Sabtu, 07 Juni 2014

Sosiologi Kebudayaan : Film, Perempuan dan Tubuh

Peran Tubuh Wanita sebagai Hiasan dan Daya Tarik dalam Film Horor Indonesia[1]
            Penulis memilih tema tentang Persoalan Jender dalam film horor Indonesia. Penulis berusaha mendeskripsikan dan memberikan penjelasan tentang konsep jender dan realita film horor di Indonesia, kemudian menghubungkan kedua hal tersebut dengan kajian ilmu Sosiologi Kebudayaan, sehingga akan tampak analisis yang bernilai akademis berdasarkan data yang disusun dari berbagai sumber yakni buku, majalah, resensi film, pengalaman pribadi, dan menonton secara langsung beberapa film horor Indonesia dari dvd dan bioskop.
            Realita film horor Indonesia dan dinamikanya tidak lepas dari pengaruh globalisasi yang sedang terjadi saat ini di Indonesia. Dunia perfilm-an Indonesia secara umum mengalami pasang surut dalam hal produksi dan  pemasarannya. Begitu juga dengan film horornya yang mengalami berbagai dinamika. Fenomena yang muncul saat ini adalah film horor yang diproduksi oleh banyak rumah produksi film sedang didera demam film yang bernuansa eksotik, atau dalam bahasa lainnya film horor yang diproduksi dan dipertontonkan kepada khalayak umum mengandung hal pornografi. Pemain filmnya terutama pemain film wanitanya ditampilkan dengan sisi eksotismenya, wanita yang eksotis dan seksi menjadi nilai tambah dalam suatu film horor sekaligus hiburan yang menyelingi setiap adegan yang memang horor dan mengerikan. Film horor yang menampilkan wanita yang bertubuh seksi dan tampilan sensual memiliki kaitan terhadap konsep jender, dimana wanita sebagai bagian dari konsep jender mengalami suatu fenomena yang mengharuskan dirinya untuk tampil vulgar di depan khalayak umum melalui karya produksi film. Sedangkan konsep jender sebenarnya tidak saja berorientasi tentang jenis kelamin secara biologis, namun lebih dari itu yakni jender sebagai seperangkat peran yang dibentuk oleh diri yang disampaikan kepada orang lain apakah kita maskulin atau feminim. Seperangkat peran itu meliputi penampilan, pakaian, sikap, kepribadian, bekerja di dalam atau di luar rumah tangga, seksualitas, tanggung jawab keluarga dan sebagainya, semua itulah yang secara bersama-sama membentuk dan memoles suatu peran jender seseorang.[2]
            Masa globalisasi yang menandakan adanya perubahan suatu masyarakat di suatu Negara, perubahan ke arah kemajuan baik secara fisik dan non fisik dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat tersebut seperti aspek sosial, ekonomi, politik, budaya, seni dan lain-lain. Masa globalisasi menandakan batas-batas negara mulai melebur dengan cepat. Prasangka, praduga, dan asumsi lama juga makin sering harus tunduk pada fakta dan kecenderungan baru yang dipengaruhi oleh hubungan antarkultur yang makin terbuka. Termasuk dalam dunia perfilman yang merupakan bagian dari aspek seni budaya dalam masyarakat. Dunia perfilman Indonesia secara umum mengalami pasang surut dalam hal produksi, isi materi film, dan pemasarannya. Sehingga tiap dekade mengalami ciri khasnya, hal ini tidak lepas dari pengaruh film-film dunia yang diproduksi oleh Negara lain seperti Negara adi kuasa Amerika Serikat. Contoh di era tahun 1970-1980-an film yang musim dikala itu yang bertemakan genre hero atau pahlawan.  Film superhero bukanlah hal baru buat jagad sinema kita. sineas negeri ini pernah membuat film superhero, film yang bertema pahlawan berkekuatan super macam Superman atau Spider-Man. Pada 1974, sineas kita melahirkan Rama Superman Indonesia (Frans Totok). Judulnya sudah bercerita film ini berkisah tentang apa dan siapa.  Bergerak ke era tahun 1980-1990-an film Indonesia yang banyak beredar yakni yang bergenre percintaan dan anak muda. Seperti film Catatan si Boy, Blok M.
Perfilman Indonesia  sempat memiliki sejarah gemilang di tanah air pada tahun 1980-an, dimana  banyak film Indonesia yang merajai bioskop-bioskop lokal.  Sayang puncak kejayaan Film Indonesia pada tahun 1980-an tidak berlanjut ke tahun 1990-an. Pada tahun 1990-an, perfilman Indonesia memasuki masa suram. Hampir semua film Indonesia berkutat dalam tema-tema yang khusus orang dewasa dengan adegan menyerempet. Film Indonesia tersingkir dari bioskop-bioskop di seluruh Indonesia, yang akhirnya digantikan oleh Film-film  Hollywood, film Bollywood, dan Film Asia Hong Kong. Saat itu film yang berasal dari tiga wilayah itu sangat merajai dunia perfilm-an di Indonesia, sehingga masyarakat sangat familiar dengan beberapa aktor yang kala itu sering tampil di film yang ditayangkan di Indonesia, seperti Andy lau, Jacky Chan, beberapa pemain film India, dan pemain film Amerika.
Terpuruknya Film Indonesia di Negara sendiri berlangsung sampai awal tahun 2000, sampai muncul nya film Petualangan Sherina yang diperankan oleh Sherina Munaf. Film drama musical karya Riri Riza dan Mira Lesmana  berhasil menjadi tonggak kebangkitan kembali perfilman Indonesia. Setelah film Petualangan Sherina, mulai muncul film dengan berbagai tema, Film Jelangkung yang merupakan tonggak tren film horor remaja., Film Ada Apa dengan Cinta? yang mengorbitkan sosok Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra, Di Sini Ada Setan, Tusuk Jelangkung, Biarkan Bintang Menari, Eiffel I’m in Love,  Arisan! Selain film komersil, perfilman Indonesia berhasil melahirkan banyak film non komersil yang berhasil memenangkan penghargaan internasional, antara lain : Film Pasir Berbisik, Daun di Atas Bantal, dan lain-lain.
Genre film di era sejak tahun 2000-an hingga kini berkutat pada dua tema besar yang berbeda yakni tema percintaan dan tema horor. Kedua genre ini hingga kini merajai dan marak beredar dalam berbagai media sehingga dapat dikonsumsi oleh publik, baik itu melalui televisi, layar lebar bioskop dan lain-lain. Banyak pihak berpendapat bahwa film yang beredar di awal abad ke 20 ini sebagai bentuk kemunduran dunia perfilm-an Indonesia. Film yang diproduksi oleh rumah produksi film, produser dan sutradara tidak lagi memiliki kualitas yang mumpuni dibanding dengan film-film Negara luar seperti Negara Amerika Serikat dengan Hollywood-nya dan India dengan Bollywood-nya. Mereka hanya mengejar omset dengan mengumbar unsur seks dengan mengorbankan mutu film. Sebab itu, para penonton harus jeli dalam memilih film yang akan ditonton.
Sebagai sebuah genre, film horor memiliki beberapa konvensi atau formula yang mencakup setting ruang dan waktu, tokoh, dan alur yang harus dipenuhi. Will Wright, seorang sineas Amerika independen, dalam tulisannya yang berjudul Understanding Genres: The Horror Films memerinci beberapa konvensi genre film horor, sebagai berikut:
a. Tokoh utama biasanya adalah korban yang mengalami teror atau tokoh pembawa bencana.
b. Tokoh Antagonis atau tokoh pembawa kejahatan biasanya terasing atau tersingkir secara sosial atau bukan bagian dari dunia nyata
c. Dekor ruang relatif monoton. Misalnya sebuah rumah, kota terpencil, rumah sakit. Dekor waktu didominasi malam hari atau suasana gelap.
d. Tokoh agama sering dilibatkan untuk menyelesaikan masalah
e. Hal-hal supranatural atau tahayul dipakai untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa yang tidak dapat dijelaskan secara rasional.
f. Tokoh anak biasanya memiliki kekuatan berkat kemurnian jiwa mereka.
g. Adegan kekerasan fisik sering menjadi warna utamanya, misalnya pembunuhan, teror, mutilasi, dan darah.
Berbeda dengan masyarakat Eropa dan Amerika yang cenderung lebih rasional, masyarakat Indonesia sangat dekat dengan dunia supranatural. Latar belakang kemunculan genre ini di Indonesia memang masih memerlukan kajian yang mendalam, namun mengingat dunia supranatural, tahayul, dan cerita-cerita hantu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakatnya, maka sangatlah masuk akal apabila genre ini tumbuh subur dan disukai, ditambah pula dengan isi film yang mengandung unsur tayangan seks, tampilan wanita yang bertubuh seksi dan telanjang.
Masa kejayaan film horor Indonesia adalah era tahun 1980an. Kejayaan disini bukan hanya dari tingginya jumlah produksi film, tetapi juga tingginya jumlah penonton, dan banyaknya film horor pada masa ini yang mendapatkan penghargaan dari sisi kualitas. Tercatat 69 judul film horror, jumlah produksi tertinggi genre horor sampai saat ini, dapat dinikmati penonton. Horor hantu masih menjadi favorit. Dari 69 judul tersebut hanya ada satu yang mengambil bentuk horor psikologis, yaitu Misteri Sumur Tua (1987). Penghargaan dunia film juga didapatkan oleh film horor. Ratu Pantai Selatan(1980) mendapatkan piala LPKJ pada FFI 1981 untuk Efek Khusus; Rina Hassim dalam Genderuwo (1981) masuk unggulan FFI 1981 untuk Pemeran Pembantu Wanita; Masih di FFI tahun yang sama Ratu Ilmu Hitam (1981) bahkan masuk unggulan dalam lebih banyak kategori, Suzana untuk Pemeran Utama Wanita, WD Mochtar untuk Pemeran Pembantu Pria, juga editing, fotografi, dan artistik. Pada FFI 1987, 7 Manusia Harimau (1986) masuk unggulan untuk Pemeran Pembantu Pria (Elmanik), sementara Pernikahan Berdarah (1987) diunggulkan untuk kategori Artistik pada FFI 1988.[3]
Pada tahun-tahun selanjutnya, jumlah produksi film horor menurun sampai lebih dari separuh, sekitar 33 judul. Hal ini sejalan juga dengan lesunya dunia perfilman Indonesia secara menyeluruh. Tidak ada terobosan baru baik dari segi tema atau dari segi penyajian. Sebagian besar film yang ada hanya mengulang tema-tema yang sebelumnya telah dibuat, seperti sekuel dari film sebelumnya: Misteri dari Gunung Merapi II (Titisan Roh Nyai Kembang) (1990), Misteri dari Gunung Merapi III (Perempuan Berambut Api) (1990), yang melanjutkan Misteri dari Gunung Merapi (Penghuni Rumah Tua), (1989) atau versi layar lebar serial televisi yang sukses, seperti Si Manis Jembatan Ancol (1994). Keberhasilan Petualangan Cinta Nyi Blorongdalam memadukan horor dan eksploitasi tubuh perempuan menjadi formula selanjutnya yang mengantarkan perfilman Indonesia pada masa kejatuhan.Gairah Malam (1993), Godaan Perempuan Halus (1933), Misteri di Malam Pengantin (1993), Susuk Nyi Roro Kidul (1993), Godaan Membara, 1994, Cinta Terlarang (1994), Pawang (1995), Bisikan Nafsu (1996), Mistik Erotik (1996), Rose Merah, (1996), Birahi Perempuan Halus (1997) adalah judul-judul film yang khas pada masa itu.[4]
Sesungguhnya isi materi film adalah suatu cerita yang dinarasikan oleh pembuat film yakni sutradara lewat tampilan fisik dan nyata, cerita itu menjadi hidup karena diperankan langsung oleh pemain film-nya. Cerita film yang baik akan memberikan rasa berkesan kepada penonton, apakah film tersebut menghibur atau tidak, menyeramkan atau tidak, menyentuh atau tidak. Dalam khasanah film arus utama di Hollywood, cerita jadi tolok ukur utama. Sebuah film akan diukur dari menarik atau tidak ceritanya, dan bagaimana unsur-unsur cerita, bahkan unsur-unsur film itu sendiri, yang mendukung cerita tersebut apakah memperlancar cerita atau tidak. Memang demikianlah modus produksi film arus utama di hollywood. Para pembuat film akan berangkat dari cerita yang dibayangkan akan menarik minat para penonton. Begitu banyak ragam teknik dikembangkan untuk modus produksi ini. Antara lain, berkembangnya istilah “premis” cerita. Namun yang terjadi di dunia perfilm-an Indonesia, premis cerita yang digunakan oleh para pembuat film justru membuat masyarakat sebagai penontonnya sering mengalami kondisi kebingungan dalam mengikuti jalan cerita film. Film horor yang dari kemasannya saja seperti judulnya yang sudah menandakan ada kesan menyeramkan ternyata setelah ditonton tidak menyeramkan seperti yang dibayangkan semula, isi film dan jalan ceritanya malah menampilkan wanita-wanita seksi dengan tampilan dandanan yang sensual, baju yang terbuka, atau bahkan sering ditampilkan telanjang. Akhirnya kritikan bermunculan kepada para pembuat film horor saat ini, film horor yang tidak lagi horor, film yang sudah dibumbui adegan komedi, dipenuhi banyak adegan sensual, menampilkan bagian tubuh.
Film Indonesia dengan tema horor seksual yang sedang marak akhir-akhir ini telah mengekploitasi perempuan dengan memunculkan unsur seksualitas yang dimilikinya.[5] Pencitraan perempuan tidak sekedar dilihat sebagai objek, namun juga dilihat sebagai subjek pergulatan perempuan dengan menempatkan dirinya dalam realitas sosial, walaupun tidak jarang perempuan lupa bahwa mereka telah dieksploitasi dalam dunia hiper-realitas(pseudo-reality). Diantara masyarakat yang menjadi penikmat film horor seksual yang mengekploitasi perempuan tersebut adalah kaum perempuan sendiri dengan beragam latar belakang dan beragam motivasi. Hal tersebut mengundang tanya bagi penulis untuk memahami penerimaan perempuan terhadap eksploitasi perempuan dalam film Indonesia bertema horor seksual.
Analisis yang dikupas tajam dalam tulisan ini tidak hanya akan terbatas pada opini subjektif, namun juga intepretasi, pemahaman dari berbagai sumber yang didapatkan, seperti resensi film, dan tayangan film secara langsung. Dari analisis ini menunjukkan bahwa film horor yang ada unsur seksual telah mengeksploitasi perempuan. Namun memang masih ada perempuan yang merasa semua adegan itu masih dalam batas wajar karena tidak sampai mempertontonkan alat vital atau hubungan seksual. Perempuan menyadari bahwa keindahan fisiknya adalah sisi yang paling menarik. Namun tidak semua sadar bahwa justru kecantikan fisik ini dilirik banyak kalangan pemodal besar dan dijadikan sebagai komoditas yang bisa mencetak uang dan itu semua dibuktikan salah satunya melalui fenomena film horor yang mengandung unsur seks dan pornografi. Banyak rumah produksi berpacu dalam menghasilkan film seperti itu, seakan melupakan cerita film dan kualitasnya. Bahkan mendatangkan artis-artis luar negeri khususnya artis dibidang film ‘bokep’, dan ini menjadi fenomena baru selanjutnya yang mewarnai dinamika perfilm-an Indonesia saat ini. Seperti kedatangan Tera Patrick di kancah film horor Indonesia, ia membintangi film yang berjudul Rintihan Kuntilanak Perawan. Ia yang dikenal masyarakat sebagai pemain blue film (BF) kini telah membintangi film horor di Indonesia. Padahal sebelumnya bintang-bintang porno telah mewarnai kancah perfilm-an Indonesia lebih dulu, Miyabi bintang bokep asal Jepang yang bermain di film berjudul Menculik Miyabi, dan Rin Sakuragi juga membintangi salah satu film horor lainnya.
Suatu realita dari fenomena perfilm-an Indonesia yang memuat wanita sebagai pemain film-nya dengan unsur pornografi, karena tiap peran di dalam film horor Indonesia memberi kesan bahwa wanita adalah sosok yang lemah akibat sikap penindasan dari kaum laki-laki, karena seringkali dalam film horor Indonesia wanita  diceritakan mengalami pemerkosaan dan dibunuh, wanita tersebut selanjutnya menjadi hantu atau sosok misterius yang menggangu ketenangan masyarakat dan pelaku dari pembunuh perempuan tersebut. Cerita lainnya yakni memberi kesan bahwa wanita sebagai sumber dari kenikmatan, karena wanita ditampilkan dengan sosok yang seksi, sikap yang lemah lembut dengan pembawaan yang eksotis, wanita sering ditampilkan dengan busana yang minim atau seadanya. Untuk mendukung pernyataan tersebut penulis mencoba mendeskripsikan sekilas beberapa film horor Indonesia yang memuat cerita, gambar dan tayangan yang memperlihatkan wanita dengan tampilan seksi, pembawaan feminim, dan korban dari kekerasan.
Film “Jenglot dari Pantai Selatan”, Dari judulnya saja sudah dapat diarikan kalau film ini bergenre horor, penggunaan kata Jenglot dan tempat Pantai Selatan yang dikenal dengan sisi misteri dan menyeramkan. Namun dalam film tersebut menampilkan gadis-gadis yang berbikini di pinggir pantai, menampilkan adegan kissing dan adegan permainan ranjang dengan aktor laki-laki. Dalam film ini diceritakan sekelompok muda-mudi berlibur ke daerah Pantai Selatan, namun seorang penyihir misterius melakukan aksinya dengan melepaskan seekor jenglot yang berbentuk manusia dalam ukuran kecil, jenglot tersebut berwajah manusia, semakin tua manusia yang berwujud jenglot itu akan semakin kecil ukuran tubuh jenglotnya. Dan jenglot tersebut berkeliaran disekitar Pantai Selatan dan banyak membunuh para muda-mudi yang ada disekitar Pantai Selatan tersebut termasuk membunuh muda-mudi yang berperdan dalam film tersebut ketika mereka sedang berlibur. Banyak tayangan yang menampilkan kemesraan wanita berbikini dan bertelanjang dada dengan pemuda lainnya. Adegan kissing banyak ditampilkan dalam tayangannya, dan ada tayangan seorang wanita secara tidak sadar dalam keadaan mabuk mengalami tindak pencabulan oleh laki-laki dengan meraba-raba tubuh wanitanya. Terdapat perbedaan antara kemasan luar dengan apa yang dikemas dalam suatu film horor, nyatanya dari judul luar film itu memberi kesan horor dan mistis, namun kemasannya berisi unsure pornografi yaitu tampilan tubuh wanita, dan wanita yang berperan lemah diperdaya oleh laki-laki.
Film selanjutnya, berjudul Air Terjun Pengantin yang dimainkan oleh beberapa artis terkenal yakni Tamara Bleszynski, Marcel Chandrawinata, Tyas Mirasih, Kieran Sidhu, Navy Rizky Tavania, Andrew Ralph Roxburgh. Awal cerita, Tiara (Tamara Bleszynski) mengalami trauma berat karena kecelakaan hebat. Untuk menghilangkan traumanya, Tiara berencana berlibur. Ia pun mendengar cerita beberapa orang kalau Air Terjun Pengantin menjadi tempat yang asyik. Tiara mengajak teman-teman sepupunya untuk menemaninya. Dengan rombongan delapan orang termasuk sang kekasih, Lilo (Kieran Shidu) berangkatlah mereka ke Air Terjun Pengantin. Begitu melihat pantai yang masih asli, Tiara dan kawan-kawannya pun langsung meluapkan kegembiraan. Adegan itu merupakan adegan yang sempat membuat heboh masyarakat. Di adegan itu, Tamara, Tyas Mirasih dan aktris perempuan lainnya tampil seksi dengan balutan bikini. Namun kesenangan mereka tak berlangsung lama setelah beberapa kali muncul kejadian aneh. Hingga akhirnya Lilo bercerita di pulau tersebut sebenarnya terdapat penduduk, hanya saja semua penghuni pulau itu dibantai oleh orang misterius. Mulai dari situ, munculah manusia bertopeng yang menebar teror. Satu demi satu rombongan Tiara dibunuh dan diminum darahnya. Jalan cerita dari film ini juga membuat para penontonnya pada situasi kebingungan dan mengundang Tanya, pertanyaan seperti Apa motif pembunuhan pria bertopeng itu? Apakah Tiara bisa lari dari pembantaiaan tersebut? Apakah semua pemeran dalam film tersebut akan terbunuh semua?
Film horor Air Terjun Pengantin merupakan karya Rizal Mantovani, salah satu sutradara yang suka menakut-nakuti pecinta film Indonesia. Namun tidak seperti biasanya, karya Rizal yang satu ini terkesan miskin cerita. Film berdurasi 90 menit ini terasa hanya seperti kumpulan adegan kekerasan yang cenderung sadis dan penampilan seksi para aktrisnya. Terlalu banyak darah yang berceceran, Air Terjun Pengantin tak layak dikonsumsi anak-anak. Tidak heran jika Tamara, salah seorang pemeran dalam film itu, meminta supaya penonton yang ingin menonton film Air Terjun Pengantin diperiksa KTP-nya terlebih dahulu, sehingga dapat mencegah anak-anak dan remaja yang belum pantas untuk menontonnya.
Dari judulnya yang memberikan kesan eksotis benar-benar dapat dilihat dari tiap tayangan yang ditampilkan, beberapa pasangan muda-mudi yang belum menikah berlibur dan tiap saat melakukan adegan seks. Tampilan wanitanya pun sering menggunakan baju bikini, adegan mandi ‘bareng’ pasangan muda-mudi, ada pula adegan wanita yang sedang mandi dengan semua bagian tubuh yang tampak jelas sedang telanjang. Dan disini adegan kekerasan juga mendominasi di tiap bagiannya, tayangan yang menampilkan wanita disakiti, dilukai secara fisik. Aksi sadis pembunuh bertopeng itu merenggut beberapa nyawa wanita dan darah segar yang mengucur diminum oleh pembunuh tersebut.
Film ketiga yang menjadi bahan analisis adalah Pocong Rumah Angker. Dalam ceritanya, beberapa anak muda yang iseng melakukan aksi memburu hantu, dan memang nyatanya mereka didatangi oleh pocong yang menyamar sebagai penari jaipong, terutama ketika mereka menempati sebuah rumah tua sebagai tempat tinggal sementara mereka. Masih sama dengan film horor kebanyakan. Pemain film wanita atau aktrisnya ditampilkan seksi, belahan dada yang menganga, dan adegan ciuman yang dilakukan oleh para pemain. Adegan ciuman salah seorang pemain dengan penari jaipong yang sebelumnya tidak disadari bahwa yang diciumnya adalah pocong dengan muka menyeramkan. Pocong tersebut selalu mengikuti tiap aktivitas para pemainnya, sehingga menimbulkan trauma mendalam bagi pemain dalam film itu. Yang menjadi tokoh sentral disini adalah pocong yang menyamar sebagai penari jaipong, seiring dengan judulnya yakni Pocong Rumah Angker.
Pembagian jenis film horor dapat diketahui dari  tulisan Wicaksono Adi & Nurruddin Asyhadie, Paramarupa Film Horor Kita.[6] Menurut tulisannya, yang sebetulnya membahas perkembangan film horor di Indonesia, ada ketegangan film horor berjenis demonic horor (horor dengan tokoh-tokoh setanwi, atau supranatural) dan pyschological horror (horor yang bersumber dari persoalan kejiwaan). Jika kita menerima bahwa film horor pertama Indonesia adalah Tengkorak Hidoep (1941, Tan Tjoei Hock), maka sejarah film horor Indonesia diawali oleh film demonic horror. Sementara, jika kita mengacu pada film Lisa sebagai film horor Indonesia yang pertama (seperti disebutkan pula dalam buku Katalog Film Indonesia 1926-2005), maka sejarah film horor Indonesia justru dimulai dari psychological horror. Pertanyaannya, mengapa ada dua versi tentang “film horor Indonesia yang pertama”, dengan jarak waktu masing-masing versi sepanjang 30 tahun? Barangkali soalnya terletak pada definisi film horor yang dipakai. Rupanya, film yang melibatkan unsur supernatural seperti Tengkorak Hidoep dengan sendirinya adalah film horor. Padahal, bisa jadi sebuah film melibatkan alam gaib tanpa menjadi film horor. Misalnya, jika unsur supernatural (termasuk hantu) itu disajikan sebagian dari sebuah cerita fantasi atau cerita dongeng seperti yang agaknya terjadi pada Tengkorak Hidoep. Jika kita kembali kepada pengertian paling dasarnya, bahwa film horor adalah film yang dirancang untuk menerbitkan rasa takut, maka film Lisa lebih memenuhi syarat sebagai film horor Indonesia pertama. Film ini menyajikan narasi ke-ngerian yang timbul dari rasa bersalah tokoh Ibu tiri (Rahayu Effendi) karena memerintahkan orang untuk membunuh Lisa (Lenny Marlina). Pada tahun yang sama, terbit pula film Beranak Dalam Kubur, film ini lebih laris dibanding Lisa. Pada 1972, muncul lagi film horor berjenis psychological horror, berjudul Pemburu Mayat  tentang seorang psikopat pengidap nekrofilia (gemar bersetubuh dengan mayat). Lagi-lagi tak terlalu berhasil di pasar, dibanding demonic horror berjudul Ratu Ular. Dan dapat disimpulkan bahwa pada akhirnya, “pertarungan” antara dua jenis film horor itu di Indonesia dimenangi oleh demonic horror. Itulah sejarah awal tentang fenomena film horor dimasa lalu, ada pertentangan dan pertarungan tiap film horor antara satu masa tertentu dengan masa lainnya. Dan pertentangan kembali muncul dalam film horor Indonesia yang ada kaitannya tentang hal jender. Dalam konsep jender wanita atau perempuan dipahami sebagai sosok yang feminim, digunakan sebagai alat untuk memasarkan film yang diproduksi.
Dan terakhir penulis mencoba deskripsikan data dari pengalaman empirik penulis ketika menonton langsung salah satu film horor Indonesia,  yakni Arwah Goyang Karawang. Dilihat dari penamaan judulnya saja, sudah terbersit di pikiran bahwa ini adalah film horor Indonesia. Akan tetapi dugaan saya salah. Film ini lebih banyak mempertontonkan adegan panas pemainnya. Bagaimana tidak, di awal film sudah disuguhkan adegan panas antara pemeran pria dan wanitanya. Adegan itu bukan hanya sekali saja diperlihatkan. Di beberapa bagian adegan itu berulang lagi dilakukan. Pemeran wanita yang terkenal itu juga selalu berpakaian seksi sepanjang film diputar. Ada juga adegan wanita yang sedang berenang menggunakan bikini dan adegan mandi di kamar mandi. Walaupun tidak memperlihatkan secara jelas bagian tubuh pemeran wanita, saya pikir film ini sudah terlewat batas. Apalagi di dalam studio, penonton malah membicarakan ukuran baju dalam si wanita itu. Penonton menjadi berpikir ‘ngeres’. Ditambah saat menonton itu ada beberapa anak-anak yang menonton. Kenapa tidak ada sensor dari pihak berwenang akan hal ini? Padahal ini adalah sebuah film horor dan sarat dengan adegan-adegan khusus bagi dewasa. Dari segi kehororan sendiri, film ini tidak terlalu menyeramkan. Hanya sound effect saja yang membuat penonton kaget. Saya menjadi bertanya pada diri sendiri sebenarnya film ini  horor atau film panas? Menurut saya pribadi ini termasuk gabungan film panas dan film horor, untuk menjadi film panas yang full sepertinya tanggung dan tidak berani, dan untuk menampilkan sisi horor atau mistisnya juga tanggung. Sehingga tampak film-film horor Indonesia saat ini pada posisi yang menggantung dan ketidakjelasan arah tujuannya, apakah ke arah blue film (BF)/bokep atau ke arah film horor.
Dari pendeskripsian analisis data film di atas dan sumber lainnya, dapat diambil dua poin utama yang menyebabkan ada benturan pada konsep jender.Pertama, Dimana dari segi penamaan judul film. Dan Kedua, dari segi tindakan perlakuan terhadap wanita yang ditampilkan di materi film. Banyak film yang dari judulnya sudah mengangkat dan menyinggung status-peran wanita sebagai sentral dari film-nya. Sebut saja film Rumah Dara, Si Manis Jembatan Ancol,  Beranak dalam Kubur, Ratu Ular, Hantu Puncak Datang Bulan, Rintihan Pocong Ngesot, Hantu Susu Kendor Perawan,  Noda Darah Kutang Berenda, Pocong Hamil sebelum Nikah, Kuntilanak Adopsi Anak, Bunting Diperkosa Pocong, Suster Ngesot Lari, Selangkangan Berdarah, Misteri Wanita Berjenggot, Misteri Hantu Kutang Hitam, Beranak dari Dubur, dan masih banyak lagi film horor yang judulnya aneh dan menjadikan sosok dan peran wanita tampilan utama dari sisi luar yakni judul film horor tersebut. tampak jelas kalau wanita yang akan ditampilkan diisi film, dan tiap bagian tubuh wanita disebutkan satu per satu dibagian judulnya, yakni bagian selangkangan, paha,pinggul, pantat, belahan dada dan payudara. Peran wanita juga dapat dilihat dari judul film horor tersebut yakni peran wanita yang hamil, melahirkan, beranak, datang bulan, sebagai ratu, dubur.
Kedua, dari segi sikap/perlakuan yang dilakukan wanita di film horor, dan perlakuan yang datang kepada wanita ditiap film horor. Untuk dapat membuktikan pernyataan ini, dapat dilihat dari bagian isi film yang ditayangkan. Sikap yang dibawakan oleh wanita di tiap film horor adalah sikap yang sangat lembut sehingga tak berdaya ketika mendapat perlakuan senonoh atau perlakuan kekerasan fisik dari lak-laki. Ada wanita yang digambarkan diperkosa oleh pemuda, kemudian dibunuh selanjutnya arwah dari wanita itu menjadi roh penasaran dan bergentayangan mengganggu masyarakat sekitar dan terutama sering mengganggu pelaku pemerkosaan yang disertai pembunuhannya. Sikap lainnya adalah sikap yang nan eksotis, vulgar, seksi, sensual. Beberapa kata tersebut mengerucut kepada makna pornografi dan pornoaksi. Wanita dalam film horor sering menggunakan baju yang minim artinya baju yang digunakan mempertontonkan bagian tubuh yang bagi masyarakat awam sebagai bagian tubuh yang sensitif yakni bagian payudara, sekitar paha dan selangkangan, sekitar pinggul dan pantat, bibir wanita yang berpagutan dengan bibir laki-laki. Setiap peran yang dibawakan para wanita di dalam film horor menjadi bumbu hangat dalam berbagai film horor yang marak beredar saat ini, sehingga mengurangi esensi dan makna dari horor mistisnya suatu film.  Bagi kalangan masyarakat umum hal ini sudah menjadi kebiasaaan dihadapi dan dilihat, bahkan sudah menjadi konsumsi publik bagi kalangan anak-anak dan remaja. Kesan horor dari suatu film menjadi berkurang dibenak anak-anak dan remaja saat ini, disebabkan oleh materi film yang disuguhkan, dan sedari awal-pun judul dari suatu film sudah mengurangi makna horor suatu film, seperti yang telah disebutkan di atas.
            Pada tingkat intelektual penyebutan dan pembahasan wanita/perempuan tetap harus memperhatikan tubuhnya, sebuah materi yang membungkus esensi dan eksistensi perempuan dan yang kemudian mendefenisikan perempuan itu sendiri. bahwa pendefenisian perempuan lewat tubuhnya melegitimasi perannya seperti pendefenisian biologis dimana perempuan mempunya kemampuan untuk hamil, oleh sebab itu lemah sensitif dan lemah.[7] Tubuh perempuan telah menjadi kepentingan segala kelompok tentu signifikan bagi penggerak bisnis dibidang gambaran grafis, yakni pada tulisan ini penulis menyebutnya “kalangan rumah produksi”, dengan tujuan mengeksploitasi seksualitas perempuan lewat gambar ataupun tayangan yang menimbulkan birahi penontonnya yakni kaum laki-laki.
Tubuh menjadi modal dasar dalam karya sebuah film, dimana tubuh wanita menentukan lakunya film di pasaran. Untuk membahas konsep tubuh dengan kajian Sosiologi Kebudayaan. Penulis menggunakan konsep Docile Body untuk menjelaskan makna tubuh, yang dikemukakan oleh pemikir Michel Foucault. Dalam Docile Body makna tubuh lentur secara sosial oleh pendefinisian historis, dan tubuh itu dimaknai sebagai suatu teks. Jadi tubuh tidak saja berasal dari penjelasan secara fisik dan bagian-bagian tubuh. Dalam film horor Indonesia kita dapat memaknai tubuh yang ditampilkan didalamnya, kita melihat tubuh pemain film yang wanita ditampilkan terbuka dan sumber pemuas hasrat nafsu laki-laki.
Setiap orang dapat menyimpulkan apa yang dilihat dari film horor yang ditonton, karena tubuh dimaknai seperti teks bacaan. Pendapat dari setiap individu yang menonton pun menjadi berbeda-beda, ada kemungkinan saya secara pribadi mengatakan kalau film yang saya tonton termasuk film yang mengandung unsur pornografi, namun bagi teman yang lain belum termasuk kategori porno. Disinilah terjadi perbedaan pemaknaan dari tiap individu sebagai pembacaa (reader) yang melihat tiap tayangan film tersebut seperti teks. Sesungguhnya penetapan defenisi porno-pun sampai saat ini masih belum jelas, walaupun sudah lahir undang-undang yang mengatur hal pornografi dan porno aksi. Akibatnya makna porno pun menjadi tidak tetap dan dimungkinkan makna yang berbeda-beda. Itulah perdebatan yang muncul di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Disebabkan oleh pemaknaan yang berbeda-beda dari tiap individu. Bahkan tidak menutup kemungkinan terjadinya perubahan makna dari suatu teks oleh karena adanya praktek diskursif melalui kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Dalam kaitannya tentang film horor terjadi perubahan makna dalam masyarakat, dahulunya film horor menayangkan adegan yang benar-benar memompa adrenalin, sehingga tiap penontonnya menjadi ketakutan dan merasakan suasana seram. Namun saat ini makna film horor telah berubah karena di dalam bagian film nya telah mengandung adegan yang menampilkan suasana romantis, tampilan tubuh wanita, dan adegan orang dewasa. Kekuasaan yang mempengaruhi perubahan makna tersebut berasal dari tiap individu, tiap individu berhak dan memiliki kekuasaan untuk memaknainya. Kekuasaan dari para pembuat film juga mempengaruhi perubahan makna di dalam kehidupan masyarakat. Mereka lah yang mengatur tiap adegan yang menjadi komposisi dari setiap film horor.
Kepentingan ekonomi sangat mendasari banyak lahir dan maraknya film horor di Indonesia. Tubuh yang indah dari wanita menjadi daya tarik untuk mendapatkan fans dan penonton dari masyarakat. Terjadi pembungkaman daya kritis, pengosongan ruang dialog, dan penutupan pintu praksis komunikasi.[8] Hal tersebut begitu mewakili dengan apa yang dirasakan oleh perempuan-perempuan dalam film horor di Indonesia, dan pihak Production House (PH) juga menggunakan segala cara untuk dilakukan yang tujuannya agar penonton beramai-ramai menonton film yang diproduksi oleh kalangan rumah produksi, produser dan sutradara film. Salah satu cara yang sangat kelihatan saat ini dengan mendatangkan artis-artis panas luar negeri, sehingga tidak jarang mendapat kecaman dari berbagai kalangan masyarakat Indonesia, sebut saja kalangan ulama dan agamawan beserta  Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengecam para produsen film horor, dan kritikan tajam yang datang dari para sutradara atau sineas film yang bertentangan dengan mereka, yakni datang dari Dedi Miswar, Riri Riza, dan sebagainya, begitu juga kalangan akademisi dan politisi juga ikut beramai-ramai memberikan kecamannya. Kalau dari pihak pemerintah, pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring sangat mengecam hal tersebut, karena sangat melecehkan status dan kedudukan dari kaum wanita. Sehingga pihak mereka-pun telah berusaha memblokir banyak situs porno di Indonesia, situs porno banyak yang telah ditutup oleh program Nawala-nya Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia, selanjutnya meningkatkan pengawasan peredaran film yang ketat terutama saat film sedang dalam proses tahapan sensor. Kementerian pemberdayaan perempuan juga sangat mengecam fenomena artis bokep yang menghiasi film-film horor Indonesia, sebagai kementerian yang menangani hal dan masalah perempuan ini sangat getol dalam mengecam dan menyerukan aksi pemberhentian film horor yang berisikan tayangan-tayangan porno dari pemeran wanita/aktrisnya. Para produsen film khususnya di film horor tidak lagi memperhatikan mutu dari film yang ingin diterjunkan ke masyarakat. Makna dari ke-horor-an pun mengalami pengurangan (reduksi). Justru makna pornografi yang makin kental dari tiap bagian film horor yang ditayangkan. Mempertontonkan tubuh-tubuh seksi, tubuh putih mulus, tubuh bugil, serta adegan yang mengundang birahi kaum laki-laki.
Masalah jender yang lahir dari fenomena film horor dapat dijelaskan dengan menggunakan perspektif feminis aliran feminisme sosialis. Aliran Feminisme Sosialis lahir di Jerman dan Rusia dengan beberapa tokohnya Clara Zetkin dan Rosa Luxemburg. Aliran ini berupaya menghilangkan struktur kelas dalam masyarakat berdasarkan jenis kelamin dengan melontarkan isu bahwa ketimpangan peran antara kedua jenis kelamin itu sesungguhnya lebih disebabkan oleh faktor budaya alam. Menolak anggapan tradisional dan para teolog bahwa status perempuan lebih rendah daripada laki-laki karena faktor biologis dan latar belakang sejarah.[9]
Apa yang dialami oleh para wanita yakni aktris di berbagai film horor Indonesia bukan dilakukan oleh tindakan individu secara sengaja tetapi akibat dari struktur sosial, politik, ekonomi yang erat kaitannya dengan sistem kapitalisme. Setiap pemilik modal besar dapat melakukan apapun untuk dapat memasarkan film-nya, dan laku dipasaran, sehingga diminati oleh masyarakat untuk ditonton. Bagi rumah produksi yang modalnya kecil tidak bisa se-fantastis para pemilik modal tersebut, sampai-sampai mendatangkan artis bokep internasional seperti Miyabi, Rin Sakuragi, Tera Patrick, dan artis seksi Indonesia seperti Julia Peres, Dewi Persik, dan lain-lain. Tidak mungkin wanita dapat memperoleh kesempatan yang sama seperti pria jika mereka masih tetap hidup dalam masyarakat yang berkelas, dapat pula dipahami mengapa wanita tidak pernah mendapat kesempatan yang sama dengan pria, dengan menganalisis hubungan antara status pekerjaan wanita dengan citra diri wanita. Struktur ekonomi atau kelas di dalam masyarakat memberikan pengaruh efektif terhadap status perempuan, karena itu untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan supaya seimbang dengan laki-laki diperlukan peninjauan kembali struktural mendasar terutama dengan menghapuskan dikotomi pekerjaan sektor domestik dan sektor publik.[10] Tindakan-tindakan marginal juga sering dirasakan oleh wanita yang berperan dalam film horor ini, mendapat pelecehan ketika terlibat dalam pekerjaan disektor publik, dan tidak jarang juga didengar masalah penundaan bayaran bermain film, hal ini dikarenakan wanita yang dianggap sebagai pihak yang lemah dan penurut sehingga seringkali banyak pihak yang menggunakan tenaganya namun tidak membayar jasanya sesuai dengan kontribusinya pada pembuatan produksi suatu film.
Berbagai masalah jender dalam film horor Indonesia semakin menyeruak ketika semakin banyak bertebaran film-film horor dan masyarakat makin disadarkan kalau film horor yang disuguhkan sebenarnya bukan film horor yang utuh namun sudah bercampur dengan unsur seks pornografi, tubuh-tubuh telanjang berjalan dengan santainya pada sebuah film horor, adegan-adegan cumbuan orang dewasa semakin sering ditayangkan dalam beberapa bagian filmnya, bagian tubuh wanita semakin sering terlihat, lilitan benang baju yang melekat pada tubuhnya tidak mampu untuk menutupi bagian tubuh nya, dan bahkan bagian tubuh yang dianggap suatu kehormatan menjadi suatu konsumsi masyarakat luas. Suatu fenomena yang merendahkan peran dari wanita sebagai bagian dari jender yang dikenal feminim.  Tubuh wanita menjadi penentu pemasaran dari suatu film horor dan artis yang terkenal dengan adegan-adegan panasnya membuat selera atau minat masyarakat meningkat pada suatu film horor.
Kenyataan lapangan tentang keberadaan perempuan dalam suatu film horor negeri ini membuktikan sebagian dari mereka masih banyak yang mengalami tekanan-tekanan dari kaum laki-laki.[11] Contohnya saja ketika dalam proses pembuatan film, aktris perempuan itu harus mematuhi dan mengikuti tiap perintah adegan yang diberikan oleh Sutradara dan pihak-pihak pembuat film yang lain. Perempuan mengikuti saja apa yang diperintahkan oleh mereka, dengan iming-iming bayaran yang tinggi apabila berani melakukan apa yang diperintahkan, seperti telanjang di dalam film, memakai baju seksi  seperti bikini dan baju renang, melakukan adegan dewasa seperti ciuman dan adegan ranjang dengan pemeran laki-laki. Dapat dilihat pula peran perempuan dalam pola konsumtif masyarakat Indonesia, minat dan selera masyarakat meningkat dengan menonton film horor yang berbau seks. Keterlibatan mereka ikut mendorong kenaikan pengeluaran untuk konsumsi masyarakat akan hiburan film. Isu gender mempermasalahkan identitas diri perempuan yang mempengaruhi tatanan hidup masyarakat terutama aspek sosial budaya dan ekonomi.[12]
Dalam tatanan ekonomi, peran dan sosok perempuan telah dimanfaatkan untuk memasarkan film horor. Perempuan menjadi potensi untuk daya tarik karena perempuan lebih dituntut dan disorot masyarakat agar memiliki atribut terpuji, yaitu keindahan. Perempuan yang dikondisikan untuk selalu tampil indah, cantik dan seksi. Kecantikan itu pula yang dilestarikan terutama bagi perempuan yang ikut terlibat dalam sektor kerja publik, seperti aktris di film horor tersebut. identitas perempuan juga dikemas dengan fashion pakaian yang dikenakan, dalam film horor Indonesia perempuan dikemas dan terkesan dipaksakan untuk mengenakan baju yang seksi agar aroma sensual dapat dirasakan oleh penikmat film-nya. Pakaian yang seperti itu melahirkan identitas baru bagi aktris yang menggunakannya, yakni aktris perempuan seksi. 
Bagi kaum laki-laki di dalam film horor Indonesia, digambarkan sebagai sosok yang kuat yang memiliki keberanian lebih dibanding kaum perempuan. Dan ketangguhan laki-laki juga diukur dari keberaniannya dalam berinteraksi dengan perempuan, termasuk dalam merayu dan mendekati perempuan. Bahkan dalam film sering diperlihatkan adegan mesra antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki yang memiliki keberanian besar menandakan kalau dia memiliki kekuasaan untuk mengatur perempuan dalam film, bahkan unsur paksaan yang cenderung melukai fisik sering ditampilkan, kemudian adegan laki-laki yang memperkosa dan memperdaya perempuan. Peran laki-laki yang lebih berkuasa juga dapat kita lihat ketika para sutradara laki-laki dan pembuat film yang lain mengatur setiap adegan yang akan dimainkan pemerannya, baik itu untuk pemeran laki-laki dan terutama bagi pemeran perempuan. Dalam hal pemakaian kostum, laki-laki menggunakan kostum baju yang biasa saja, tidak ada yang mencolok, atau bahkan mempertontonkan bagian tubuh vitalnya. Jadi dalam hal kostum terdapat perbedaan perlakuan antara pemain film horor yang laki-laki dan pemain yang perempuan.
Sebagai penutup dalam tulisan ini, ada beberapa poin penting yang tidak bisa dilupakan dan  dapat menjadi simpulan tulisan. Diantaranya, Pertama,Terjadi perubahan komposisi film horor Indonesia dimasa sekarang, film horor Indonesia telah memuat tayangan-tayangan yang mengandung unsur pornografi, karena menampilkan tubuh wanita yang seksi, menampilkan beberapa bagian tubuh wanita secara terbuka. Kedua, Kepentingan ekonomi yang mendasari perubahan tersebut, sehingga melahirkan fenomena baru dalam dunia perfilm-an Indonesia khususnya film horor, berbagai strategi dilakukan untuk dapat menarik minat perhatian dari masyarakat sebagai penontonnya, salah satunya dengan menggaet jasa dari artis film bokep kelas Internasional seperti Miyabi, Tera Patrick, dan Rin Sakuragi. Ketiga, Dari fenomena tersebut alhasil perempuan sebagai pemain di film horor menjadi tereksploitasi dengan hak kuasa dari rumah produksi, produser dan sutradara yang menginginkan aktrisnya untuk tampil seksi, mempertunjukkan bagian tubuhnya, dan beradegan orang dewasa dengan pemain film yang laki-laki, perempuan tidak mampu dalam melawan kenyataan yang ia hadapi dengan dalih faktor ekonomi yang mendasarinya untuk bermain di film horor walaupun harus berpenampilan seksi dan menunjukkan bagian tubuhnya yang sensitif kepada khalayak umum. 
Keempat, Terjadinya pemaknaan yang berbeda-beda di beberapa konsep. Seperti makna pornografi, makna tubuh. Hal ini disebabkan oleh kekuasaan dari tiap individu yang dimilikinya untuk memaknai suatu teks dengan pemaknaan yang berbeda-beda. Kelima, Tubuh wanita sebagai teks, dan dibaca oleh masyarakat sebagai reader-nya. Karena tubuh wanita sebagai faktor penentu lakunya sebuah film di pasaran, untuk itu tubuh seksi wanita menjadi hal yang penting dalam proses pembuatan film. Tubuh laki-laki dalam film horor tidak terlalu disorot karena dalam hal penggunaan kostum mereka menggunakan baju yang biasa saja. Perempuan dengan tubuh seksinya menjadi objek dari suatu film, sebagai  penghias dan daya tarik suatu film, dan tiap adegannya yang berusaha untuk memberikan kesenangan kepada penontonnya.
Tulisan ini sebagai analisa dan kritikan bagi Film horor Indonesia saat ini, karena tidak dapat lepas dari kritikan penulis yang berada pada posisi sebagai penonton dan pembaca realita teks. Satu hal yang menjadi solusi dalam menanggapi realita ini adalah dengan meningkatkan pengawasan saat melakukan sensor pada film yang hendak beredar. Lembaga sensor film yang memiliki kewenangan akan hal tersebut harusnya dapat maksimal dalam menyensor tiap tayangan dan adegan dari tiap film yang sedang disensor, termasuk dalam melakukan sensor pada film horor yang saat ini semakin banyak diproduksi.

Daftar Pustaka
Arivia, Gadis. Sebuah Kata Hati. Jakarta:Penerbit buku Kompas.2006.
Hollows, Joanna. Feminisme, Feminitas, dan Budaya Pop. Yogyakarta:Jalasutra.2000.
Kristanto, J.B. Katalog Film Indonesia. 1926-2005. Jakarta: penerbit Nalar, 2005.
Kartini, Putri. Suara Perih Perempuan. Yogyakarta:Galang Press, 2003.
Mosse, Cleves Julia. Gender dan Pembangunan. Yogyakarta:Pustaka Pelajar,1994.
Murnitati, Nunuk. Getar Gender. Magelang:Yayasan Indonesia Tera IKAPI.1996.
Sumiarni, Endang. Jender dan Feminisme. Yogyakarta: Wonderful Publishing Compsany.2004.
Sustiwi, Fadmi. Mengapa Perempuan. Yogyakarta:Multi Pressindo,2008.
Majalah Film, no. 3, Februari-Maret 2006.



[1] Tema besar yang dipilih penulis untuk dikembangkan menjadi sebuah karya tulisan akademis untuk kajian Sosiologi Kebudayaan.
[2] Julia Cleves Mosse. Gender dan Pembangunan. Yogyakarta:Pustaka Pelajar,1994,hlm 3.
[3] Kristanto, J.B. Katalog Film Indonesia. 1926-2005. Jakarta: penerbit Nalar, 2005
[4] Kristanto, J.B. Katalog Film Indonesia. 1926-2005. Jakarta: penerbit Nalar,2005
[5] Joanna Hollows. Feminisme, Feminitas, dan Budaya Pop.Yogyakarta:Jalasutra,2000, hlm 51
[6] Majalah Film, no. 3, Februari-Maret 2006.
[7] Gadis Arivia. Sebuah Kata Hati. Jakarta : Penerbit buku Kompas, 2006, Hlm 85
[8] Fadmi Sustiwi. Mengapa Perempuan. Yogyakarta:Multi Pressindo,2008, Hlm 4
[9] Dr.Endang Sumiarni SH,M.Hum. Jender dan Feminisme. Yogyakarta : Wonderful Publishing Company,2004,hlm 77
[10] Ibid.hlm 81
[11] Putri Kartini. Suara Perih Perempuan. Yogyakarta:Galang Press, 2003,hlm 52.
[12] Nunuk Murnitati. Getar Gender. Magelang:Yayasan Indonesia Tera IKAPI,1996, Hlm 186