Datang dari tanah Sumatera, 11 orang
pemain PSMS membawa persoalan mereka untuk bersama-sama dikonsumsi publik.
Tujuannya, untuk mendapatkan dukungan sebanyak mungkin, dan persoalan tunggakan
gaji selama 10 bulan segera diselesaikan. Fakta kekinian ini mengulang
peristiwa lalu yang dialami pemain sepakbola di Indonesia, menimbun
berkas-berkas kekelaman sepakbola dalam negeri. Saat pejabat dan pemodal besar
dunia sepakbola berebut kekuasaan dan bertukar kepentingan, yang dialami pemain
justru kontras berbeda. Upaya mencari dukungan penyelesaian kasus yang
dilakukan pemain PSMS Medan mengingatkan penulis pada kejadian lalu yang belum
terlupa. Pemain Persis Solo juga pernah mengalami persoalan serupa, bahkan
seorang pemainnya asal Paraguay Diego Mendieta dipulangkan ke negeri asalnya
dalam keadaan meninggal. Virus dan jamur membuat daya tahan tubuhnya menurun
dan berujung pada kematiaan. Saat itu Diego beserta pemain lain di Persis Solo
belum dibayarkan hak nya oleh manajemen klub.
Peristiwa seperti di Solo ternyata tidak
berhenti, di Jakarta kembali terulang. Pemain klub Ibukota ternyata pernah
merasakan persoalan gaji, salah satu hak dasar sebagai seorang pemain sepakbola.
Persoalan klub Persija menambah deret permasalahannya sendiri, sebelumnya supporter
fanatisnya menuntut transparansi keuangan manajemen klub dan persoalan kandang
(homebase) klub. Loyalitas tanpa
batas hanya sebuah ungkapan fanatis sesaat, jika loyalitas tidak didukung hal
teknis yang mendasar justru yang tercipta masalah baru. Gaji, semangat dan
loyalitas merupakan hal yang tidak lepas dari para pekerja di berbagai sektor,
tak terkecuali bagi mereka pekerja di lapangan hijau. Keterlambatan pembayaran,
tunggakan gaji, dan bahkan gaji tak dibayar akan menciptakan masalah baru di
berbagai ruang lingkup. Di skala mikro
bagi pemain itu sendiri, skala messo
(menengah) bagi manajemen, klub, dan supporter, dan di skala makro bagi seluruh insan dunia
sepakbola.
Realita
sepakbola Indonesia bisa jadi bahan tertawaan di negeri luar, saat negara lain
menciptakan kompetisi sepakbola yang semakin sengit, sepakbola dalam negeri
masih berkutat pada persoalan teknis yang sangat mendasar, gaji, manajemen
klub, kepengurusan PSSI, dan kompetisi liga nasional. Bagi masyarakat Indonesia
sendiri termasuk penulis, persoalan tersebut justru makin meningkatkan sikap
pesimis dan kecintaan pada sepakbola dalam negeri kian menurun, apalagi
liga-liga eropa semakin kencang dihadirkan ke dalam negeri. Anak-anak Indonesia
mungkin lebih kenal dengan pesepakbola luar negeri, sebutlah Christiano
Ronaldo, Lionel Messi, Van Persie, Wayne Ronney, Buffon, dan sederet pemain
bintang lainnya. Untuk pemain Indonesia? Kita mengenal mereka para pesepakbola
Indonesia saat mereka menjadi konsumsi publik, saat dimana mereka didera
persoalan ketidaksejahteraan sebagai pemain pesepakbola.
Sebenarnya
PSMS Medan bukanlah klub sepakbola yang baru lahir kemarin sore, klub ini
pernah mengalami masa produktif di era kejayaannya di tahun 80-an, melahirkan
pemain-pemain hebat dan terlibat dalam keanggotaan pemain Timnas Indonesia.
Kejayaan tersebut perlahan memudar, degradasi dari liga tertinggi pernah
dialami, kekalahan demi kekalahan semakin sering, gaya permainan ‘rap-rap’ nya
juga tidak terlihat apalagi beberapa tahun terakhir, dan kini, persoalan
tunggakan gaji pemain meramaikan berita sepakbola dalam negeri. Sebutan The
Killer yang disematkan kepada klub dan pemain karena masa-masa tangguh dan
produktivitas yang dialaminya dahulu. Sebutan tersebut dipinjam penulis untuk
julukan sepakbola Indonesia, yang mencerminkan perjuangan pesepakbola Indonesia
di klubnya masing-masing tak sebanding dengan hak yang diterima. Nasib
pesepakbola Indonesia, salah satunya yang terjadi di klub PSMS merupakan bentuk
pembunuhan bagi mereka, pembunuhan hak dan karakter mereka sebagai manusia yang
berkiprah di lapangan hijau. Lapangan hijau menjadi sumber pendapatan,
meningkatkan pundi-pundi materi, ketenaran nama, dan pembiayaan hidup pribadi
dan keluarga.
Soal
pembayaran gaji pada dasarnya merupakan urusan internal antara pesepakbola
dengan manajemen klub yang menggunakan jasanya. Saat terjadi hambatan
pembayaran maupun sama sekali tidak terbayarkannya gaji, perlu pengelolaan masalah
agar ruang lingkup masalah tidak meluas dan tidak dikonsumsi publik. Sikap yang
ditunjukkan 11 orang pemain PSMS merupakan bukti nyata ketidakmampuan manajemen
klub untuk mengelola masalah dan tidak segera menyelesaikan kasus tersebut,
akhirnya berujung pada niatan para pemain yang mengadu ke berbagai pihak,
terutama pihak yang bertanggung jawab akan persoalannya dan juga pihak yang
peduli terhadap persoalan sepakbola dalam negeri.
Persoalan
ketidaksejahteraan dalam dunia kerja ternyata tidak saja menjadi agenda
tuntutan pekerja di sektor lain. Di sisi lain, isu kemiskinan semakin kencang
didengungkan di negeri ini, pembangunan masyarakat jauh dari harapan sejahtera
dan standar hidup layak. Bagi sisi dunia
sepakbola, agenda ketidaksejahteraan untuk masa kekinian sudah menjadi bagian
kehidupan para pesepakbola dalam negeri, pemain lokal dan pemain asing. Cerita
dan fakta yang sudah berlalu, baik itu yang sudah terselesaikan maupun yang
masih terkatung nasibnya makin menguatkan asumsi penulis bahwa pemain
pesepakbola jauh dari standar kelayakan hidup sebagai pemain sepakbola.
Selain urusan gaji, masih banyak faktor
lain yang juga sama pentingnya untuk menjaga eksistensi dan kebertahanan pemain
itu sendiri. Faktor pemenuhan gizi dan
nutrisi, pola hidup dan kesehatan. Faktor lain itu jika dirunut lagi punya
keterkaitan erat dengan urusan gaji pemain. Sulit rasanya memenuhi standar
hidup layak untuk seorang pemain sepakbola jika gaji mereka jauh dari standar,
dan semakin pelik jika tidak diperolehnya, bisa disebabkan keterlambatan, klub
yang sengaja menunggak dan arogansi manajemen klub yang melupakan kewajibannya.
Jika klub beralasan tunggakan dan keterlambatan disebabkan krisis finansial
klub, satu-satunya senjata resistensi publik ialah menuntut adanya sikap
transparansi pengelolaan keuangan dan tentunya dibarengi dengan pertanggung
jawaban. Agak aneh jika kita meng-iyakan begitu saja alasan krisis finansial
klub ditengah semakin besarnya kesempatan pengelola dan pengurus klub untuk
mencari sponsor sejak diberlakukannya aturan larangan penggunaan dana APBD bagi
klub di seluruh Indonesia. Aturan itu memberi otonomi besar bagi manajemen
klub, terbuka kesempatan memperoleh sponsor yang lebih banyak, syaratnya
produktivitas dan transparansi dari manajemen yang diberikan bagi pihak
internal dan eksternalnya. Penulis kirimkan salam bagi para pemain sepakbola
Indonesia yang sedang tidak sejahtera!

