Ketika hidup di tanah
rantau, jauh dari keluarga besar, apalagi orang tua, jelaslah itu merupakan
ujian kehidupan bagi perantau-perantau. Banyak orang merantau untuk berbagai
hal, ada yang kepentingannya untuk studi, mencari pekerjaan atau mencari jodoh
mungkin, semuanya itu demi mencari peruntungan, memperbaiki hidup yang lebih
baik. Lagu batak Uju Di Ngolungkon Ma Nian bagi perantau batak khususnya akan sangat
menikmati tiap lirik dan alunan musiknya. Sambil mendengarkan lagunya, disaat
itu mereka ingat wajah ke dua orang tuanya, rasanya ingin pulang segera, hidup bersama
dengan orang tuanya, memenuhi kebutuhan orang tuanya. Bagi mereka yang orang tuanya sudah menghadap Sang Pencipta, butuh perjuangan keras untuk
mengimajinasikan semua itu seperti sedia kala.
Penulis kelahiran tanah
Minang, Sumatera Barat, Keturunan dan berdarah asli batak mencoba ingin
menerjemahkan lirik lagu batak ini dan mencoba membagikan nilai hidup yang
ingin disampaikan kepada siapapun. Lagu ciptaan D.Siahaan itu bisa saja
merupakan pengalaman pribadinya yang dituangkan ke dalam sebuah karya musik,
dan penulis disini melanjutkan karya itu dengan mengeksplorasi ke dalam sebuah
tulisan, syukur-syukur nilainya sampai kepada para pembaca, lintas SARA (baca,
Suku, Agama, Ras, Antar Golongan) tentunya. Walaupun tampak subjektif, penulis
tidak terlalu beraliran primordial karena kebhinekaan masih tetap jadi andalan.
Uju Di Ngolukon Ma Nian Cipt: D.Siahaan
Hamu anakkonhu, Tampuk ni pusu-pusuki,
Pasabar ma amang, Pasabar ma boru, Laho pature-ture ahu,
Nunga matua ahu, Jala sitogu-toguon i,
Sulangan mangan ahu, Siparidion ahu,
Alani parsahitanonki...
Reff:
So marlapatan…. Marende, margondang, marembas hamu, Molo dung mate ahu,
So marlapatan…. Nauli, Nadenggan patupahonmu, Molo dung mate ahu,
Uju dingolukon ma nian, Tupa ma bahen angka nadenggan,
Asa tarida sasude, Holongni rohami mar na tua-tua i.
Hamu anakkonhu, Tampuk ni pusu-pusuki,
Pasabar ma amang, Pasabar ma boru, Laho pature-ture ahu,
Nunga matua ahu, Jala sitogu-toguon i,
Sulangan mangan ahu, Siparidion ahu,
Alani parsahitanonki...
Reff:
So marlapatan…. Marende, margondang, marembas hamu, Molo dung mate ahu,
So marlapatan…. Nauli, Nadenggan patupahonmu, Molo dung mate ahu,
Uju dingolukon ma nian, Tupa ma bahen angka nadenggan,
Asa tarida sasude, Holongni rohami mar na tua-tua i.
Lagu Uju Di Ngolukon Ma
Nian menceritakan keinginan dan jeritan perasaan orang tua (bayangkan lah
seorang Bapak, atau seorang Ibu) yang sudah terlalu sepuh dan ringkih kepada
anak-anaknya, anak-anak yang secara fisik ada di hadapannya, hidup bersamanya.
Karena sudah terlalu tua, orang tua itu tidak mampu untuk berdiri, mandi dan
makan sendiri dan harus butuh pertolongan orang lain di sekitarnya, siapa lagi
kalau bukan anak-anaknya. Anak-anaknya itu lah yang diharapkan untuk menolongnya
berdiri, lalu anak-anak yang bisa menyuapi dia makan, memandikannya setiap hari
selama masa tuanya itu, mungkin hingga hidupnya berhenti.
Di bagian refrein
jeritan dari orang tua makin kencang, makna dari liriknya pun makin hebat,
orang tua itu berkata tidak ada gunanya anak-anak itu bernyanyi, bermusik dan
menari jika orang tua itu sudah mati, begitu juga pesta kematian yang megah dan
indah tidak ada gunanya dilakukan jika orang tuanya itu tidak lagi hidup. Harapan
orang tua itu satu, di akhir hidupnya itu ia berharap anak-anaknya melakukan
hal-hal yang baik terutama kepada orangtuanya. Hal-hal baik itu tentu bukanlah
materi yang diharapkannya, hal baik yang menopang hidupnya disaat masa tuanya
yang ringkih, telah lemah, bahkan untuk berdiri, makan, dan mandi-pun tidak
lagi mampu dilakukannya. Jika anaknya sudah melakukan itu maka akan tampak
semua kasih sayang anak-anak pada orang tuanya, bukan kasih sayang dalam kata
atau ucapan, tapi kasih dan sayang yang diwujudkan dalam sikap hidupnya, saat
orangtuanya masih hidup, saat orang tuanya masih bisa dilihat fisiknya, hidup
di alam semesta yang sama.
Dalam lagu itu
seakan-akan anaknya diceritakan hidup dan tinggal bersama dimasa hidupnya. Untuk
pemaknaan dari lagu dan lirik ini bisa ditarik ke yang lebih luas, bagi anak yang
hidup nya berjauhan dengan orang tuanya pun masih sesuai dengan makna yang
ingin disampaikan lagu tersebut. Pada intinya atau kesimpulan yang dapat
diambil dari lirik lagu Uju Di Ngolukon
Ma Nian ini tentang bagaimana perhatian dan sikap seorang atau para anak
kepada orang tuanya semasa masih hidupnya, terutama saat-saat di masa tua yang
rentan dengan penyakit, rasa sepi, terlihat lemah seperti kembali pada
kebiasaan bayi. Panti Jompo adalah fenomena masyarakat saat ini, nilai dari
lagu Uju Di Ngolukon Ma Nian tidak tampak dari kehidupan peradaban yang makin
maju katanya. Penulis perlu menekankan, tulisan ini bukan untuk menggurui,
mengajari. Tulisan ini ingin menyampaikan dan melanjutkan makna dari lagu
tersebut, dan kebetulan penulis sedikit bisa memahami dan menerjemahkan lagu Uju
Di Ngolukon Ma Nian. Selagi orang tua masih ada dan lebih nikmat lagi hidup dekat berdampingan dengan mereka, maka nikmati lah, membagikan kasih dan sayang sesama manusia, bagi orang tua sendiri.

