Senin, 18 November 2013

Kapitalis Menyeruduk Sterilisasi


Kehadiran transportasi publik seperti bis Transjakarta bertujuan untuk mengurangi kemacetan Ibukota, diharapkan dengan semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan transportasi tersebut maka jumlah kendaraan pribadi di jalanan Ibukota dapat ditekan. Sejak Tahun pertama kehadiran Transjakarta ternyata belum mampu mewujudkan DKI Jakarta terbebas dari persoalan kemacetan. Keengganan masyarakat menggunakan bis Transjakarta dikarenakan pelayanan Transjakarta beserta sumber daya manusianya masih jauh dari harapan masyarakat. Durasi waktu yang dihabiskan masyarakat saat menunggu kedatangan bis Transjakarta  cukup membuat jenuh dan stres masyarakat DKI Jakarta. Selain itu, pelayanan dari pegawai Transjakarta jauh dari kesan ramah, bayangkan bagaimana situasi di tiap halte yang disesaki oleh banyak calon penumpang ditambah dengan arogansi dan sikap cuek para pegawai Transjakarta.  
Jalur khusus bis Transjakarta yakni busway menjadi biang keladi rendahnya kualitas pelayanan Transjakarta. Kendaraan pribadi semakin terbiasa untuk menggunakan jalur busway tersebut. Penyerobotan jalur busway jelas sangat merugikan masyarakat, hak calon penumpang dan penumpang Transjakarta diabaikan oleh masyarakat penyerobot jalur busway. Kecepatan dan ketepatan waktu menjadi alasan umum dari masyarakat yang menggunakan jalur busway, akibatnya bis Transjakarta tidak mampu maksimal dalam melayani masyarakat. Kompleksitas persoalan Transjakarta menunjukkan pihak BLU Transjakarta tidak berbenah, jumlah armada yang ada saat ini sudah pasti tidak mampu melayani masyarakat DKI Jakarta, fasilitas di dalam armada pun semakin hari semakin tidak terurus. Satu hal yang masih dibanggakan dari Transjakarta ialah harga tiket nya yang masih terjangkau, hal itu karena adanya subsidi dari APBD DKI Jakarta.
Rencana pihak Pemprov DKI Jakarta yang ingin memaksimalkan Transjakarta dan jalurnya dengan sterilisasi jalur busway diharapkan mampu mengembalikan sekaligus meningkatkan fungsi bis Transjakarta dan jalur busway. Ketepatan dan kecepatan waktu kedatangan bis Transjakarta di tiap shelter diyakini akan menggugah masyarakat kembali kepada Transjakarta lalu meninggalkan kendaraan pribadinya. Kebijakan sterilisasi tentu tidak bisa dikerjakan sendiri oleh Pemprov DKI Jakarta. Kerjasama pun dilakukan dengan pihak Dinas Perhubungan dan Kepolisian khususnya Polisi Lalu Lintas. Dalam penindakan pelanggaran ada kerjasama dengan pihak Kejaksaan.  
Disaat Pemprov DKI Jakarta dan pihak lain terkait sedang memulai kebijakan sterilisasi dan merencanakan adanya sanksi ketat terhadap pelaku pelanggaran penyerobotan jalur busway datang 1 gagasan  dari  pihak pengusaha transportasi yang menginginkan jalur busway dapat digunakan oleh armada/kendaraan lain yang membawa banyak penumpang. Apapun alasannya penulis tidak setuju dengan gagasan itu, jelas hal itu merupakan gagasan kapitalis yang muatan kepentingannya tidak ingin merugi dan memperdaya Pemprov DKI Jakarta. Penulis lebih setuju jika kita semua konsisten dengan fungsi jalur busway tersebut, dan tujuannya ingin mengalihkan masyarakat kepada transportasi umum. Sudah cukup kopaja, APTB, atau nanti Metromini yang dibolehkan melewati jalur busway tersebut. Jangan lagi ditambah oleh armada para pengusaha-pengusaha yang hanya menginginkan keuntungan.
Satu contoh armada transportasi para pengusaha ialah jumlah taksi yang tidak jelas pembatasan armadanya di DKI Jakarta ini, padahal jumlah masyarakat yang diangkut armada taksi jelas sangat sedikit, dan cenderung digunakan masyarakat kelas menengah ke atas. Toh, Pemprov beberapa bulan lagi akan mendatangkan banyak (ratusan mendekati seribu) armada bis Transjakarta. Harapan penulis terhadap pemangku kekuasaan DKI Jakarta ini, Gubernur, Wakil Gubernur dan jajarannya jangan mau  atau tidak ingin diintervensi oleh para pengusaha. Sebuah kewajaran jika sebaliknya, bahwa Pemerintahlah yang memiliki kewenangan intervensi untuk kepentingan publik. Harapan bersama yang menginginkan Jakarta terlepas dari persoalan kemacetan akan mulai terwujud jika masyarakat meninggalkan kendaraan pribadinya dan beralih pada alat transportasi publik, namun syaratnya transportasi publik Ibukota harus mampu memberikan kenyamanan dan ketepatan waktu bagi para penumpangnya.
Lampiran Berita
Biarkan Semakin Banyak Orang Menikmati Jalur Bus Transjakarta
Penulis :Josephus Primus Minggu, 17 November 2013 | 02:34 WIB
KOMPAS.com — Selain armada bus khusus, semua bus yang mengangkut banyak orang harus melewati jalur bus transjakarta. Syaratnya, bus tersebut dilarang menaikturunkan penumpang. "Jadi, bus-bus tersebut, baik sedang maupun besar, hanya numpanglewat," kata Direktur Utama Blue Bird Group Purnomo Prawiro, Sabtu (16/11/2013). Menurut Purnomo lebih lanjut, tantangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memang mengurangi kemacetan lalu lintas dengan mengajak semakin banyak orang memanfaatkan angkutan umum. Maka dari itu, bus khusus tersebut mendapat prioritas dengan jalur khusus. "Masalahnya adalah armada busbusway saat ini memang kurang," katanya.
Jadilah, bak menjadi kelaziman, jalur bus transjakarta terlihat lengang. Sementara di sisi jalur bus transjakarta tersebut kemacetan seolah sama sekali tak bisa terurai.
Lebih lanjut, Purnomo mengatakan, jalur bus transjakarta yang terbuka tak hanya bagi bus khusus adalah kebijakan yang ditempuh pemerintah di negara-negara lain. Ia memberi contoh, Taiwan dan Belanda juga membebaskan jalur bus untuk tujuan tersebut. "Prinsipnya bus-bus tersebut mengangkut banyak orang," ujarnya.
Sementara itu, kebanyakan kantor-kantor, baik pemerintah maupun swasta, mempunyai bus karyawan. Bus-bus itulah yang harus masuk ke jalur bus transjakarta. Selain itu, menurut hematnya, bus pariwisata pun harus masuk jalur bus transjakarta. "Jadi, biarkan semakin banyak orang menikmati jalur busway," imbuh pemimpin sekitar 30.000 karyawan di perusahaan berlambang burung biru tersebut.
Seturut catatan terkumpul, Pemprov DKI Jakarta mematok target menyediakan 1.353 bus transjakarta hingga akhir 2013. Sampai kini, baru ada 669 bus transjakarta. Rinciannya, 90 bus bermesin diesel, 381 bus berbahan bakar gas (BBG), dan 198 bus gandeng (articulated bus)
Editor : Josephus Primus