Pilpres 2014 Minim
Kontestan, Mendorong Minat Masyarakat untuk Mempelajari Profil Capres-Cawapres[1]
Sampai
ditutupnya pendaftaran capres-cawapres di KPU 21 Mei lalu, hanya ada 2 (dua)
pasang capres-cawapres yang mendaftarkan diri yakni pasangan Joko Widodo-Jusuf
Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Dibanding dengan Pilpres sebelumnya,
tahun 2004 dan 2009, calon kontestan/kontestan-nya terbilang sedikit, tahun
2004 diikuti 5 (lima) pasang, tahun 2009 diikuti 3 (tiga) pasang. Mengerecutnya
jumlah peserta Pilpres menjadi 2 (dua) pasang kontestan ini tentu telah
melewati beberapa tahap intrik politik, termasuk lah di dalamnya lobi dan
transaksi diantara masing-masing poros koalisi.
Rampingnya
jumlah peserta pilpres tahun ini berdampak langsung terhadap penghematan
anggaran penyelenggaraan pilpres, tidak perlu melangsungkan pilpres 2 (dua)
putaran seperti pemilu pilpres sebelumnya, dan anggaran tersebut bisa dialokasikan
untuk kebutuhan lain yang lebih menyentuh kepentingan masyarakat. Selain
penghematan anggaran, dampak langsung lainnya kepada masyarakat sebagai
pengguna hak pilih dalam Pilpres, masyarakat tidak lagi kesulitan atau
direpotkan untuk mempelajari profil tiap pasangan capres-cawapres yang selama
ini jumlahnya gemuk dan tidak sesederhana tahun ini. Dua pasang capres-cawapres
tahun ini menandakan masyarakat harus mempelajari empat profil orang kontestan
Pilpres yakni Hatta Rajasa, Joko Widodo, Jusuf Kalla, Prabowo Subianto.
Rekam Jejak untuk Profil Capres-Cawapres
Mempelajari
profil tentu berkaitan dengan rekam jejak masing-masing peserta pilpres karena
rekam jejak mereka tersebut dapat menggambarkan profil-nya. Beberapa contoh
rekam jejak yang paling sederhana antara lain, dilihat dari riwayat profesi
mereka selama ini, pengalaman di bidangnya masing-masing, pernah atau tidak
bersinggungan dengan kasus kejahatan hukum dan kejahatan kemanusiaan.
Hatta
Rajasa, cawapres dari Prabowo Subianto, berasal dari pulau Sumatera. Di rezim
SBY ia menjabat Menko Perekonomian, sebelum usai menunaikan tugasnya ia mundur
dari jabatan tersebut dan digantikan oleh Chairul Tandjung, pengusaha media
terkemuka nasional. Hatta Rajasa dipasangkan sebagai cawapres untuk mendampingi
Prabowo Subianto, pemilihan dirinya terbilang mudah ditebak mengingat jauh-jauh
hari isu diantara mereka akan berpasangan telah lama tersiar di publik. Selain
itu, proses pengkawinan mereka terbilang dramatis karena didetik-detik terakhir
hendak pendeklarasian tiap parpol dalam poros koalisi Prabowo Subianto terlihat
masih mengajukan beberapa nama cawapres, seperti Anis Matta, Ahmad Heryawan
dari PKS, Surya Dharma Ali dari PPP, Aburizal Bakrie dari Golkar. Namun Prabowo
Subianto lebih punya kuasa dalam memilih dan menentukan satu nama sebagai
pasangannya, ia lebih memilih Hatta sebagai pendamping yang akan “klop” di
pilpres dan direzimnya nanti.
Joko
Widodo, mantan Walikota Solo dan Gubernur non aktif DKI Jakarta (per 1
Juni 2014) ini dicalonkan oleh PDIP bersama poros koalisinya sebagai
Capres. Sama dengan Hatta, ia dua kali terhitung meninggalkan jabatan
saat masa kepemimpinannya belum usai yakni saat mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur (Cagub) DKI Jakarta ia meninggalkan jabatan Walikota Surakarta, kemudian saat
mencalonkan diri sebagai capres ia hendak non aktif dari jabatannya Gubernur DKI
Jakarta.
Jusuf Kalla, politikus senior golkar ini jauh-jauh hari sudah menebar pesona agar dipinang oleh PDIP sebagai pendamping Jokowi. Namun, ada beberapa nama calon pendamping Jokowi yang sempat beredar atau sengaja dilempar ke publik antara lain Abraham Samad, Mahfud MD, Luhut Panjaitan, Moeldoko, Ahok, Ryamizard Ryacudu. Di detik terakhir akhirnya Jusuf Kalla dipilih poros koalisi PDIP untuk mendampingi Jokowi, pengalamannya di bidang pemerintahan yang pernah menjabat Wakil Presiden SBY tahun 2004-2009 dirasa menjadi salah satu pertimbangan yang menguatkan nama Jusuf Kalla.
Jusuf Kalla, politikus senior golkar ini jauh-jauh hari sudah menebar pesona agar dipinang oleh PDIP sebagai pendamping Jokowi. Namun, ada beberapa nama calon pendamping Jokowi yang sempat beredar atau sengaja dilempar ke publik antara lain Abraham Samad, Mahfud MD, Luhut Panjaitan, Moeldoko, Ahok, Ryamizard Ryacudu. Di detik terakhir akhirnya Jusuf Kalla dipilih poros koalisi PDIP untuk mendampingi Jokowi, pengalamannya di bidang pemerintahan yang pernah menjabat Wakil Presiden SBY tahun 2004-2009 dirasa menjadi salah satu pertimbangan yang menguatkan nama Jusuf Kalla.
Prabowo
Subianto, sebelum terjun ke dunia politik dibesarkan di dunia militer, jabatan
strategis pernah ia jabat selama masih aktif, terlibat di berbagai kegiatan
penting dunia militer. Komandan Kopassus saat peristiwa pelengseran Soeharto
tahun 1998, penumpasan gerakan separatis di Papua dan Timor timor. Namun
karirnya terhenti saat karirnya sedang menanjak, ia diberhentikan oleh Dewan
Kehormatan Perwira (DKP) TNI karena terlibat dalam kekisruhan 1998, saat itu
demonstran dari kalangan mahasiswa ter (di) tembak oleh senjata aparat,
penculikan aktivis, beberapa aktivis yang sempat ‘diamankan” Prabowo lalu
dilepaskan saat ini berkiprah di dunia politik lewat partai Gerindra, namun
masih ada 13 nama aktivitis yang sampai saat ini belum ditemukan keberadaannya.
Walaupun hasil investigasi tidak dipublikasikan dan Prabowo mengklaim tidak
pernah mendapatkannya, ia menerima Keputusan Dewan Kehormatan Perwira saat itu
dan kemudian memilih untuk menggeluti dunia bisnis, berbisnis di dalam dan luar
negeri.
Sampai
saat ini pihak yang merasa dirugikan/menjadi korban penculikan/penembakan
aktivis masih mencari keadilan dengan tuntutan menemukan dalang dibalik kasus
tersebut. Kasus tersebut masih menjadi misteri di negeri ini karena pemerintah
dan pihak terkait belum mampu menguak kasus tersebut selebar dan setransparan
mungkin. Yang patut ditekankan ialah dua aspek kepentingan begitu tampak jelang
pilpres 2014, Pertama, konsistensi pencari keadilan dalam menyuarakan
tuntutannya dan Kedua, adanya pihak pendompleng isu yang digiring menjadi
muatan politis.
Kombinasi Pengusaha dan Politikus
Keempat
orang dalam 2 (dua) pasang capres-cawapres yang saat ini terhitung sebagai
politikus dari berbagai parpol (PAN, PDIP, Golkar, Gerindra) merupakan orang
yang dulunya sebagai pengusaha di berbagai bidang. Jusuf Kalla pengusaha
asal tanah Makassar ini dikenal sebagai figur penting dalam Kalla Group,
sebelumnya Jusuf Kalla terlibat di beberapa perusahaan, tahun 1968-2001 sebagai
direktur utama Hadji Kalla, Direktur Utama di PT Bumi Karsa (1969-2001),
Direktur Utama PT Bukaka Teknik utama tahun 1988-2001.[2] Joko Widodo sebelum menjabat Walikota Solo ia
dikenal sebagai pengusaha meubel/ kayu di Surakarta, perjalanan hidupnya banyak
yang membukukan dan difilm-kan oleh pihak yang ingin meraup untung dari
popularitas-nya.
Prabowo Subianto sebagai pengusaha
lintas negara karena di Jordan ia memiliki usaha di bidang perminyakan, disana
ia sebagai Komisaris Perusahaan Migas Karazanbasmuna. Di Indonesia pun begitu,
perusahaannya bergerak di bidang migas, pertanian, perikanan dan perkebunan, ia
sebagai Presiden dan CEO di PT Tidar Kerinci Agung dan PT Nusantara Energy dan
Jaladri Nusantara.[3]
Hatta Rajasa pengusaha asal tanah Sumatera (Selatan-Palembang) ini memulai
karir non politik nya di berbagai perusahaan, antara lain tahun 1977-1978
sebagai teknisi lapangan PT Bina Patra Jaya, tahun 1980-1984 sebagai wakil
manajer teknis PT.Meta Epsi, dan 1982-2000 menjabat Presiden Direktur Arthindo.[4]
Minat Masyarakat Mempelajari Profil Kontestan Pilpres
Sepinya
peserta pilpres tidak membuat masyarakat menghabiskan banyak waktu untuk
mengenal calon pilihannya di Pilpres Juli mendatang. Jika telah ditetapkan
secara resmi oleh KPU bahwa peserta pilpres berjumlah 2 (dua) pasang, bagi
masyarakat menjelang pelaksanaan pilpres hanya butuh mempelajari 4 (empat)
profil masing-masing individu, Hatta Rajasa, Joko Widodo, Jusuf Kalla, dan
Prabowo Subianto. Menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari profil tiap orang
yang tidak dikenal tentu butuh dorongan minat dari dalam diri sendiri, lebih
mungkin rasanya untuk menggunakan waktu untuk hal-hal yang sifatnya produktif,
materi, dan bermanfaat langsung bagi kepentingan pribadi. Dengan asumsi itu,
relevansi jumlah kontestan pilpres dengan meningkatnya minat masyarakat untuk
mempelajari profil kandidat/pasangan capres-cawapres terbuka peluangnya.
Bandingkan saat jumlah pilpres sebanyak 5 pasangan, artinya akan ada 10 orang
yang akan kita pelajari satu per satu, sebelum mantap menetapkan pilihan pada 1
pasang kandidat.
Sebelum menetapkan pilihan, biasanya diawali oleh minat masyarakat itu sendiri,
minat untuk mengetahui, mempelajari tiap pasangan peserta Pilpres, untuk
mengenalnya kecil kesempatan itu. Terhambatnya minat berkait dengan beberapa
hal seperti, apatisme karena kekecewaan, apatisme karena ideologi/paham,
sedangkan munculnya minat dapat didorong berbagai hal, pengikut partai politik,
penganut paham-paham tertentu yang hidup di parpol, pengagum pada satu
tokoh/figur, intervensi lingkungan terdekat, dan dorongan diri sendiri. Jumlah
kontestan yang sedikit terbuka kesempatan untuk mendorong minat yang datang
dari diri sendiri, karena adanya minat tersebut seseorang mau/bersedia
menggunakan dan menghabiskan waktunya untuk mempelajari berbagai hal yang
berkaitan dengan profil pasangan capres-cawapres, antara lain, latar belakang
individu serta keluarga, rekam jejak (track
record), pengalaman berbagai bidang, jiwa kepemimpinan, dan bahkan
kehidupan pribadi yang terlanjur terlempar ke publik, mungkin masih banyak
poin-poin lain yang tidak terpikirkan penulis. Bagi penulis pribadi, pilpres
kali ini tidak terlalu sulit untuk menentukan pilihan, komitmen dalam
penyelesaian kasus dan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) serta
peningkatan kesejahteraan masyarakat yang relevan dengan masalah di lapangan
menjadi kriteria utama untuk memilih satu pasangan. Simpulannya, berbagai
informasi yang diperoleh dan dipelajari kemudian dijadikan materi pembanding
dan pertimbangan antara kriteria sebagai landasan dan profil pasangan yang
telah tersedia.
[1]
Sebelum ditetapkan KPU, disebut Bakal Calon Presiden-Bakal Calon Presiden
(Bacapres-Bacawapres)
[2]
http://profile.metrotvnews.com/read/109/jusuf-kalla
[3]http://news.detik.com/tokoh/321/0/letnan-jenderal-purn-prabowo-subianto-djojohadikusumo-lumban-tobing
[4] http://pan.or.id/profil-tokoh/ir-m-hatta-rajasa/


Tidak ada komentar:
Posting Komentar