertas yang menjadi penguat asumsi bahwa korban tewas akibat bunuh diri.
 
Dari Depok mari kita berpindah sejenak ke wilayah Ciledug, Tangerang. Awal juni seorang remaja putri ditemukan tewas tergorok di dalam rumahnya, sama dengan kasus Depok tadi, Kepolisian juga belum mampu mengungkap pelakunya. Remaja 13 tahun itu bukan korban tunggal. Saat jasadnya ditemukan, ada korban lain seorang pria kakak dari korban putri. Nasib remaja tanggung itu agak lebih baik, nyawanya berhasil diselamatkan tim medis RS. Polri. 

Selang beberapa hari atas tewasnya putri di Ciledug, di Bali ditemukan seorang gadis mungil dalam kondisi meninggal dunia, kondisi jasadnya terbenam dalam lubang galian di belakang rumah keluarganya. Untuk kasus ini, Penyidik dari Polresta Bali yang dibantu oleh Polda Bali telah menetapkan dua orang tersangka, pembantu di rumah korban dan ibu angkat korban, baru beberapa hari ini tim inafis Polri dilibatkan untuk mencari bukti-bukti baru disekitar TKP penemuan jasad korban. Pasal yang dikenakan kepada kedua tersangka tadi berbeda-beda, untuk pembantu dikenakan soal penganiayaan yang menyebabkan orang lain meninggal dunia, sedangkan ibu angkatnya dikenai pasal soal penelantaran anak.

Ketiga kasus tersebut dekat kaitannya dengan dugaan perbuatan pembunuhan, dan penting juga untuk tidak mengabaikan asas praduga tak bersalah terhadap orang-orang yang diduga sebagai pelaku pembunuhan, sampai Kepolisian berani menetapkan tersangka atas temuan-temuan bukti dan mengajukannya ke muka Pengadilan. Disana para hakim si wakil tuhan akan menentukan dan menyimpulkan status seorang atau beberapa terdakwa benar melakukan kesalahan dan seberapa besar ganjarannya. 

Lambatnya penanganan ketiga kasus tadi berbanding terbalik dengan sedemikian cepatnya publik ramai-ramai menyorotinya. Prinsip kehati-hatian menjadi tameng Kepolisian agar publik sepenuhnya mempercayakan penanganan kasus kepada Polisi sekaligus  agar memaklumi kinerja yang dapat kita simpulkan sementara. Terbersit pemikiran saya soal kualitas kerja Polisi-Polisi Indonesia, apakah karena minat masyarakat untuk menjadi Polisi membludak sehingga tiap orang berlomba untuk masuk, dan terbuka peluang masuk dengan cara tak benar? Atau karena minat banyak orang untuk melamar menjadi Polisi begitu minim, sehingga orang-orang yang berkualitas tidak terjaring dalam institusi tersebut. Tanyakan pada Jokowi, tak mungkin juga bertanya pada Akseyna, Putri dan Angeline, yang sudah tenang di Rumah Tuhan.

Saya berharap 7x24 jam setelah publikasi tulisan ini, Polisi dapat mengungkap pelaku atas masing-masing kasus yang telah disampaikan secara sederhana tadi.