Tiap
orang yang berkuliah, pada akhir masa studinya punya kewajiban untuk membuat
suatu karya akademik yang siap untuk diuji dan dipublikasi. Dinamika mahasiswa
tingkat akhir, biasanya tak jauh dari rasa malas, mood kembang kempis, atau bagi yang sedang bekerja alasan sibuk
sering menjadi alasan atas leletnya penyelesaian studi (tugas akhirnya). Dan biasanya lagi, menjelang masa studi yang
akan habis, mahasiswa macam begitu akan berpikir ulang, memenuhi kewajibannya
dengan menyelesaiakan tugas akhir atau meninggalkan semuanya itu. Bagi saya
pribadi, sempat berpikir untuk meninggalkan status mahasiswa, kewajiban
menyelesaikan tugas akhir, menanggalkan harapan untuk mendapatkan ijazah atau
ikut rutinitas wisuda.
Terhitung
per Februari 2015, merupakan semester baru buat saya, setelah menyelesaikan
studi dalam masa 4 semester tak tercapai. Semester baru saya mulai bimbingan
tugas akhir dengan Pembimbing pada 4 Februari 2015, sebelum kemudian menghilang
dalam waktu yang tidak terlalu singkat. Untuk membangun mood dan semangat studi akhir, pada periode wisuda Februari 2015
saya sudah berencana untuk menghadiri wisuda rekan seangkatan, rencana hanya
manusia yang punya kuasa, lebih dari itu tak punya kuasa apapun. Pada hari yang
sama dengan pelaksanaan wisuda Februari 2015, saya ditugaskan mendadak sebagai
buruh abdi negara untuk pemantauan dan penyelidikan kasus bentrokan di wilayah
Lampung, tepatnya Lampung Timur. Alhasil, saya tidak dapat melihat pelaksanaan
wisuda saat itu, tidak dapat abadikan momen kebahagiaan rekan seangkatan yang
diwisuda, sedihnya juga tidak dapat membangun semangat, mood sebagai mahasiswa
yang harus menunaikan kewajibannya.
Februari,
Maret, April 2015 saya habiskan waktu dan fokus benar-benar untuk pekerjaan
kantor dalam pengabdian penegakan Hak Asasi Manusia. Kembali mengingat yang
telah terlewat, saya diberi tugas Pemantauan dan Penyelidikan pada akhir Maret ke
Kendari, Sulawesi Tenggara, pada awal April mengikuti tugas Training HAM Dasar
di Bogor, Jawa Barat. Selama beberapa bulan itu, saya lupa bahwa saya
mahasiswa, saya lupa masih punya ‘hutang’ pada banyak pihak, kepada
Pembimbingku, orangtuaku, lembaga tempat saya bekerja, dan pada negara. Hutang, ketika tidak terbayar tentu menjadi beban moril bagi siapapun yang
berhutang. Satu hal yang ternyata membuat pusing dan berdosa bukan kepalang, ketika Dosen
Pembimbingmu menanyai kabarmu, bagaimana perkembangan tugas akhir, kendalanya apa, apakah sudah turun lapangan, lalu diakhiri
dengan saran agar segera membawa perkembangannya kehadapan Pembimbing. Karena
saya berbohong pada Pembimbing, itulah dosa yang saya maksud, selama beberapa
bulan menghilang dari radar Pembimbing, tidak ada perkembangan berarti atas
pengerjaan tugas akhir itu, hanya 7 lembar untuk bab 3 Gambaran Lokasi
Penelitian. Kebohongan itu dilakukan sebagai cara membentengi diri agar tidak
terpojok ketika ditanyai kabar oleh Pembimbing. Parah! Maafkan saya Mba Sari
(Viciawati Machdum), Pembimbingku.
Sari
(Dewi Poerwanti), dia rekan seangkatan di Program Pascasarajana Ilmu
Kesejahteraan Sosial, FISIP UI, adalah orang yang dipakai Tuhan untuk
menyembuhkan kelupaan atas tugas akhir yang disengaja. Pertengahan April 2015,
kalau tidak salah tanggalnya 12 April 2015 kami berkontakan via jejaring WhatsApp.
Sejak tanggal itu saya rutin bertukar informasi terkait teknis dan substansi
pengerjaan tesis, pertukaran kabar dan informasi dengan rekan seangkatan cukup
ampuh dalam membangun dan menjaga semangat-mood,
beda cerita ketika berjalan sendirian tanpa tahu perkembangan rekan yang
senasib, memang berjuang sendiri-sendiri juga ya.
Dengan
waktu setengah April, Full Mei dan setengah
Juni saya gunakan untuk mengejar ketertinggalan yang disengaja selama hampir 1
semester. Dalam waktu tersebut saya turun lapangan, ketemu para informan,
menuliskan temuan dan analisa, semua kegiatan itu takkan bisa kau hindari
ketika rill mengerjakan tugas akhir (studi kasus/ deskriptif/ analisa lapangan,
jika banyak berbeda dari itu tentu diragukan juga keasliannya. 25 Mei 2015,
akhirnya ketemu Pembimbing lagi, beberapa bulan takut untuk menghadap
Pembimbing karena memang tidak ada bahan materi yang hendak dibimbingkan.
Sepulang
dari bimbingan, ternyata efeknya luar biasa, melengkapi efek dari komunikasi
yang sebelumnya sudah terjalin dengan rekan seangkatan. Dalam waktu 4 hari,
pada 29 Mei 2015 kembali saya membawa perkembangan tesis untuk dibimbing oleh
Pembimbing. Walau pengerjaannya terkesan instan, keaslian dan keakuratan
penelitian tak perlu diragukan. Berkat kopi Kapal Api saya mampu menuliskan
banyak halaman dari jam 5 sore sampai jam 3 pagi, saya benar-benar bagai lampu
neon yang tak kunjung padam demi meluluskan diri. 4 Juni 2015 saya dapat ACC
tesis siap uji, via email oleh Pembimbing yang kebetulan sedang dinas luar
kota, ACC tesis itu diperkuat dengan bubuhan (scan) tanda tangan Pembimbing yang diberikan oleh staf Departemen Mas
Cece.
Tak
butuh waktu lama, jadwal ujian tesis saya keluar. Pada tanggal (dua puluh-an) Juni
saya mempertanggungjawabkan tugas akhir dihadapan para dosen yang kami sebut
Dewan Penguji. Bersyukur, pada saat itu saya dinyatakan lulus (dengan catatan
revisi). Mengerjakan revisi, menghampiri tiap-tiap Penguji, dan Mengejar Tanda
Tangannya, dengan satu tujuan, agar dapat menyerahkan tesis ke para pihak yakni
Perpustakaan Pusat, Fakultas, Departemen dan Pembimbing dalam bentuk tercetak
dan CD.
Sekarang, saya sudah lega dengan beban moril itu, kelulusan
ini teristimewa buat keluargaku ini, Bapak T. Tamba, S.Pd., Mama L. Br.
Sianturi S.Pd., dan ketiga orang adik saya, Duma Br. Tamba S.Ap., Iin Br. Tamba,
Agnesia Br. Tamba, terimakasih atas doa dan semangat yang selalu diberikan
kepada penulis. Buat Bapak Mama, maafkan saya tidak bisa lulus tepat waktu dan
buat adik-adikku agar tetap semangat belajarnya. Selanjutnya kepada Ibu Dr. Sari
Viciawati Machdum, M.Si selaku dosen pembimbing tesis saya. Penulis
berterimakasih karena sejak awal telah bersedia menjadi dosen pembimbing,
menjadi orang yang selalu mengingatkan, memberikan waktu untuk bimbingan, saran
dan masukan yang sangat berarti dalam membangun studi penelitian ini sehingga
dapat berguna bagi dunia akademis serta secara pribadi menjadi panutan penulis
untuk terus memperdalam wawasan dalam rangka pengembangan kapasitas dan
kapabilitas diri. Kepada para Dosen Penguji penelitian Tesis penulis, Bapak
Sofyan Cholid, S.Sos, M.Si, sebagai Penguji Ahli Tesis. Ketua Sidang Ujian
Tesis Ibu Dra. Ety Rahayu, M.Si, dan Ibu Getar Hati S.Sos, M.Kesos sebagai
Sekretaris Sidang Ujian Tesis, terimakasih atas masukan dan saran yang telah
diberikan kepada penulis untuk adanya perbaikan dan penyempurnaan hasil
penelitian ini. Dan seluruh dosen di Program Magister Departemen Ilmu
Kesejahteraan Sosial yang telah membagikan ilmunya selama penulis menjalani
perkuliahan. Dan para Staf Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial yang telah
membantu penulis dalam urusan administrasi akademis sejak awal hingga akhir
perkuliahan, Mba Valent, Mas Cece dan Mas Tinton. (Paragraf terakhir dikutip dari Kata Pengantar Tesis milik Penulis).

Rawamangun-Cipinang Besar Selatan-Depok