Rabu, 05 Februari 2014

Gambar Inspirasi

“Jangan malu terlihat Miskin, Malu lah ketika kita pura-pura Kaya”

              Setelah tulisan sebelumnya mengupas satu lagu daerah yang inspiratif dan penuh nilai positif untuk hidup, kini saya mencoba mengupas satu gambar yang juga menginspirasi hidup dan menyebarkan nilai-nilai positif kehidupan. Gambar yang ada di tulisan ini saya dapatkan dari orang lain yang terlebih dahulu memilikinya. Ceritanya, gambar itu digunakan sebagai display picture kontak BBM sobat seperjuangan saya di kampus. Melihat gambar itu, membaca dan beberapa saat terdiam merenungi makna tulisan yang ada di dalamnya, akhirnya membuat saya untuk mengcopy gambar nya yang saya sebar di beberapa akun media sosial saya. Baru hari ini saya terinspirasi menuangkannya ke dalam tulisan di media blog ini.
            “Jangan malu terlihat Miskin, Malu lah ketika kita pura-pura Kaya”. Sekilas dari rangkaian kata di gambar itu sangat sederhana, kata yang maknanya berlawanan, Miskin dan Kaya sebagai suatu kondisi, Malu dan pura-pura sebagai suatu sikap. Dan itulah makna sederhananya. Namun, saya terlanjur luas memaknai makna sederhana itu dalam kehidupan saya, gambar sekaligus tulisan yang membantu saya merefleksikan sikap hidup selama ini dan membayangkan orang lain yang pernah saya amati atau berhadapan dengan saya, mereka yang cocok jadi panutan karena memang patut ditiru dan sebaliknya juga, jadi janganlah ditiru.
            Rangkaian kata di bagian pertama; Jangan malu terlihat miskin, kalau diambil satu sikap hidup manusia merujuk kepada sikap sederhana. Lalu, rangkaian kata di bagian berikutnya, Malu lah ketika pura-pura kaya, sikap hidup yang bertolak belakang dengan sikap sederhana, mungkin lebih cocok sombong, angkuh, pamer. Pengalaman pribadi saya baik itu yang ada dalam sikap pribadi atau sikap orang lain yang ditampilkannya kembali teringat-ingat setelah mengetahui 1 kalimat nasehat tersebut. Makna kalimat itu sebenarnya bagi saya sebagai pengulangan nasehat dalam kehidupan yang sumbernya datang dari manapun, paling sering datangnya dari keluarga (orang tua) tentunya. Sejak kecil, orang tua saya sudah mengenalkan makna sederhana dan membiasakan untuk bersikap itu dalam kehidupan, banyak pengalaman yang sudah terjadi untuk itu. Dari sekian banyak nasehat atau wejangan dari orang tua, paling banyak rasanya menanamkan sikap sederhana dalam hidup, yang paling saya ingat “Jangan cari harta yang banyak, belajar melalui jalur pendidikan sebanyak-banyaknya lebih penting”, “Kalau mau cari calon istri, jangan pilih dari keluarga kaya, karena kalau orang kaya nanti keluarga kita gak akan dihargai, ndak masalah dari miskin sekalipun asal dia tau cara menghargai orang”, “Bercita-citalah sebagai pembagi ilmu bagi orang lain, jangan bercita-cita sebagai pengumpul uang atau pembunga uang (rente)”. Itulah beberapa inti nasehat tentang kesederhanaan hidup yang sejak kecil hingga kini yang terus diulang-ulang oleh orang tua, ke semua anaknya.
            Sebagai manusia biasa yang rentan tergoda dari sekitarnya, saya tidak berkilah saat alfa untuk menghidupi nasehat itu. Melihat orang sekitar yang tergila untuk mengejar harta, uang, materi positifnya bagi saya memotivasi untuk mencari penghidupan yang layak, celakanya, potensi untuk saling sikut dengan sekitar semakin besar. Melihat orang yang sebenarnya biasa saja dari segi materi, namun memaksakan untuk tampil seakan-akan berharta berlimpah, untuk yang ini sulit untuk ditiru, selain kondisi pribadi yang tak memungkinkan, akal sehat makin sering tidak berfungsi, fatal di ujungnya nanti. Lalu, ada pula kadang orang yang ingin tampil spiritual dengan giat mengucap syukur, namun bukan nilai spiritual yang bisa ditampilin, justru kesombongan yang dibagikannya pada orang lain. Ini bisa di pengguna social media, di forum pertemuan-pertemuan, atau di kampanye politik. Contoh kalimatnya begini, Ya, Tuhan terimakasih atas berkatmu Engkau kirim ke rumahku 1 mobil yang baru (tentu lengkap dengan foto itu barang). Syukur-syukur barang itu ada dan benar milik dia, kalau ternyata bukan miliknya, makin besarlah kebohongan yang tampak. Saat kebohongannya diketahui orang lain, justru akan menjadi beban hidup lagi bagi orang yang bersangkutan. Kesombongan sudah pasti tidak patut dicontoh karena tidak ada nilai positif yang pantas ditiru orang, justru akan menambah beban hidup manusia-nya, jiwa manusianya terganggu karena penyakit fisik dan mental yang mengganggu jika sering-sering berbohong dalam hidup.

            Hidup tampil adanya lebih nyaman, itu pasti, Sederhana tanpa harus dipoles dengan akal bulus dan strategi hidup yang tipu-tipu. Tampil seakan kaya membuat pribadinya sendiri tidak berharga di mata orang lain, ya jelas, karena dirinya sendiri sejak awal sudah menipu dirinya sendiri. Memamerkan kekayaan (milik sendiri atau rekayasa) mengundang orang untuk meng-iri kepada-nya, mengundang orang untuk berbuat kriminal kepadanya, karena mungkin bagi orang yang sekarat dalam penghidupannya akan menempuh jalan pintas untuk mengenyangkan perut. Karena lebih banyak ruginya jika hidup ‘seakan-akan’ itu, tidak ada piihan lain untuk menghidupi nilai dan sikap hidup sederhana. Bagiku pribadi, tulisan ini caraku untuk menasehati diri sendiri dan meredam undangan orang lain untuk bersikap iri. Tulisan ini kumaknai sebagai refleksi hidup ku terkhusus untuk hidup sederhana, tampil apa adanya. Dan tulisan ini kututup dengan “Jangan malu terlihat Miskin, Malu lah ketika kita pura-pura Kaya”.