Rabu, 08 Juli 2015

Akulah Neon Kolong Langit, Terimakasih Kapal Api!



            Tiap orang yang berkuliah, pada akhir masa studinya punya kewajiban untuk membuat suatu karya akademik yang siap untuk diuji dan dipublikasi. Dinamika mahasiswa tingkat akhir, biasanya tak jauh dari rasa malas, mood kembang kempis, atau bagi yang sedang bekerja alasan sibuk sering menjadi alasan atas leletnya penyelesaian studi (tugas akhirnya).  Dan biasanya lagi, menjelang masa studi yang akan habis, mahasiswa macam begitu akan berpikir ulang, memenuhi kewajibannya dengan menyelesaiakan tugas akhir atau meninggalkan semuanya itu. Bagi saya pribadi, sempat berpikir untuk meninggalkan status mahasiswa, kewajiban menyelesaikan tugas akhir, menanggalkan harapan untuk mendapatkan ijazah atau ikut rutinitas wisuda.
            Terhitung per Februari 2015, merupakan semester baru buat saya, setelah menyelesaikan studi dalam masa 4 semester tak tercapai. Semester baru saya mulai bimbingan tugas akhir dengan Pembimbing pada 4 Februari 2015, sebelum kemudian menghilang dalam waktu yang tidak terlalu singkat. Untuk membangun mood dan semangat studi akhir, pada periode wisuda Februari 2015 saya sudah berencana untuk menghadiri wisuda rekan seangkatan, rencana hanya manusia yang punya kuasa, lebih dari itu tak punya kuasa apapun. Pada hari yang sama dengan pelaksanaan wisuda Februari 2015, saya ditugaskan mendadak sebagai buruh abdi negara untuk pemantauan dan penyelidikan kasus bentrokan di wilayah Lampung, tepatnya Lampung Timur. Alhasil, saya tidak dapat melihat pelaksanaan wisuda saat itu, tidak dapat abadikan momen kebahagiaan rekan seangkatan yang diwisuda, sedihnya juga tidak dapat membangun semangat, mood sebagai mahasiswa yang harus menunaikan kewajibannya.
            Februari, Maret, April 2015 saya habiskan waktu dan fokus benar-benar untuk pekerjaan kantor dalam pengabdian penegakan Hak Asasi Manusia. Kembali mengingat yang telah terlewat, saya diberi tugas  Pemantauan dan Penyelidikan pada akhir Maret ke Kendari, Sulawesi Tenggara, pada awal April mengikuti tugas Training HAM Dasar di Bogor, Jawa Barat. Selama beberapa bulan itu, saya lupa bahwa saya mahasiswa, saya lupa masih punya ‘hutang’ pada banyak pihak, kepada Pembimbingku, orangtuaku, lembaga tempat saya bekerja, dan pada negara. Hutang, ketika tidak terbayar tentu menjadi beban moril bagi siapapun yang berhutang. Satu hal yang ternyata membuat pusing dan berdosa bukan kepalang, ketika Dosen Pembimbingmu menanyai kabarmu, bagaimana perkembangan tugas akhir, kendalanya apa, apakah sudah turun lapangan, lalu diakhiri dengan saran agar segera membawa perkembangannya kehadapan Pembimbing. Karena saya berbohong pada Pembimbing, itulah dosa yang saya maksud, selama beberapa bulan menghilang dari radar Pembimbing, tidak ada  perkembangan berarti atas pengerjaan tugas akhir itu, hanya 7 lembar untuk bab 3 Gambaran Lokasi Penelitian. Kebohongan itu dilakukan sebagai cara membentengi diri agar tidak terpojok ketika ditanyai kabar oleh Pembimbing. Parah! Maafkan saya Mba Sari (Viciawati Machdum), Pembimbingku.   
            Sari (Dewi Poerwanti), dia rekan seangkatan di Program Pascasarajana Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP UI, adalah orang yang dipakai Tuhan untuk menyembuhkan kelupaan atas tugas akhir yang disengaja. Pertengahan April 2015, kalau tidak salah tanggalnya 12 April 2015 kami berkontakan via jejaring WhatsApp. Sejak tanggal itu saya rutin bertukar informasi terkait teknis dan substansi pengerjaan tesis, pertukaran kabar dan informasi dengan rekan seangkatan cukup ampuh dalam membangun dan menjaga semangat-mood, beda cerita ketika berjalan sendirian tanpa tahu perkembangan rekan yang senasib, memang berjuang sendiri-sendiri juga ya.
            Dengan waktu setengah April, Full Mei dan setengah Juni saya gunakan untuk mengejar ketertinggalan yang disengaja selama hampir 1 semester. Dalam waktu tersebut saya turun lapangan, ketemu para informan, menuliskan temuan dan analisa, semua kegiatan itu takkan bisa kau hindari ketika rill mengerjakan tugas akhir (studi kasus/ deskriptif/ analisa lapangan, jika banyak berbeda dari itu tentu diragukan juga keasliannya. 25 Mei 2015, akhirnya ketemu Pembimbing lagi, beberapa bulan takut untuk menghadap Pembimbing karena memang tidak ada bahan materi yang hendak dibimbingkan.
            Sepulang dari bimbingan, ternyata efeknya luar biasa, melengkapi efek dari komunikasi yang sebelumnya sudah terjalin dengan rekan seangkatan. Dalam waktu 4 hari, pada 29 Mei 2015 kembali saya membawa perkembangan tesis untuk dibimbing oleh Pembimbing. Walau pengerjaannya terkesan instan, keaslian dan keakuratan penelitian tak perlu diragukan. Berkat kopi Kapal Api saya mampu menuliskan banyak halaman dari jam 5 sore sampai jam 3 pagi, saya benar-benar bagai lampu neon yang tak kunjung padam demi meluluskan diri. 4 Juni 2015 saya dapat ACC tesis siap uji, via email oleh Pembimbing yang kebetulan sedang dinas luar kota, ACC tesis itu diperkuat dengan bubuhan (scan) tanda tangan Pembimbing yang diberikan oleh staf Departemen Mas Cece.
            Tak butuh waktu lama, jadwal ujian tesis saya keluar. Pada tanggal (dua puluh-an) Juni saya mempertanggungjawabkan tugas akhir dihadapan para dosen yang kami sebut Dewan Penguji. Bersyukur, pada saat itu saya dinyatakan lulus (dengan catatan revisi). Mengerjakan revisi, menghampiri tiap-tiap Penguji, dan Mengejar Tanda Tangannya, dengan satu tujuan, agar dapat menyerahkan tesis ke para pihak yakni Perpustakaan Pusat, Fakultas, Departemen dan Pembimbing dalam bentuk tercetak dan CD.
Sekarang, saya sudah lega dengan beban moril itu, kelulusan ini teristimewa buat keluargaku ini, Bapak T. Tamba, S.Pd., Mama L. Br. Sianturi S.Pd., dan ketiga orang adik saya, Duma Br. Tamba S.Ap., Iin Br. Tamba, Agnesia Br. Tamba, terimakasih atas doa dan semangat yang selalu diberikan kepada penulis. Buat Bapak Mama, maafkan saya tidak bisa lulus tepat waktu dan buat adik-adikku agar tetap semangat belajarnya. Selanjutnya kepada Ibu Dr. Sari Viciawati Machdum, M.Si selaku dosen pembimbing tesis saya. Penulis berterimakasih karena sejak awal telah bersedia menjadi dosen pembimbing, menjadi orang yang selalu mengingatkan, memberikan waktu untuk bimbingan, saran dan masukan yang sangat berarti dalam membangun studi penelitian ini sehingga dapat berguna bagi dunia akademis serta secara pribadi menjadi panutan penulis untuk terus memperdalam wawasan dalam rangka pengembangan kapasitas dan kapabilitas diri. Kepada para Dosen Penguji penelitian Tesis penulis, Bapak Sofyan Cholid, S.Sos, M.Si, sebagai Penguji Ahli Tesis. Ketua Sidang Ujian Tesis Ibu Dra. Ety Rahayu, M.Si, dan Ibu Getar Hati S.Sos, M.Kesos sebagai Sekretaris Sidang Ujian Tesis, terimakasih atas masukan dan saran yang telah diberikan kepada penulis untuk adanya perbaikan dan penyempurnaan hasil penelitian ini. Dan seluruh dosen di Program Magister Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial yang telah membagikan ilmunya selama penulis menjalani perkuliahan. Dan para Staf Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial yang telah membantu penulis dalam urusan administrasi akademis sejak awal hingga akhir perkuliahan, Mba Valent, Mas Cece dan Mas Tinton. (Paragraf terakhir dikutip dari Kata Pengantar Tesis milik Penulis).

 Rawamangun-Cipinang Besar Selatan-Depok
           

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar