Peran Tubuh Wanita sebagai Hiasan
dan Daya Tarik dalam Film Horor Indonesia[1]
Penulis memilih tema tentang Persoalan Jender dalam film horor Indonesia.
Penulis berusaha mendeskripsikan dan memberikan penjelasan tentang konsep
jender dan realita film horor di Indonesia, kemudian menghubungkan kedua hal
tersebut dengan kajian ilmu Sosiologi Kebudayaan, sehingga akan tampak analisis
yang bernilai akademis berdasarkan data yang disusun dari berbagai sumber yakni
buku, majalah, resensi film, pengalaman pribadi, dan menonton secara langsung
beberapa film horor Indonesia dari dvd dan bioskop.
Realita film horor Indonesia dan dinamikanya tidak lepas dari pengaruh
globalisasi yang sedang terjadi saat ini di Indonesia. Dunia perfilm-an
Indonesia secara umum mengalami pasang surut dalam hal produksi dan
pemasarannya. Begitu juga dengan film horornya yang mengalami berbagai
dinamika. Fenomena yang muncul saat ini adalah film horor yang diproduksi oleh
banyak rumah produksi film sedang didera demam film yang bernuansa eksotik,
atau dalam bahasa lainnya film horor yang diproduksi dan dipertontonkan kepada
khalayak umum mengandung hal pornografi. Pemain filmnya terutama pemain film
wanitanya ditampilkan dengan sisi eksotismenya, wanita yang eksotis dan seksi
menjadi nilai tambah dalam suatu film horor sekaligus hiburan yang menyelingi
setiap adegan yang memang horor dan mengerikan. Film horor yang menampilkan
wanita yang bertubuh seksi dan tampilan sensual memiliki kaitan terhadap konsep
jender, dimana wanita sebagai bagian dari konsep jender mengalami suatu
fenomena yang mengharuskan dirinya untuk tampil vulgar di depan khalayak umum
melalui karya produksi film. Sedangkan konsep jender sebenarnya tidak saja
berorientasi tentang jenis kelamin secara biologis, namun lebih dari itu yakni
jender sebagai seperangkat peran yang dibentuk oleh diri yang disampaikan
kepada orang lain apakah kita maskulin atau feminim. Seperangkat peran itu
meliputi penampilan, pakaian, sikap, kepribadian, bekerja di dalam atau di luar
rumah tangga, seksualitas, tanggung jawab keluarga dan sebagainya, semua itulah
yang secara bersama-sama membentuk dan memoles suatu peran jender seseorang.[2]
Masa globalisasi yang menandakan adanya perubahan suatu masyarakat di suatu
Negara, perubahan ke arah kemajuan baik secara fisik dan non fisik dalam berbagai
aspek kehidupan masyarakat tersebut seperti aspek sosial, ekonomi, politik,
budaya, seni dan lain-lain. Masa globalisasi menandakan batas-batas negara
mulai melebur dengan cepat. Prasangka, praduga, dan asumsi lama juga makin
sering harus tunduk pada fakta dan kecenderungan baru yang dipengaruhi oleh
hubungan antarkultur yang makin terbuka. Termasuk dalam dunia perfilman yang
merupakan bagian dari aspek seni budaya dalam masyarakat. Dunia perfilman
Indonesia secara umum mengalami pasang surut dalam hal produksi, isi materi
film, dan pemasarannya. Sehingga tiap dekade mengalami ciri khasnya, hal ini
tidak lepas dari pengaruh film-film dunia yang diproduksi oleh Negara lain
seperti Negara adi kuasa Amerika Serikat. Contoh di era tahun 1970-1980-an film
yang musim dikala itu yang bertemakan genre hero atau pahlawan.
Film superhero bukanlah hal baru buat jagad sinema kita. sineas
negeri ini pernah membuat film superhero, film yang bertema pahlawan
berkekuatan super macam Superman atau Spider-Man. Pada 1974,
sineas kita melahirkan Rama Superman Indonesia (Frans Totok). Judulnya
sudah bercerita film ini berkisah tentang apa dan siapa. Bergerak ke era
tahun 1980-1990-an film Indonesia yang banyak beredar yakni yang bergenre
percintaan dan anak muda. Seperti film Catatan si Boy, Blok M.
Perfilman Indonesia sempat memiliki sejarah
gemilang di tanah air pada tahun 1980-an, dimana banyak film Indonesia
yang merajai bioskop-bioskop lokal. Sayang puncak kejayaan Film Indonesia
pada tahun 1980-an tidak berlanjut ke tahun 1990-an. Pada tahun 1990-an,
perfilman Indonesia memasuki masa suram. Hampir semua film Indonesia berkutat
dalam tema-tema yang khusus orang dewasa dengan adegan menyerempet. Film
Indonesia tersingkir dari bioskop-bioskop di seluruh Indonesia, yang akhirnya
digantikan oleh Film-film Hollywood, film Bollywood, dan Film Asia Hong
Kong. Saat itu film yang berasal dari tiga wilayah itu sangat merajai dunia
perfilm-an di Indonesia, sehingga masyarakat sangat familiar dengan beberapa
aktor yang kala itu sering tampil di film yang ditayangkan di Indonesia,
seperti Andy lau, Jacky Chan, beberapa pemain film India, dan pemain film
Amerika.
Terpuruknya Film Indonesia di Negara
sendiri berlangsung sampai awal tahun 2000, sampai muncul nya film Petualangan
Sherina yang diperankan oleh Sherina Munaf. Film drama musical karya Riri Riza
dan Mira Lesmana berhasil menjadi tonggak kebangkitan kembali perfilman
Indonesia. Setelah film Petualangan Sherina, mulai muncul film dengan berbagai
tema, Film Jelangkung yang merupakan tonggak tren film horor remaja., Film Ada
Apa dengan Cinta? yang mengorbitkan sosok Dian Sastrowardoyo dan Nicholas
Saputra, Di Sini Ada Setan, Tusuk Jelangkung, Biarkan Bintang Menari, Eiffel
I’m in Love, Arisan! Selain film komersil, perfilman Indonesia berhasil
melahirkan banyak film non komersil yang berhasil memenangkan penghargaan
internasional, antara lain : Film Pasir Berbisik, Daun di Atas Bantal, dan
lain-lain.
Genre film di era sejak tahun 2000-an hingga kini
berkutat pada dua tema besar yang berbeda yakni tema percintaan dan tema horor.
Kedua genre ini hingga kini merajai dan marak beredar dalam berbagai media
sehingga dapat dikonsumsi oleh publik, baik itu melalui televisi, layar lebar
bioskop dan lain-lain. Banyak pihak berpendapat bahwa film yang beredar di awal
abad ke 20 ini sebagai bentuk kemunduran dunia perfilm-an Indonesia. Film yang
diproduksi oleh rumah produksi film, produser dan sutradara tidak lagi memiliki
kualitas yang mumpuni dibanding dengan film-film Negara luar seperti Negara
Amerika Serikat dengan Hollywood-nya dan India dengan Bollywood-nya. Mereka
hanya mengejar omset dengan mengumbar unsur seks dengan mengorbankan mutu film.
Sebab itu, para penonton harus jeli dalam memilih film yang akan ditonton.
Sebagai sebuah genre, film horor memiliki beberapa
konvensi atau formula yang mencakup setting ruang dan waktu, tokoh,
dan alur yang harus dipenuhi. Will Wright, seorang sineas Amerika independen,
dalam tulisannya yang berjudul Understanding
Genres: The Horror Films memerinci beberapa konvensi genre film horor,
sebagai berikut:
a.
Tokoh utama biasanya adalah korban yang mengalami teror atau tokoh pembawa
bencana.
b.
Tokoh Antagonis atau tokoh pembawa kejahatan biasanya terasing atau tersingkir
secara sosial atau bukan bagian dari dunia nyata
c.
Dekor ruang relatif monoton. Misalnya sebuah rumah, kota terpencil, rumah
sakit. Dekor waktu didominasi malam hari atau suasana gelap.
d.
Tokoh agama sering dilibatkan untuk menyelesaikan masalah
e.
Hal-hal supranatural atau tahayul dipakai untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa
yang tidak dapat dijelaskan secara rasional.
f.
Tokoh anak biasanya memiliki kekuatan berkat kemurnian jiwa mereka.
g.
Adegan kekerasan fisik sering menjadi warna utamanya, misalnya pembunuhan,
teror, mutilasi, dan darah.
Berbeda dengan masyarakat Eropa dan Amerika yang
cenderung lebih rasional, masyarakat Indonesia sangat dekat dengan dunia
supranatural. Latar belakang kemunculan genre ini di Indonesia memang masih
memerlukan kajian yang mendalam, namun mengingat dunia supranatural, tahayul,
dan cerita-cerita hantu menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan
masyarakatnya, maka sangatlah masuk akal apabila genre ini tumbuh subur dan
disukai, ditambah pula dengan isi film yang mengandung unsur tayangan seks,
tampilan wanita yang bertubuh seksi dan telanjang.
Masa kejayaan film horor Indonesia adalah era tahun
1980an. Kejayaan disini bukan hanya dari tingginya jumlah produksi film, tetapi
juga tingginya jumlah penonton, dan banyaknya film horor pada masa ini yang
mendapatkan penghargaan dari sisi kualitas. Tercatat 69 judul film horror,
jumlah produksi tertinggi genre horor sampai saat ini, dapat dinikmati
penonton. Horor hantu masih menjadi favorit. Dari 69 judul tersebut hanya ada
satu yang mengambil bentuk horor psikologis, yaitu Misteri Sumur Tua (1987).
Penghargaan dunia film juga didapatkan oleh film horor. Ratu Pantai
Selatan(1980) mendapatkan piala LPKJ pada FFI 1981 untuk Efek Khusus; Rina
Hassim dalam Genderuwo (1981) masuk unggulan FFI 1981 untuk Pemeran
Pembantu Wanita; Masih di FFI tahun yang sama Ratu Ilmu Hitam (1981)
bahkan masuk unggulan dalam lebih banyak kategori, Suzana untuk Pemeran Utama
Wanita, WD Mochtar untuk Pemeran Pembantu Pria, juga editing, fotografi, dan
artistik. Pada FFI 1987, 7 Manusia Harimau (1986) masuk unggulan
untuk Pemeran Pembantu Pria (Elmanik), sementara Pernikahan Berdarah (1987)
diunggulkan untuk kategori Artistik pada FFI 1988.[3]
Pada tahun-tahun selanjutnya, jumlah produksi film
horor menurun sampai lebih dari separuh, sekitar 33 judul. Hal ini sejalan juga
dengan lesunya dunia perfilman Indonesia secara menyeluruh. Tidak ada terobosan
baru baik dari segi tema atau dari segi penyajian. Sebagian besar film yang ada
hanya mengulang tema-tema yang sebelumnya telah dibuat, seperti sekuel dari
film sebelumnya: Misteri dari Gunung Merapi II (Titisan Roh Nyai Kembang) (1990), Misteri
dari Gunung Merapi III (Perempuan Berambut Api) (1990), yang melanjutkan Misteri
dari Gunung Merapi (Penghuni Rumah Tua), (1989) atau versi layar lebar
serial televisi yang sukses, seperti Si Manis Jembatan Ancol (1994).
Keberhasilan Petualangan Cinta Nyi Blorongdalam memadukan horor dan
eksploitasi tubuh perempuan menjadi formula selanjutnya yang mengantarkan
perfilman Indonesia pada masa kejatuhan.Gairah Malam (1993), Godaan
Perempuan Halus (1933), Misteri di Malam Pengantin (1993), Susuk
Nyi Roro Kidul (1993), Godaan Membara, 1994, Cinta
Terlarang (1994), Pawang (1995), Bisikan Nafsu (1996), Mistik
Erotik (1996), Rose Merah, (1996), Birahi Perempuan Halus (1997)
adalah judul-judul film yang khas pada masa itu.[4]
Sesungguhnya isi materi film adalah suatu cerita
yang dinarasikan oleh pembuat film yakni sutradara lewat tampilan fisik dan
nyata, cerita itu menjadi hidup karena diperankan langsung oleh pemain
film-nya. Cerita film yang baik akan memberikan rasa berkesan kepada penonton,
apakah film tersebut menghibur atau tidak, menyeramkan atau tidak, menyentuh
atau tidak. Dalam khasanah film arus utama di Hollywood, cerita jadi tolok
ukur utama. Sebuah film akan diukur dari menarik atau tidak ceritanya, dan
bagaimana unsur-unsur cerita, bahkan unsur-unsur film itu sendiri, yang
mendukung cerita tersebut apakah memperlancar cerita atau tidak. Memang
demikianlah modus produksi film arus utama di hollywood. Para pembuat film akan
berangkat dari cerita yang dibayangkan akan menarik minat para penonton. Begitu
banyak ragam teknik dikembangkan untuk modus produksi ini. Antara lain,
berkembangnya istilah “premis” cerita. Namun yang terjadi di dunia perfilm-an
Indonesia, premis cerita yang digunakan oleh para pembuat film justru membuat
masyarakat sebagai penontonnya sering mengalami kondisi kebingungan dalam
mengikuti jalan cerita film. Film horor yang dari kemasannya saja seperti
judulnya yang sudah menandakan ada kesan menyeramkan ternyata setelah ditonton
tidak menyeramkan seperti yang dibayangkan semula, isi film dan jalan ceritanya
malah menampilkan wanita-wanita seksi dengan tampilan dandanan yang sensual,
baju yang terbuka, atau bahkan sering ditampilkan telanjang. Akhirnya kritikan
bermunculan kepada para pembuat film horor saat ini, film horor yang tidak lagi
horor, film yang sudah dibumbui adegan komedi, dipenuhi banyak adegan sensual,
menampilkan bagian tubuh.
Film Indonesia dengan tema horor seksual yang sedang
marak akhir-akhir ini telah mengekploitasi perempuan dengan memunculkan unsur
seksualitas yang dimilikinya.[5]
Pencitraan perempuan tidak sekedar dilihat sebagai objek, namun juga dilihat
sebagai subjek pergulatan perempuan dengan menempatkan dirinya dalam realitas
sosial, walaupun tidak jarang perempuan lupa bahwa mereka telah dieksploitasi
dalam dunia hiper-realitas(pseudo-reality). Diantara masyarakat yang
menjadi penikmat film horor seksual yang mengekploitasi perempuan tersebut
adalah kaum perempuan sendiri dengan beragam latar belakang dan beragam
motivasi. Hal tersebut mengundang tanya bagi penulis untuk memahami penerimaan
perempuan terhadap eksploitasi perempuan dalam film Indonesia bertema horor
seksual.
Analisis yang dikupas tajam dalam tulisan ini tidak
hanya akan terbatas pada opini subjektif, namun juga intepretasi, pemahaman
dari berbagai sumber yang didapatkan, seperti resensi film, dan tayangan film
secara langsung. Dari analisis ini menunjukkan bahwa film horor yang ada unsur
seksual telah mengeksploitasi perempuan. Namun memang masih ada perempuan yang
merasa semua adegan itu masih dalam batas wajar karena tidak sampai
mempertontonkan alat vital atau hubungan seksual. Perempuan menyadari bahwa
keindahan fisiknya adalah sisi yang paling menarik. Namun tidak semua sadar
bahwa justru kecantikan fisik ini dilirik banyak kalangan pemodal besar dan
dijadikan sebagai komoditas yang bisa mencetak uang dan itu semua dibuktikan
salah satunya melalui fenomena film horor yang mengandung unsur seks dan
pornografi. Banyak rumah produksi berpacu dalam menghasilkan film seperti itu,
seakan melupakan cerita film dan kualitasnya. Bahkan mendatangkan artis-artis
luar negeri khususnya artis dibidang film ‘bokep’, dan ini menjadi fenomena
baru selanjutnya yang mewarnai dinamika perfilm-an Indonesia saat ini. Seperti
kedatangan Tera Patrick di kancah film horor Indonesia, ia membintangi film
yang berjudul Rintihan Kuntilanak Perawan. Ia yang dikenal masyarakat sebagai
pemain blue film (BF) kini telah membintangi film horor di Indonesia.
Padahal sebelumnya bintang-bintang porno telah mewarnai kancah perfilm-an
Indonesia lebih dulu, Miyabi bintang bokep asal Jepang yang bermain di film
berjudul Menculik Miyabi, dan Rin Sakuragi juga membintangi salah satu film
horor lainnya.
Suatu realita dari fenomena perfilm-an Indonesia
yang memuat wanita sebagai pemain film-nya dengan unsur pornografi, karena tiap
peran di dalam film horor Indonesia memberi kesan bahwa wanita adalah sosok
yang lemah akibat sikap penindasan dari kaum laki-laki, karena seringkali dalam
film horor Indonesia wanita diceritakan mengalami pemerkosaan dan
dibunuh, wanita tersebut selanjutnya menjadi hantu atau sosok misterius yang
menggangu ketenangan masyarakat dan pelaku dari pembunuh perempuan tersebut.
Cerita lainnya yakni memberi kesan bahwa wanita sebagai sumber dari kenikmatan,
karena wanita ditampilkan dengan sosok yang seksi, sikap yang lemah lembut
dengan pembawaan yang eksotis, wanita sering ditampilkan dengan busana yang
minim atau seadanya. Untuk mendukung pernyataan tersebut penulis mencoba
mendeskripsikan sekilas beberapa film horor Indonesia yang memuat cerita,
gambar dan tayangan yang memperlihatkan wanita dengan tampilan seksi, pembawaan
feminim, dan korban dari kekerasan.
Film “Jenglot dari Pantai Selatan”, Dari
judulnya saja sudah dapat diarikan kalau film ini bergenre horor, penggunaan
kata Jenglot dan tempat Pantai Selatan yang dikenal dengan sisi misteri dan
menyeramkan. Namun dalam film tersebut menampilkan gadis-gadis yang berbikini
di pinggir pantai, menampilkan adegan kissing dan adegan permainan
ranjang dengan aktor laki-laki. Dalam film ini diceritakan sekelompok muda-mudi
berlibur ke daerah Pantai Selatan, namun seorang penyihir misterius melakukan
aksinya dengan melepaskan seekor jenglot yang berbentuk manusia dalam ukuran kecil,
jenglot tersebut berwajah manusia, semakin tua manusia yang berwujud jenglot
itu akan semakin kecil ukuran tubuh jenglotnya. Dan jenglot tersebut
berkeliaran disekitar Pantai Selatan dan banyak membunuh para muda-mudi yang
ada disekitar Pantai Selatan tersebut termasuk membunuh muda-mudi yang
berperdan dalam film tersebut ketika mereka sedang berlibur. Banyak tayangan
yang menampilkan kemesraan wanita berbikini dan bertelanjang dada dengan pemuda
lainnya. Adegan kissing banyak ditampilkan dalam tayangannya, dan ada
tayangan seorang wanita secara tidak sadar dalam keadaan mabuk mengalami tindak
pencabulan oleh laki-laki dengan meraba-raba tubuh wanitanya. Terdapat
perbedaan antara kemasan luar dengan apa yang dikemas dalam suatu film horor,
nyatanya dari judul luar film itu memberi kesan horor dan mistis, namun
kemasannya berisi unsure pornografi yaitu tampilan tubuh wanita, dan wanita
yang berperan lemah diperdaya oleh laki-laki.
Film selanjutnya, berjudul Air Terjun Pengantin yang
dimainkan oleh beberapa artis terkenal yakni Tamara Bleszynski, Marcel
Chandrawinata, Tyas Mirasih, Kieran Sidhu, Navy Rizky Tavania, Andrew Ralph
Roxburgh. Awal cerita, Tiara (Tamara Bleszynski) mengalami trauma berat karena
kecelakaan hebat. Untuk menghilangkan traumanya, Tiara berencana berlibur. Ia
pun mendengar cerita beberapa orang kalau Air Terjun Pengantin menjadi tempat
yang asyik. Tiara mengajak teman-teman sepupunya untuk menemaninya. Dengan
rombongan delapan orang termasuk sang kekasih, Lilo (Kieran Shidu) berangkatlah
mereka ke Air Terjun Pengantin. Begitu melihat pantai yang masih asli, Tiara
dan kawan-kawannya pun langsung meluapkan kegembiraan. Adegan itu merupakan
adegan yang sempat membuat heboh masyarakat. Di adegan itu, Tamara, Tyas
Mirasih dan aktris perempuan lainnya tampil seksi dengan balutan bikini. Namun
kesenangan mereka tak berlangsung lama setelah beberapa kali muncul kejadian
aneh. Hingga akhirnya Lilo bercerita di pulau tersebut sebenarnya terdapat
penduduk, hanya saja semua penghuni pulau itu dibantai oleh orang misterius.
Mulai dari situ, munculah manusia bertopeng yang menebar teror. Satu demi satu
rombongan Tiara dibunuh dan diminum darahnya. Jalan cerita dari film ini juga
membuat para penontonnya pada situasi kebingungan dan mengundang Tanya, pertanyaan
seperti Apa motif pembunuhan pria bertopeng itu? Apakah Tiara bisa lari dari
pembantaiaan tersebut? Apakah semua pemeran dalam film tersebut akan terbunuh
semua?
Film horor Air Terjun Pengantin merupakan karya
Rizal Mantovani, salah satu sutradara yang suka menakut-nakuti pecinta film
Indonesia. Namun tidak seperti biasanya, karya Rizal yang satu ini terkesan
miskin cerita. Film berdurasi 90 menit ini terasa hanya seperti kumpulan adegan
kekerasan yang cenderung sadis dan penampilan seksi para aktrisnya. Terlalu
banyak darah yang berceceran, Air Terjun Pengantin tak layak dikonsumsi
anak-anak. Tidak heran jika Tamara, salah seorang pemeran dalam film itu,
meminta supaya penonton yang ingin menonton film Air Terjun Pengantin diperiksa
KTP-nya terlebih dahulu, sehingga dapat mencegah anak-anak dan remaja yang
belum pantas untuk menontonnya.
Dari
judulnya yang memberikan kesan eksotis benar-benar dapat dilihat dari tiap
tayangan yang ditampilkan, beberapa pasangan muda-mudi yang belum menikah
berlibur dan tiap saat melakukan adegan seks. Tampilan wanitanya pun sering
menggunakan baju bikini, adegan mandi ‘bareng’ pasangan muda-mudi, ada pula
adegan wanita yang sedang mandi dengan semua bagian tubuh yang tampak jelas
sedang telanjang. Dan disini adegan kekerasan juga mendominasi di tiap
bagiannya, tayangan yang menampilkan wanita disakiti, dilukai secara fisik.
Aksi sadis pembunuh bertopeng itu merenggut beberapa nyawa wanita dan darah
segar yang mengucur diminum oleh pembunuh tersebut.
Film ketiga yang menjadi bahan analisis adalah Pocong
Rumah Angker. Dalam ceritanya, beberapa anak muda yang iseng melakukan
aksi memburu hantu, dan memang nyatanya mereka didatangi oleh pocong yang
menyamar sebagai penari jaipong, terutama ketika mereka menempati sebuah rumah
tua sebagai tempat tinggal sementara mereka. Masih sama dengan film horor
kebanyakan. Pemain film wanita atau aktrisnya ditampilkan seksi, belahan dada
yang menganga, dan adegan ciuman yang dilakukan oleh para pemain. Adegan ciuman
salah seorang pemain dengan penari jaipong yang sebelumnya tidak disadari bahwa
yang diciumnya adalah pocong dengan muka menyeramkan. Pocong tersebut selalu
mengikuti tiap aktivitas para pemainnya, sehingga menimbulkan trauma mendalam
bagi pemain dalam film itu. Yang menjadi tokoh sentral disini adalah pocong
yang menyamar sebagai penari jaipong, seiring dengan judulnya yakni Pocong
Rumah Angker.
Pembagian jenis film horor dapat diketahui
dari tulisan Wicaksono Adi & Nurruddin Asyhadie, Paramarupa Film
Horor Kita.[6]
Menurut tulisannya, yang sebetulnya membahas perkembangan film horor di
Indonesia, ada ketegangan film horor berjenis demonic horor (horor
dengan tokoh-tokoh setanwi, atau supranatural) dan pyschological horror (horor
yang bersumber dari persoalan kejiwaan). Jika kita menerima bahwa film horor
pertama Indonesia adalah Tengkorak Hidoep (1941, Tan Tjoei Hock),
maka sejarah film horor Indonesia diawali oleh film demonic horror. Sementara,
jika kita mengacu pada film Lisa sebagai film horor Indonesia yang
pertama (seperti disebutkan pula dalam buku Katalog Film Indonesia
1926-2005), maka sejarah film horor Indonesia justru dimulai dari psychological
horror. Pertanyaannya, mengapa ada dua versi tentang “film horor Indonesia
yang pertama”, dengan jarak waktu masing-masing versi sepanjang 30 tahun?
Barangkali soalnya terletak pada definisi film horor yang dipakai. Rupanya, film
yang melibatkan unsur supernatural seperti Tengkorak Hidoep dengan
sendirinya adalah film horor. Padahal, bisa jadi sebuah film melibatkan alam
gaib tanpa menjadi film horor. Misalnya, jika unsur supernatural (termasuk
hantu) itu disajikan sebagian dari sebuah cerita fantasi atau cerita dongeng
seperti yang agaknya terjadi pada Tengkorak Hidoep. Jika kita kembali
kepada pengertian paling dasarnya, bahwa film horor adalah film yang dirancang
untuk menerbitkan rasa takut, maka film Lisa lebih memenuhi syarat
sebagai film horor Indonesia pertama. Film ini menyajikan narasi ke-ngerian
yang timbul dari rasa bersalah tokoh Ibu tiri (Rahayu Effendi) karena memerintahkan
orang untuk membunuh Lisa (Lenny Marlina). Pada tahun yang sama, terbit pula
film Beranak Dalam Kubur, film ini lebih laris
dibanding Lisa. Pada 1972, muncul lagi film horor berjenis psychological horror, berjudul
Pemburu Mayat tentang seorang psikopat pengidap nekrofilia (gemar
bersetubuh dengan mayat). Lagi-lagi tak terlalu berhasil di pasar, dibanding demonic
horror berjudul Ratu Ular. Dan dapat disimpulkan bahwa pada akhirnya,
“pertarungan” antara dua jenis film horor itu di Indonesia dimenangi oleh demonic horror. Itulah sejarah awal
tentang fenomena film horor dimasa lalu, ada pertentangan dan pertarungan tiap
film horor antara satu masa tertentu dengan masa lainnya. Dan pertentangan
kembali muncul dalam film horor Indonesia yang ada kaitannya tentang hal
jender. Dalam konsep jender wanita atau perempuan dipahami sebagai sosok yang
feminim, digunakan sebagai alat untuk memasarkan film yang diproduksi.
Dan terakhir penulis mencoba deskripsikan data dari
pengalaman empirik penulis ketika menonton langsung salah satu film horor
Indonesia, yakni Arwah Goyang Karawang. Dilihat dari penamaan judulnya
saja, sudah terbersit di pikiran bahwa ini adalah film horor Indonesia.
Akan tetapi dugaan saya salah. Film ini lebih banyak
mempertontonkan adegan panas pemainnya. Bagaimana tidak, di awal film
sudah disuguhkan adegan panas antara pemeran pria dan wanitanya.
Adegan itu bukan hanya sekali saja diperlihatkan. Di beberapa bagian adegan itu
berulang lagi dilakukan. Pemeran wanita yang terkenal itu juga selalu
berpakaian seksi sepanjang film diputar. Ada juga adegan wanita yang sedang
berenang menggunakan bikini dan adegan mandi di kamar mandi. Walaupun tidak
memperlihatkan secara jelas bagian tubuh pemeran wanita, saya pikir film ini
sudah terlewat batas. Apalagi di dalam studio, penonton malah membicarakan
ukuran baju dalam si wanita itu. Penonton menjadi berpikir ‘ngeres’. Ditambah
saat menonton itu ada beberapa anak-anak yang menonton. Kenapa tidak ada sensor
dari pihak berwenang akan hal ini? Padahal ini adalah sebuah film horor
dan sarat dengan adegan-adegan khusus bagi dewasa. Dari segi kehororan sendiri,
film ini tidak terlalu menyeramkan. Hanya sound effect saja yang
membuat penonton kaget. Saya menjadi bertanya pada diri sendiri sebenarnya film
ini horor atau film panas? Menurut saya pribadi ini termasuk
gabungan film panas dan film horor, untuk menjadi film panas yang full sepertinya
tanggung dan tidak berani, dan untuk menampilkan sisi horor atau mistisnya juga
tanggung. Sehingga tampak film-film horor Indonesia saat ini pada posisi yang
menggantung dan ketidakjelasan arah tujuannya, apakah ke arah blue film
(BF)/bokep atau ke arah film horor.
Dari pendeskripsian analisis data film di atas dan
sumber lainnya, dapat diambil dua poin utama yang menyebabkan ada benturan pada
konsep jender.Pertama, Dimana dari segi penamaan judul film. Dan Kedua,
dari segi tindakan perlakuan terhadap wanita yang ditampilkan di materi film.
Banyak film yang dari judulnya sudah mengangkat dan menyinggung status-peran
wanita sebagai sentral dari film-nya. Sebut saja film Rumah Dara, Si Manis
Jembatan Ancol, Beranak dalam Kubur, Ratu Ular, Hantu Puncak Datang
Bulan, Rintihan Pocong Ngesot, Hantu Susu Kendor Perawan, Noda Darah
Kutang Berenda, Pocong Hamil sebelum Nikah, Kuntilanak Adopsi Anak, Bunting
Diperkosa Pocong, Suster Ngesot Lari, Selangkangan Berdarah, Misteri Wanita
Berjenggot, Misteri Hantu Kutang Hitam, Beranak dari Dubur, dan masih banyak
lagi film horor yang judulnya aneh dan menjadikan sosok dan peran wanita
tampilan utama dari sisi luar yakni judul film horor tersebut. tampak jelas
kalau wanita yang akan ditampilkan diisi film, dan tiap bagian tubuh wanita
disebutkan satu per satu dibagian judulnya, yakni bagian selangkangan,
paha,pinggul, pantat, belahan dada dan payudara. Peran wanita juga dapat
dilihat dari judul film horor tersebut yakni peran wanita yang hamil,
melahirkan, beranak, datang bulan, sebagai ratu, dubur.
Kedua, dari segi sikap/perlakuan yang dilakukan
wanita di film horor, dan perlakuan yang datang kepada wanita ditiap film
horor. Untuk dapat membuktikan pernyataan ini, dapat dilihat dari bagian isi
film yang ditayangkan. Sikap yang dibawakan oleh wanita di tiap film horor
adalah sikap yang sangat lembut sehingga tak berdaya ketika mendapat perlakuan
senonoh atau perlakuan kekerasan fisik dari lak-laki. Ada wanita yang
digambarkan diperkosa oleh pemuda, kemudian dibunuh selanjutnya arwah dari
wanita itu menjadi roh penasaran dan bergentayangan mengganggu masyarakat
sekitar dan terutama sering mengganggu pelaku pemerkosaan yang disertai
pembunuhannya. Sikap lainnya adalah sikap yang nan eksotis, vulgar, seksi,
sensual. Beberapa kata tersebut mengerucut kepada makna pornografi dan
pornoaksi. Wanita dalam film horor sering menggunakan baju yang minim artinya
baju yang digunakan mempertontonkan bagian tubuh yang bagi masyarakat awam
sebagai bagian tubuh yang sensitif yakni bagian payudara, sekitar paha dan selangkangan,
sekitar pinggul dan pantat, bibir wanita yang berpagutan dengan bibir
laki-laki. Setiap peran yang dibawakan para wanita di dalam film horor menjadi
bumbu hangat dalam berbagai film horor yang marak beredar saat ini, sehingga
mengurangi esensi dan makna dari horor mistisnya suatu film. Bagi
kalangan masyarakat umum hal ini sudah menjadi kebiasaaan dihadapi dan dilihat,
bahkan sudah menjadi konsumsi publik bagi kalangan anak-anak dan remaja. Kesan
horor dari suatu film menjadi berkurang dibenak anak-anak dan remaja saat ini,
disebabkan oleh materi film yang disuguhkan, dan sedari awal-pun judul dari
suatu film sudah mengurangi makna horor suatu film, seperti yang telah
disebutkan di atas.
Pada tingkat intelektual penyebutan
dan pembahasan wanita/perempuan tetap harus memperhatikan tubuhnya, sebuah
materi yang membungkus esensi dan eksistensi perempuan dan yang kemudian
mendefenisikan perempuan itu sendiri. bahwa pendefenisian perempuan lewat
tubuhnya melegitimasi perannya seperti pendefenisian biologis dimana perempuan
mempunya kemampuan untuk hamil, oleh sebab itu lemah sensitif dan lemah.[7]
Tubuh perempuan telah menjadi kepentingan segala kelompok tentu signifikan bagi
penggerak bisnis dibidang gambaran grafis, yakni pada tulisan ini penulis
menyebutnya “kalangan rumah produksi”, dengan tujuan mengeksploitasi
seksualitas perempuan lewat gambar ataupun tayangan yang menimbulkan birahi
penontonnya yakni kaum laki-laki.
Tubuh menjadi modal dasar dalam karya sebuah film,
dimana tubuh wanita menentukan lakunya film di pasaran. Untuk membahas konsep
tubuh dengan kajian Sosiologi Kebudayaan. Penulis menggunakan konsep Docile
Body untuk menjelaskan makna tubuh, yang dikemukakan oleh pemikir Michel
Foucault. Dalam Docile Body makna tubuh lentur secara sosial oleh
pendefinisian historis, dan tubuh itu dimaknai sebagai suatu teks. Jadi tubuh
tidak saja berasal dari penjelasan secara fisik dan bagian-bagian tubuh. Dalam
film horor Indonesia kita dapat memaknai tubuh yang ditampilkan didalamnya,
kita melihat tubuh pemain film yang wanita ditampilkan terbuka dan sumber
pemuas hasrat nafsu laki-laki.
Setiap orang dapat menyimpulkan apa yang dilihat
dari film horor yang ditonton, karena tubuh dimaknai seperti teks bacaan.
Pendapat dari setiap individu yang menonton pun menjadi berbeda-beda, ada
kemungkinan saya secara pribadi mengatakan kalau film yang saya tonton termasuk
film yang mengandung unsur pornografi, namun bagi teman yang lain belum
termasuk kategori porno. Disinilah terjadi perbedaan pemaknaan dari tiap
individu sebagai pembacaa (reader) yang melihat tiap tayangan film
tersebut seperti teks. Sesungguhnya penetapan defenisi porno-pun sampai saat
ini masih belum jelas, walaupun sudah lahir undang-undang yang mengatur hal
pornografi dan porno aksi. Akibatnya makna porno pun menjadi tidak tetap dan
dimungkinkan makna yang berbeda-beda. Itulah perdebatan yang muncul di
tengah-tengah kehidupan masyarakat. Disebabkan oleh pemaknaan yang berbeda-beda
dari tiap individu. Bahkan tidak menutup kemungkinan terjadinya perubahan makna
dari suatu teks oleh karena adanya praktek diskursif melalui kekuasaan yang ada
dalam masyarakat. Dalam kaitannya tentang film horor terjadi perubahan makna
dalam masyarakat, dahulunya film horor menayangkan adegan yang benar-benar
memompa adrenalin, sehingga tiap penontonnya menjadi ketakutan dan merasakan
suasana seram. Namun saat ini makna film horor telah berubah karena di dalam
bagian film nya telah mengandung adegan yang menampilkan suasana romantis, tampilan
tubuh wanita, dan adegan orang dewasa. Kekuasaan yang mempengaruhi perubahan
makna tersebut berasal dari tiap individu, tiap individu berhak dan memiliki
kekuasaan untuk memaknainya. Kekuasaan dari para pembuat film juga mempengaruhi
perubahan makna di dalam kehidupan masyarakat. Mereka lah yang mengatur tiap
adegan yang menjadi komposisi dari setiap film horor.
Kepentingan ekonomi sangat mendasari banyak lahir
dan maraknya film horor di Indonesia. Tubuh yang indah dari wanita menjadi daya
tarik untuk mendapatkan fans dan penonton dari masyarakat. Terjadi pembungkaman
daya kritis, pengosongan ruang dialog, dan penutupan pintu praksis komunikasi.[8]
Hal tersebut begitu mewakili dengan apa yang dirasakan oleh perempuan-perempuan
dalam film horor di Indonesia, dan pihak Production
House (PH) juga menggunakan segala cara untuk dilakukan yang tujuannya
agar penonton beramai-ramai menonton film yang diproduksi oleh kalangan rumah
produksi, produser dan sutradara film. Salah satu cara yang sangat kelihatan
saat ini dengan mendatangkan artis-artis panas luar negeri, sehingga tidak
jarang mendapat kecaman dari berbagai kalangan masyarakat Indonesia, sebut saja
kalangan ulama dan agamawan beserta Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang
mengecam para produsen film horor, dan kritikan tajam yang datang dari para
sutradara atau sineas film yang bertentangan dengan mereka, yakni datang dari
Dedi Miswar, Riri Riza, dan sebagainya, begitu juga kalangan akademisi dan
politisi juga ikut beramai-ramai memberikan kecamannya. Kalau dari pihak
pemerintah, pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring
sangat mengecam hal tersebut, karena sangat melecehkan status dan kedudukan
dari kaum wanita. Sehingga pihak mereka-pun telah berusaha memblokir banyak
situs porno di Indonesia, situs porno banyak yang telah ditutup oleh program
Nawala-nya Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia, selanjutnya
meningkatkan pengawasan peredaran film yang ketat terutama saat film sedang
dalam proses tahapan sensor. Kementerian pemberdayaan perempuan juga sangat
mengecam fenomena artis bokep yang menghiasi film-film horor Indonesia, sebagai
kementerian yang menangani hal dan masalah perempuan ini sangat getol dalam
mengecam dan menyerukan aksi pemberhentian film horor yang berisikan tayangan-tayangan
porno dari pemeran wanita/aktrisnya. Para produsen film khususnya di film horor
tidak lagi memperhatikan mutu dari film yang ingin diterjunkan ke masyarakat.
Makna dari ke-horor-an pun mengalami pengurangan (reduksi). Justru makna pornografi
yang makin kental dari tiap bagian film horor yang ditayangkan. Mempertontonkan
tubuh-tubuh seksi, tubuh putih mulus, tubuh bugil, serta adegan yang mengundang
birahi kaum laki-laki.
Masalah jender yang lahir dari fenomena film horor
dapat dijelaskan dengan menggunakan perspektif feminis aliran feminisme
sosialis. Aliran Feminisme Sosialis lahir di Jerman dan Rusia dengan beberapa
tokohnya Clara Zetkin dan Rosa Luxemburg. Aliran ini berupaya menghilangkan
struktur kelas dalam masyarakat berdasarkan jenis kelamin dengan melontarkan
isu bahwa ketimpangan peran antara kedua jenis kelamin itu sesungguhnya lebih
disebabkan oleh faktor budaya alam. Menolak anggapan tradisional dan para
teolog bahwa status perempuan lebih rendah daripada laki-laki karena faktor
biologis dan latar belakang sejarah.[9]
Apa yang dialami oleh para wanita yakni aktris di
berbagai film horor Indonesia bukan dilakukan oleh tindakan individu secara
sengaja tetapi akibat dari struktur sosial, politik, ekonomi yang erat
kaitannya dengan sistem kapitalisme. Setiap pemilik modal besar dapat melakukan
apapun untuk dapat memasarkan film-nya, dan laku dipasaran, sehingga diminati
oleh masyarakat untuk ditonton. Bagi rumah produksi yang modalnya kecil tidak
bisa se-fantastis para pemilik modal tersebut, sampai-sampai mendatangkan artis
bokep internasional seperti Miyabi, Rin Sakuragi, Tera Patrick, dan artis seksi
Indonesia seperti Julia Peres, Dewi Persik, dan lain-lain. Tidak mungkin wanita
dapat memperoleh kesempatan yang sama seperti pria jika mereka masih tetap
hidup dalam masyarakat yang berkelas, dapat pula dipahami mengapa wanita tidak
pernah mendapat kesempatan yang sama dengan pria, dengan menganalisis hubungan
antara status pekerjaan wanita dengan citra diri wanita. Struktur ekonomi atau
kelas di dalam masyarakat memberikan pengaruh efektif terhadap status
perempuan, karena itu untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan supaya
seimbang dengan laki-laki diperlukan peninjauan kembali struktural mendasar
terutama dengan menghapuskan dikotomi pekerjaan sektor domestik dan sektor
publik.[10]
Tindakan-tindakan marginal juga sering dirasakan oleh wanita yang berperan
dalam film horor ini, mendapat pelecehan ketika terlibat dalam pekerjaan
disektor publik, dan tidak jarang juga didengar masalah penundaan bayaran
bermain film, hal ini dikarenakan wanita yang dianggap sebagai pihak yang lemah
dan penurut sehingga seringkali banyak pihak yang menggunakan tenaganya namun
tidak membayar jasanya sesuai dengan kontribusinya pada pembuatan produksi suatu
film.
Berbagai masalah jender dalam film horor Indonesia
semakin menyeruak ketika semakin banyak bertebaran film-film horor dan
masyarakat makin disadarkan kalau film horor yang disuguhkan sebenarnya bukan
film horor yang utuh namun sudah bercampur dengan unsur seks pornografi,
tubuh-tubuh telanjang berjalan dengan santainya pada sebuah film horor,
adegan-adegan cumbuan orang dewasa semakin sering ditayangkan dalam beberapa
bagian filmnya, bagian tubuh wanita semakin sering terlihat, lilitan benang baju
yang melekat pada tubuhnya tidak mampu untuk menutupi bagian tubuh nya, dan
bahkan bagian tubuh yang dianggap suatu kehormatan menjadi suatu konsumsi
masyarakat luas. Suatu fenomena yang merendahkan peran dari wanita sebagai
bagian dari jender yang dikenal feminim. Tubuh wanita menjadi penentu
pemasaran dari suatu film horor dan artis yang terkenal dengan adegan-adegan
panasnya membuat selera atau minat masyarakat meningkat pada suatu film horor.
Kenyataan lapangan tentang keberadaan perempuan
dalam suatu film horor negeri ini membuktikan sebagian dari mereka masih banyak
yang mengalami tekanan-tekanan dari kaum laki-laki.[11]
Contohnya saja ketika dalam proses pembuatan film, aktris perempuan itu harus
mematuhi dan mengikuti tiap perintah adegan yang diberikan oleh Sutradara dan
pihak-pihak pembuat film yang lain. Perempuan mengikuti saja apa yang
diperintahkan oleh mereka, dengan iming-iming bayaran yang tinggi apabila
berani melakukan apa yang diperintahkan, seperti telanjang di dalam film,
memakai baju seksi seperti bikini dan baju renang, melakukan adegan
dewasa seperti ciuman dan adegan ranjang dengan pemeran laki-laki. Dapat
dilihat pula peran perempuan dalam pola konsumtif masyarakat Indonesia, minat
dan selera masyarakat meningkat dengan menonton film horor yang berbau seks.
Keterlibatan mereka ikut mendorong kenaikan pengeluaran untuk konsumsi
masyarakat akan hiburan film. Isu gender mempermasalahkan identitas diri
perempuan yang mempengaruhi tatanan hidup masyarakat terutama aspek sosial budaya
dan ekonomi.[12]
Dalam tatanan ekonomi, peran dan sosok perempuan
telah dimanfaatkan untuk memasarkan film horor. Perempuan menjadi potensi untuk
daya tarik karena perempuan lebih dituntut dan disorot masyarakat agar memiliki
atribut terpuji, yaitu keindahan. Perempuan yang dikondisikan untuk selalu
tampil indah, cantik dan seksi. Kecantikan itu pula yang dilestarikan terutama
bagi perempuan yang ikut terlibat dalam sektor kerja publik, seperti aktris di
film horor tersebut. identitas perempuan juga dikemas dengan fashion pakaian
yang dikenakan, dalam film horor Indonesia perempuan dikemas dan terkesan
dipaksakan untuk mengenakan baju yang seksi agar aroma sensual dapat dirasakan
oleh penikmat film-nya. Pakaian yang seperti itu melahirkan identitas baru bagi
aktris yang menggunakannya, yakni aktris perempuan seksi.
Bagi kaum laki-laki di dalam film horor Indonesia,
digambarkan sebagai sosok yang kuat yang memiliki keberanian lebih dibanding
kaum perempuan. Dan ketangguhan laki-laki juga diukur dari keberaniannya dalam
berinteraksi dengan perempuan, termasuk dalam merayu dan mendekati perempuan.
Bahkan dalam film sering diperlihatkan adegan mesra antara laki-laki dan
perempuan. Laki-laki yang memiliki keberanian besar menandakan kalau dia
memiliki kekuasaan untuk mengatur perempuan dalam film, bahkan unsur paksaan
yang cenderung melukai fisik sering ditampilkan, kemudian adegan laki-laki yang
memperkosa dan memperdaya perempuan. Peran laki-laki yang lebih berkuasa juga
dapat kita lihat ketika para sutradara laki-laki dan pembuat film yang lain
mengatur setiap adegan yang akan dimainkan pemerannya, baik itu untuk pemeran
laki-laki dan terutama bagi pemeran perempuan. Dalam hal pemakaian kostum,
laki-laki menggunakan kostum baju yang biasa saja, tidak ada yang mencolok,
atau bahkan mempertontonkan bagian tubuh vitalnya. Jadi dalam hal kostum
terdapat perbedaan perlakuan antara pemain film horor yang laki-laki dan pemain
yang perempuan.
Sebagai penutup dalam tulisan ini, ada beberapa poin
penting yang tidak bisa dilupakan dan dapat menjadi simpulan tulisan.
Diantaranya, Pertama,Terjadi perubahan komposisi film horor Indonesia
dimasa sekarang, film horor Indonesia telah memuat tayangan-tayangan yang
mengandung unsur pornografi, karena menampilkan tubuh wanita yang seksi,
menampilkan beberapa bagian tubuh wanita secara terbuka. Kedua, Kepentingan
ekonomi yang mendasari perubahan tersebut, sehingga melahirkan fenomena baru
dalam dunia perfilm-an Indonesia khususnya film horor, berbagai strategi
dilakukan untuk dapat menarik minat perhatian dari masyarakat sebagai
penontonnya, salah satunya dengan menggaet jasa dari artis film bokep kelas
Internasional seperti Miyabi, Tera Patrick, dan Rin Sakuragi. Ketiga, Dari
fenomena tersebut alhasil perempuan sebagai pemain di film horor menjadi
tereksploitasi dengan hak kuasa dari rumah produksi, produser dan sutradara
yang menginginkan aktrisnya untuk tampil seksi, mempertunjukkan bagian
tubuhnya, dan beradegan orang dewasa dengan pemain film yang laki-laki,
perempuan tidak mampu dalam melawan kenyataan yang ia hadapi dengan dalih
faktor ekonomi yang mendasarinya untuk bermain di film horor walaupun harus
berpenampilan seksi dan menunjukkan bagian tubuhnya yang sensitif kepada
khalayak umum.
Keempat, Terjadinya pemaknaan yang berbeda-beda
di beberapa konsep. Seperti makna pornografi, makna tubuh. Hal ini disebabkan
oleh kekuasaan dari tiap individu yang dimilikinya untuk memaknai suatu teks
dengan pemaknaan yang berbeda-beda. Kelima, Tubuh wanita sebagai teks, dan
dibaca oleh masyarakat sebagai reader-nya. Karena tubuh wanita sebagai faktor
penentu lakunya sebuah film di pasaran, untuk itu tubuh seksi wanita menjadi
hal yang penting dalam proses pembuatan film. Tubuh laki-laki dalam film horor
tidak terlalu disorot karena dalam hal penggunaan kostum mereka menggunakan
baju yang biasa saja. Perempuan dengan tubuh seksinya menjadi objek dari suatu
film, sebagai penghias dan daya tarik suatu film, dan tiap adegannya yang
berusaha untuk memberikan kesenangan kepada penontonnya.
Tulisan ini sebagai analisa dan kritikan bagi Film
horor Indonesia saat ini, karena tidak dapat lepas dari kritikan penulis yang
berada pada posisi sebagai penonton dan pembaca realita teks. Satu hal yang
menjadi solusi dalam menanggapi realita ini adalah dengan meningkatkan
pengawasan saat melakukan sensor pada film yang hendak beredar. Lembaga sensor
film yang memiliki kewenangan akan hal tersebut harusnya dapat maksimal dalam
menyensor tiap tayangan dan adegan dari tiap film yang sedang disensor,
termasuk dalam melakukan sensor pada film horor yang saat ini semakin banyak
diproduksi.
Daftar Pustaka
Arivia, Gadis. Sebuah Kata Hati. Jakarta:Penerbit
buku Kompas.2006.
Hollows, Joanna. Feminisme, Feminitas, dan Budaya Pop. Yogyakarta:Jalasutra.2000.
Kristanto, J.B. Katalog Film Indonesia. 1926-2005.
Jakarta: penerbit Nalar, 2005.
Kartini, Putri. Suara Perih Perempuan. Yogyakarta:Galang
Press, 2003.
Mosse, Cleves Julia. Gender dan Pembangunan.
Yogyakarta:Pustaka Pelajar,1994.
Murnitati, Nunuk. Getar Gender. Magelang:Yayasan
Indonesia Tera IKAPI.1996.
Sumiarni, Endang. Jender dan Feminisme. Yogyakarta:
Wonderful Publishing Compsany.2004.
Sustiwi, Fadmi. Mengapa Perempuan. Yogyakarta:Multi
Pressindo,2008.
Majalah Film, no.
3, Februari-Maret 2006.
[1] Tema
besar yang dipilih penulis untuk dikembangkan menjadi sebuah karya tulisan
akademis untuk kajian Sosiologi Kebudayaan.
[2]
Julia Cleves Mosse. Gender dan Pembangunan.
Yogyakarta:Pustaka Pelajar,1994,hlm 3.
[3] Kristanto,
J.B. Katalog Film Indonesia.
1926-2005. Jakarta: penerbit Nalar, 2005
[4] Kristanto,
J.B. Katalog Film Indonesia. 1926-2005.
Jakarta: penerbit Nalar,2005
[5] Joanna
Hollows. Feminisme, Feminitas, dan
Budaya Pop.Yogyakarta:Jalasutra,2000, hlm 51
[6] Majalah Film,
no. 3, Februari-Maret 2006.
[7] Gadis
Arivia. Sebuah Kata Hati. Jakarta
: Penerbit buku Kompas, 2006, Hlm 85
[8] Fadmi Sustiwi. Mengapa
Perempuan. Yogyakarta:Multi Pressindo,2008, Hlm 4
[9]
Dr.Endang
Sumiarni SH,M.Hum. Jender dan Feminisme. Yogyakarta
: Wonderful Publishing Company,2004,hlm 77
[11]
Putri Kartini. Suara Perih Perempuan. Yogyakarta:Galang Press, 2003,hlm 52.
[12]
Nunuk Murnitati. Getar Gender. Magelang:Yayasan
Indonesia Tera IKAPI,1996, Hlm 186


Tidak ada komentar:
Posting Komentar