“Jangan malu terlihat Miskin, Malu lah ketika kita pura-pura Kaya”
Setelah tulisan sebelumnya mengupas satu lagu daerah
yang inspiratif dan penuh nilai positif untuk hidup, kini saya mencoba mengupas
satu gambar yang juga menginspirasi hidup dan menyebarkan nilai-nilai positif
kehidupan. Gambar yang ada di tulisan ini saya dapatkan dari orang lain yang
terlebih dahulu memilikinya. Ceritanya, gambar itu digunakan sebagai display
picture kontak BBM sobat seperjuangan saya di kampus. Melihat gambar itu,
membaca dan beberapa saat terdiam merenungi makna tulisan yang ada di dalamnya,
akhirnya membuat saya untuk mengcopy gambar nya yang saya sebar di beberapa
akun media sosial saya. Baru hari ini saya terinspirasi menuangkannya ke dalam
tulisan di media blog ini.
“Jangan malu terlihat Miskin, Malu lah
ketika kita pura-pura Kaya”. Sekilas
dari rangkaian kata di gambar itu sangat sederhana, kata yang maknanya
berlawanan, Miskin dan Kaya sebagai suatu kondisi, Malu dan pura-pura sebagai
suatu sikap. Dan itulah makna sederhananya. Namun, saya terlanjur luas memaknai
makna sederhana itu dalam kehidupan saya, gambar sekaligus tulisan yang
membantu saya merefleksikan sikap hidup selama ini dan membayangkan orang lain
yang pernah saya amati atau berhadapan dengan saya, mereka yang cocok jadi
panutan karena memang patut ditiru dan sebaliknya juga, jadi janganlah ditiru.
Rangkaian
kata di bagian pertama; Jangan malu terlihat miskin, kalau diambil satu sikap
hidup manusia merujuk kepada sikap sederhana. Lalu, rangkaian kata di bagian
berikutnya, Malu lah ketika pura-pura kaya, sikap hidup yang bertolak belakang
dengan sikap sederhana, mungkin lebih cocok sombong, angkuh, pamer. Pengalaman
pribadi saya baik itu yang ada dalam sikap pribadi atau sikap orang lain yang
ditampilkannya kembali teringat-ingat setelah mengetahui 1 kalimat nasehat
tersebut. Makna kalimat itu sebenarnya bagi saya sebagai pengulangan nasehat
dalam kehidupan yang sumbernya datang dari manapun, paling sering datangnya
dari keluarga (orang tua) tentunya. Sejak kecil, orang tua saya sudah
mengenalkan makna sederhana dan membiasakan untuk bersikap itu dalam kehidupan,
banyak pengalaman yang sudah terjadi untuk itu. Dari sekian banyak nasehat atau
wejangan dari orang tua, paling banyak rasanya menanamkan sikap sederhana dalam
hidup, yang paling saya ingat “Jangan cari harta yang banyak, belajar melalui
jalur pendidikan sebanyak-banyaknya lebih penting”, “Kalau mau cari calon istri,
jangan pilih dari keluarga kaya, karena kalau orang kaya nanti keluarga kita
gak akan dihargai, ndak masalah dari miskin sekalipun asal dia tau cara
menghargai orang”, “Bercita-citalah sebagai pembagi ilmu bagi orang lain,
jangan bercita-cita sebagai pengumpul uang atau pembunga uang (rente)”. Itulah
beberapa inti nasehat tentang kesederhanaan hidup yang sejak kecil hingga kini
yang terus diulang-ulang oleh orang tua, ke semua anaknya.
Sebagai
manusia biasa yang rentan tergoda dari sekitarnya, saya tidak berkilah saat
alfa untuk menghidupi nasehat itu. Melihat orang sekitar yang tergila untuk
mengejar harta, uang, materi positifnya bagi saya memotivasi untuk mencari
penghidupan yang layak, celakanya, potensi untuk saling sikut dengan sekitar
semakin besar. Melihat orang yang sebenarnya biasa saja dari segi materi, namun
memaksakan untuk tampil seakan-akan berharta berlimpah, untuk yang ini sulit
untuk ditiru, selain kondisi pribadi yang tak memungkinkan, akal sehat makin
sering tidak berfungsi, fatal di ujungnya nanti. Lalu, ada pula kadang orang yang
ingin tampil spiritual dengan giat mengucap syukur, namun bukan nilai spiritual
yang bisa ditampilin, justru kesombongan yang dibagikannya pada orang lain. Ini
bisa di pengguna social media, di forum pertemuan-pertemuan, atau di kampanye
politik. Contoh kalimatnya begini, Ya, Tuhan terimakasih atas berkatmu Engkau
kirim ke rumahku 1 mobil yang baru (tentu lengkap dengan foto itu barang).
Syukur-syukur barang itu ada dan benar milik dia, kalau ternyata bukan
miliknya, makin besarlah kebohongan yang tampak. Saat kebohongannya diketahui
orang lain, justru akan menjadi beban hidup lagi bagi orang yang bersangkutan.
Kesombongan sudah pasti tidak patut dicontoh karena tidak ada nilai positif
yang pantas ditiru orang, justru akan menambah beban hidup manusia-nya, jiwa manusianya
terganggu karena penyakit fisik dan mental yang mengganggu jika sering-sering
berbohong dalam hidup.
Hidup
tampil adanya lebih nyaman, itu pasti, Sederhana tanpa harus dipoles dengan
akal bulus dan strategi hidup yang tipu-tipu. Tampil seakan kaya membuat
pribadinya sendiri tidak berharga di mata orang lain, ya jelas, karena dirinya
sendiri sejak awal sudah menipu dirinya sendiri. Memamerkan kekayaan (milik
sendiri atau rekayasa) mengundang orang untuk meng-iri kepada-nya, mengundang
orang untuk berbuat kriminal kepadanya, karena mungkin bagi orang yang sekarat
dalam penghidupannya akan menempuh jalan pintas untuk mengenyangkan perut.
Karena lebih banyak ruginya jika hidup ‘seakan-akan’ itu, tidak ada piihan lain
untuk menghidupi nilai dan sikap hidup sederhana. Bagiku pribadi, tulisan ini
caraku untuk menasehati diri sendiri dan meredam undangan orang lain untuk
bersikap iri. Tulisan ini kumaknai sebagai refleksi hidup ku terkhusus untuk
hidup sederhana, tampil apa adanya. Dan tulisan ini kututup dengan “Jangan malu terlihat Miskin, Malu lah
ketika kita pura-pura Kaya”.


