Minggu, 23 Juni 2013

Ketidaksejahteraan Pesepakbola Indonesia.


Datang dari tanah Sumatera, 11 orang pemain PSMS membawa persoalan mereka untuk bersama-sama dikonsumsi publik. Tujuannya, untuk mendapatkan dukungan sebanyak mungkin, dan persoalan tunggakan gaji selama 10 bulan segera diselesaikan. Fakta kekinian ini mengulang peristiwa lalu yang dialami pemain sepakbola di Indonesia, menimbun berkas-berkas kekelaman sepakbola dalam negeri. Saat pejabat dan pemodal besar dunia sepakbola berebut kekuasaan dan bertukar kepentingan, yang dialami pemain justru kontras berbeda. Upaya mencari dukungan penyelesaian kasus yang dilakukan pemain PSMS Medan mengingatkan penulis pada kejadian lalu yang belum terlupa. Pemain Persis Solo juga pernah mengalami persoalan serupa, bahkan seorang pemainnya asal Paraguay Diego Mendieta dipulangkan ke negeri asalnya dalam keadaan meninggal. Virus dan jamur membuat daya tahan tubuhnya menurun dan berujung pada kematiaan. Saat itu Diego beserta pemain lain di Persis Solo belum dibayarkan hak nya oleh manajemen klub.
Peristiwa seperti di Solo ternyata tidak berhenti, di Jakarta kembali terulang. Pemain klub Ibukota ternyata pernah merasakan persoalan gaji, salah satu hak dasar sebagai seorang pemain sepakbola. Persoalan klub Persija menambah deret permasalahannya sendiri, sebelumnya supporter fanatisnya menuntut transparansi keuangan manajemen klub dan persoalan kandang (homebase) klub. Loyalitas tanpa batas hanya sebuah ungkapan fanatis sesaat, jika loyalitas tidak didukung hal teknis yang mendasar justru yang tercipta masalah baru. Gaji, semangat dan loyalitas merupakan hal yang tidak lepas dari para pekerja di berbagai sektor, tak terkecuali bagi mereka pekerja di lapangan hijau. Keterlambatan pembayaran, tunggakan gaji, dan bahkan gaji tak dibayar akan menciptakan masalah baru di berbagai ruang lingkup. Di skala mikro bagi pemain itu sendiri, skala messo (menengah) bagi manajemen, klub, dan supporter, dan di skala makro bagi seluruh insan dunia sepakbola.
            Realita sepakbola Indonesia bisa jadi bahan tertawaan di negeri luar, saat negara lain menciptakan kompetisi sepakbola yang semakin sengit, sepakbola dalam negeri masih berkutat pada persoalan teknis yang sangat mendasar, gaji, manajemen klub, kepengurusan PSSI, dan kompetisi liga nasional. Bagi masyarakat Indonesia sendiri termasuk penulis, persoalan tersebut justru makin meningkatkan sikap pesimis dan kecintaan pada sepakbola dalam negeri kian menurun, apalagi liga-liga eropa semakin kencang dihadirkan ke dalam negeri. Anak-anak Indonesia mungkin lebih kenal dengan pesepakbola luar negeri, sebutlah Christiano Ronaldo, Lionel Messi, Van Persie, Wayne Ronney, Buffon, dan sederet pemain bintang lainnya. Untuk pemain Indonesia? Kita mengenal mereka para pesepakbola Indonesia saat mereka menjadi konsumsi publik, saat dimana mereka didera persoalan ketidaksejahteraan sebagai pemain pesepakbola.
            Sebenarnya PSMS Medan bukanlah klub sepakbola yang baru lahir kemarin sore, klub ini pernah mengalami masa produktif di era kejayaannya di tahun 80-an, melahirkan pemain-pemain hebat dan terlibat dalam keanggotaan pemain Timnas Indonesia. Kejayaan tersebut perlahan memudar, degradasi dari liga tertinggi pernah dialami, kekalahan demi kekalahan semakin sering, gaya permainan ‘rap-rap’ nya juga tidak terlihat apalagi beberapa tahun terakhir, dan kini, persoalan tunggakan gaji pemain meramaikan berita sepakbola dalam negeri. Sebutan The Killer yang disematkan kepada klub dan pemain karena masa-masa tangguh dan produktivitas yang dialaminya dahulu. Sebutan tersebut dipinjam penulis untuk julukan sepakbola Indonesia, yang mencerminkan perjuangan pesepakbola Indonesia di klubnya masing-masing tak sebanding dengan hak yang diterima. Nasib pesepakbola Indonesia, salah satunya yang terjadi di klub PSMS merupakan bentuk pembunuhan bagi mereka, pembunuhan hak dan karakter mereka sebagai manusia yang berkiprah di lapangan hijau. Lapangan hijau menjadi sumber pendapatan, meningkatkan pundi-pundi materi, ketenaran nama, dan pembiayaan hidup pribadi dan keluarga.
            Soal pembayaran gaji pada dasarnya merupakan urusan internal antara pesepakbola dengan manajemen klub yang menggunakan jasanya. Saat terjadi hambatan pembayaran maupun sama sekali tidak terbayarkannya gaji, perlu pengelolaan masalah agar ruang lingkup masalah tidak meluas dan tidak dikonsumsi publik. Sikap yang ditunjukkan 11 orang pemain PSMS merupakan bukti nyata ketidakmampuan manajemen klub untuk mengelola masalah dan tidak segera menyelesaikan kasus tersebut, akhirnya berujung pada niatan para pemain yang mengadu ke berbagai pihak, terutama pihak yang bertanggung jawab akan persoalannya dan juga pihak yang peduli terhadap persoalan sepakbola dalam negeri.
            Persoalan ketidaksejahteraan dalam dunia kerja ternyata tidak saja menjadi agenda tuntutan pekerja di sektor lain. Di sisi lain, isu kemiskinan semakin kencang didengungkan di negeri ini, pembangunan masyarakat jauh dari harapan sejahtera dan  standar hidup layak. Bagi sisi dunia sepakbola, agenda ketidaksejahteraan untuk masa kekinian sudah menjadi bagian kehidupan para pesepakbola dalam negeri, pemain lokal dan pemain asing. Cerita dan fakta yang sudah berlalu, baik itu yang sudah terselesaikan maupun yang masih terkatung nasibnya makin menguatkan asumsi penulis bahwa pemain pesepakbola jauh dari standar kelayakan hidup sebagai pemain sepakbola.
Selain urusan gaji, masih banyak faktor lain yang juga sama pentingnya untuk menjaga eksistensi dan kebertahanan pemain itu sendiri. Faktor  pemenuhan gizi dan nutrisi, pola hidup dan kesehatan. Faktor lain itu jika dirunut lagi punya keterkaitan erat dengan urusan gaji pemain. Sulit rasanya memenuhi standar hidup layak untuk seorang pemain sepakbola jika gaji mereka jauh dari standar, dan semakin pelik jika tidak diperolehnya, bisa disebabkan keterlambatan, klub yang sengaja menunggak dan arogansi manajemen klub yang melupakan kewajibannya. Jika klub beralasan tunggakan dan keterlambatan disebabkan krisis finansial klub, satu-satunya senjata resistensi publik ialah menuntut adanya sikap transparansi pengelolaan keuangan dan tentunya dibarengi dengan pertanggung jawaban. Agak aneh jika kita meng-iyakan begitu saja alasan krisis finansial klub ditengah semakin besarnya kesempatan pengelola dan pengurus klub untuk mencari sponsor sejak diberlakukannya aturan larangan penggunaan dana APBD bagi klub di seluruh Indonesia. Aturan itu memberi otonomi besar bagi manajemen klub, terbuka kesempatan memperoleh sponsor yang lebih banyak, syaratnya produktivitas dan transparansi dari manajemen yang diberikan bagi pihak internal dan eksternalnya. Penulis kirimkan salam bagi para pemain sepakbola Indonesia yang sedang tidak sejahtera!