Jumat, 31 Januari 2014

Lagu Batak Inspiratif


Ketika hidup di tanah rantau, jauh dari keluarga besar, apalagi orang tua, jelaslah itu merupakan ujian kehidupan bagi perantau-perantau. Banyak orang merantau untuk berbagai hal, ada yang kepentingannya untuk studi, mencari pekerjaan atau mencari jodoh mungkin, semuanya itu demi mencari peruntungan, memperbaiki hidup yang lebih baik. Lagu batak Uju Di Ngolungkon Ma Nian bagi perantau batak khususnya akan sangat menikmati tiap lirik dan alunan musiknya. Sambil mendengarkan lagunya, disaat itu mereka ingat wajah ke dua orang tuanya, rasanya ingin pulang segera, hidup bersama dengan orang tuanya, memenuhi kebutuhan orang tuanya. Bagi mereka yang orang tuanya sudah menghadap Sang Pencipta, butuh perjuangan keras untuk mengimajinasikan semua itu seperti sedia kala.
Penulis kelahiran tanah Minang, Sumatera Barat, Keturunan dan berdarah asli batak mencoba ingin menerjemahkan lirik lagu batak ini dan mencoba membagikan nilai hidup yang ingin disampaikan kepada siapapun. Lagu ciptaan D.Siahaan itu bisa saja merupakan pengalaman pribadinya yang dituangkan ke dalam sebuah karya musik, dan penulis disini melanjutkan karya itu dengan mengeksplorasi ke dalam sebuah tulisan, syukur-syukur nilainya sampai kepada para pembaca, lintas SARA (baca, Suku, Agama, Ras, Antar Golongan) tentunya. Walaupun tampak subjektif, penulis tidak terlalu beraliran primordial karena kebhinekaan masih tetap jadi andalan.

Uju Di Ngolukon Ma Nian Cipt: D.Siahaan
Hamu anakkonhu, Tampuk ni pusu-pusuki,
Pasabar ma amang, Pasabar ma boru, Laho pature-ture ahu,
Nunga matua ahu, Jala sitogu-toguon i,
Sulangan mangan ahu, Siparidion ahu,
Alani parsahitanonki...
Reff:
So marlapatan…. Marende, margondang, marembas hamu, Molo dung mate ahu,
So marlapatan…. Nauli, Nadenggan patupahonmu, Molo dung mate ahu,
Uju dingolukon ma nian, Tupa ma bahen angka nadenggan,
Asa tarida sasude, Holongni rohami mar na tua-tua i.
Lagu Uju Di Ngolukon Ma Nian menceritakan keinginan dan jeritan perasaan orang tua (bayangkan lah seorang Bapak, atau seorang Ibu) yang sudah terlalu sepuh dan ringkih kepada anak-anaknya, anak-anak yang secara fisik ada di hadapannya, hidup bersamanya. Karena sudah terlalu tua, orang tua itu tidak mampu untuk berdiri, mandi dan makan sendiri dan harus butuh pertolongan orang lain di sekitarnya, siapa lagi kalau bukan anak-anaknya. Anak-anaknya itu lah yang diharapkan untuk menolongnya berdiri, lalu anak-anak yang bisa menyuapi dia makan, memandikannya setiap hari selama masa tuanya itu, mungkin hingga hidupnya berhenti.
Di bagian refrein jeritan dari orang tua makin kencang, makna dari liriknya pun makin hebat, orang tua itu berkata tidak ada gunanya anak-anak itu bernyanyi, bermusik dan menari jika orang tua itu sudah mati, begitu juga pesta kematian yang megah dan indah tidak ada gunanya dilakukan jika orang tuanya itu tidak lagi hidup. Harapan orang tua itu satu, di akhir hidupnya itu ia berharap anak-anaknya melakukan hal-hal yang baik terutama kepada orangtuanya. Hal-hal baik itu tentu bukanlah materi yang diharapkannya, hal baik yang menopang hidupnya disaat masa tuanya yang ringkih, telah lemah, bahkan untuk berdiri, makan, dan mandi-pun tidak lagi mampu dilakukannya. Jika anaknya sudah melakukan itu maka akan tampak semua kasih sayang anak-anak pada orang tuanya, bukan kasih sayang dalam kata atau ucapan, tapi kasih dan sayang yang diwujudkan dalam sikap hidupnya, saat orangtuanya masih hidup, saat orang tuanya masih bisa dilihat fisiknya, hidup di alam semesta yang sama.
Dalam lagu itu seakan-akan anaknya diceritakan hidup dan tinggal bersama dimasa hidupnya. Untuk pemaknaan dari lagu dan lirik ini bisa ditarik ke yang lebih luas, bagi anak yang hidup nya berjauhan dengan orang tuanya pun masih sesuai dengan makna yang ingin disampaikan lagu tersebut. Pada intinya atau kesimpulan yang dapat diambil dari lirik lagu Uju Di Ngolukon Ma Nian ini tentang bagaimana perhatian dan sikap seorang atau para anak kepada orang tuanya semasa masih hidupnya, terutama saat-saat di masa tua yang rentan dengan penyakit, rasa sepi, terlihat lemah seperti kembali pada kebiasaan bayi. Panti Jompo adalah fenomena masyarakat saat ini, nilai dari lagu Uju Di Ngolukon Ma Nian tidak tampak dari kehidupan peradaban yang makin maju katanya. Penulis perlu menekankan, tulisan ini bukan untuk menggurui, mengajari. Tulisan ini ingin menyampaikan dan melanjutkan makna dari lagu tersebut, dan kebetulan penulis sedikit bisa memahami dan menerjemahkan lagu Uju Di Ngolukon Ma Nian. Selagi orang tua masih ada dan lebih nikmat lagi hidup dekat berdampingan dengan mereka, maka nikmati lah, membagikan kasih dan sayang sesama manusia, bagi orang tua sendiri.  




Tidak ada komentar:

Posting Komentar