Sabtu, 24 Mei 2014

Pilpres dan Minat Masyarakat

Pilpres 2014 Minim Kontestan, Mendorong Minat Masyarakat untuk Mempelajari Profil Capres-Cawapres[1]

Sampai ditutupnya pendaftaran capres-cawapres di KPU 21 Mei lalu, hanya ada 2 (dua) pasang capres-cawapres yang mendaftarkan diri yakni pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Dibanding dengan Pilpres sebelumnya, tahun 2004 dan 2009, calon kontestan/kontestan-nya terbilang sedikit, tahun 2004 diikuti 5 (lima) pasang, tahun 2009 diikuti 3 (tiga) pasang. Mengerecutnya jumlah peserta Pilpres menjadi 2 (dua) pasang kontestan ini tentu telah melewati beberapa tahap intrik politik, termasuk lah di dalamnya lobi dan transaksi diantara masing-masing poros koalisi. 
Rampingnya jumlah peserta pilpres tahun ini berdampak langsung terhadap penghematan anggaran penyelenggaraan pilpres, tidak perlu melangsungkan pilpres 2 (dua) putaran seperti pemilu pilpres sebelumnya, dan anggaran tersebut bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain yang lebih menyentuh kepentingan masyarakat. Selain penghematan anggaran, dampak langsung lainnya kepada masyarakat sebagai pengguna hak pilih dalam Pilpres, masyarakat tidak lagi kesulitan atau direpotkan untuk mempelajari profil tiap pasangan capres-cawapres yang selama ini jumlahnya gemuk dan tidak sesederhana tahun ini. Dua pasang capres-cawapres tahun ini menandakan masyarakat harus mempelajari empat profil orang kontestan Pilpres yakni Hatta Rajasa, Joko Widodo, Jusuf Kalla, Prabowo Subianto.

Rekam Jejak untuk Profil Capres-Cawapres
Mempelajari profil tentu berkaitan dengan rekam jejak masing-masing peserta pilpres karena rekam jejak mereka tersebut dapat menggambarkan profil-nya. Beberapa contoh rekam jejak yang paling sederhana antara lain, dilihat dari riwayat profesi mereka selama ini, pengalaman di bidangnya masing-masing, pernah atau tidak bersinggungan dengan kasus kejahatan hukum dan kejahatan kemanusiaan. 
Hatta Rajasa, cawapres dari Prabowo Subianto, berasal dari pulau Sumatera. Di rezim SBY ia menjabat Menko Perekonomian, sebelum usai menunaikan tugasnya ia mundur dari jabatan tersebut dan digantikan oleh Chairul Tandjung, pengusaha media terkemuka nasional. Hatta Rajasa dipasangkan sebagai cawapres untuk mendampingi Prabowo Subianto, pemilihan dirinya terbilang mudah ditebak mengingat jauh-jauh hari isu diantara mereka akan berpasangan telah lama tersiar di publik. Selain itu, proses pengkawinan mereka terbilang dramatis karena didetik-detik terakhir hendak pendeklarasian tiap parpol dalam poros koalisi Prabowo Subianto terlihat masih mengajukan beberapa nama cawapres, seperti Anis Matta, Ahmad Heryawan dari PKS, Surya Dharma Ali dari PPP, Aburizal Bakrie dari Golkar. Namun Prabowo Subianto lebih punya kuasa dalam memilih dan menentukan satu nama sebagai pasangannya, ia lebih memilih Hatta sebagai pendamping yang akan “klop” di pilpres dan direzimnya nanti.
Joko Widodo, mantan Walikota Solo dan Gubernur non aktif DKI Jakarta (per 1 Juni 2014) ini dicalonkan oleh PDIP bersama poros koalisinya sebagai Capres.  Sama dengan Hatta, ia dua kali terhitung meninggalkan jabatan saat masa kepemimpinannya belum usai yakni saat mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur (Cagub) DKI Jakarta ia meninggalkan jabatan Walikota Surakarta, kemudian saat mencalonkan diri sebagai  capres ia hendak non aktif dari jabatannya Gubernur DKI Jakarta. 
Jusuf Kalla, politikus senior golkar ini jauh-jauh hari sudah menebar pesona agar dipinang oleh PDIP sebagai pendamping Jokowi. Namun, ada beberapa nama calon pendamping Jokowi yang sempat beredar atau sengaja dilempar ke publik antara lain Abraham Samad, Mahfud MD, Luhut Panjaitan, Moeldoko, Ahok, Ryamizard Ryacudu. Di detik terakhir akhirnya Jusuf Kalla dipilih poros koalisi PDIP untuk mendampingi Jokowi, pengalamannya di bidang pemerintahan yang pernah menjabat Wakil Presiden SBY tahun 2004-2009 dirasa menjadi salah satu pertimbangan yang menguatkan nama Jusuf Kalla.
Prabowo Subianto, sebelum terjun ke dunia politik dibesarkan di dunia militer, jabatan strategis pernah ia jabat selama masih aktif, terlibat di berbagai kegiatan penting dunia militer. Komandan Kopassus saat peristiwa pelengseran Soeharto tahun 1998, penumpasan gerakan separatis di Papua dan Timor timor. Namun karirnya terhenti saat karirnya sedang menanjak, ia diberhentikan oleh Dewan Kehormatan Perwira (DKP) TNI karena terlibat dalam kekisruhan 1998, saat itu demonstran dari kalangan mahasiswa ter (di) tembak oleh senjata aparat, penculikan aktivis, beberapa aktivis yang sempat ‘diamankan” Prabowo lalu dilepaskan saat ini berkiprah di dunia politik lewat partai Gerindra, namun masih ada 13 nama aktivitis yang sampai saat ini belum ditemukan keberadaannya. Walaupun hasil investigasi tidak dipublikasikan dan Prabowo mengklaim tidak pernah mendapatkannya, ia menerima Keputusan Dewan Kehormatan Perwira saat itu dan kemudian memilih untuk menggeluti dunia bisnis, berbisnis di dalam dan luar negeri.
Sampai saat ini pihak yang merasa dirugikan/menjadi korban penculikan/penembakan aktivis masih mencari keadilan dengan tuntutan menemukan dalang dibalik kasus tersebut. Kasus tersebut masih menjadi misteri di negeri ini karena pemerintah dan pihak terkait belum mampu menguak kasus tersebut selebar dan setransparan mungkin. Yang patut ditekankan ialah dua aspek kepentingan begitu tampak jelang pilpres 2014, Pertama, konsistensi pencari keadilan dalam menyuarakan tuntutannya dan Kedua, adanya pihak pendompleng isu yang digiring menjadi muatan politis.

Kombinasi Pengusaha dan Politikus
Keempat orang dalam 2 (dua) pasang capres-cawapres yang saat ini terhitung sebagai politikus dari berbagai parpol (PAN, PDIP, Golkar, Gerindra) merupakan orang yang dulunya sebagai pengusaha di berbagai bidang. Jusuf Kalla pengusaha asal tanah Makassar ini dikenal sebagai figur penting dalam Kalla Group, sebelumnya Jusuf Kalla terlibat di beberapa perusahaan, tahun 1968-2001 sebagai direktur utama Hadji Kalla, Direktur Utama di PT Bumi Karsa (1969-2001), Direktur Utama PT Bukaka Teknik utama tahun 1988-2001.[2] Joko Widodo sebelum menjabat Walikota Solo ia dikenal sebagai pengusaha meubel/ kayu di Surakarta, perjalanan hidupnya banyak yang membukukan dan difilm-kan oleh pihak yang ingin meraup untung dari popularitas-nya.
 Prabowo Subianto sebagai pengusaha lintas negara karena di Jordan ia memiliki usaha di bidang perminyakan, disana ia sebagai Komisaris Perusahaan Migas Karazanbasmuna. Di Indonesia pun begitu, perusahaannya bergerak di bidang migas, pertanian, perikanan dan perkebunan, ia sebagai Presiden dan CEO di PT Tidar Kerinci Agung dan PT Nusantara Energy dan Jaladri Nusantara.[3] Hatta Rajasa pengusaha asal tanah Sumatera (Selatan-Palembang) ini memulai karir non politik nya di berbagai perusahaan, antara lain tahun 1977-1978 sebagai teknisi lapangan PT Bina Patra Jaya, tahun 1980-1984 sebagai wakil manajer teknis PT.Meta Epsi, dan 1982-2000 menjabat Presiden Direktur Arthindo.[4]

Minat Masyarakat Mempelajari Profil Kontestan Pilpres
            Sepinya peserta pilpres tidak membuat masyarakat menghabiskan banyak waktu untuk mengenal calon pilihannya di Pilpres Juli mendatang. Jika telah ditetapkan secara resmi oleh KPU bahwa peserta pilpres berjumlah 2 (dua) pasang, bagi masyarakat menjelang pelaksanaan pilpres hanya butuh mempelajari 4 (empat) profil masing-masing individu, Hatta Rajasa, Joko Widodo, Jusuf Kalla, dan Prabowo Subianto. Menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari profil tiap orang yang tidak dikenal tentu butuh dorongan minat dari dalam diri sendiri, lebih mungkin rasanya untuk menggunakan waktu untuk hal-hal yang sifatnya produktif, materi, dan bermanfaat langsung bagi kepentingan pribadi. Dengan asumsi itu, relevansi jumlah kontestan pilpres dengan meningkatnya minat masyarakat untuk mempelajari profil kandidat/pasangan capres-cawapres terbuka peluangnya. Bandingkan saat jumlah pilpres sebanyak 5 pasangan, artinya akan ada 10 orang yang akan kita pelajari satu per satu, sebelum mantap menetapkan pilihan pada 1 pasang kandidat.
            Sebelum menetapkan pilihan, biasanya diawali oleh minat masyarakat itu sendiri, minat untuk mengetahui, mempelajari tiap pasangan peserta Pilpres, untuk mengenalnya kecil kesempatan itu. Terhambatnya minat berkait dengan beberapa hal seperti, apatisme karena kekecewaan, apatisme karena ideologi/paham, sedangkan munculnya minat dapat didorong berbagai hal, pengikut partai politik, penganut paham-paham tertentu yang hidup di parpol, pengagum pada satu tokoh/figur, intervensi lingkungan terdekat, dan dorongan diri sendiri. Jumlah kontestan yang sedikit terbuka kesempatan untuk mendorong minat yang datang dari diri sendiri, karena adanya minat tersebut seseorang mau/bersedia menggunakan dan menghabiskan waktunya untuk mempelajari berbagai hal yang berkaitan dengan profil pasangan capres-cawapres, antara lain, latar belakang individu serta keluarga, rekam jejak (track record), pengalaman berbagai bidang, jiwa kepemimpinan, dan bahkan kehidupan pribadi yang terlanjur terlempar ke publik, mungkin masih banyak poin-poin lain yang tidak terpikirkan penulis. Bagi penulis pribadi, pilpres kali ini tidak terlalu sulit untuk menentukan pilihan, komitmen dalam penyelesaian kasus dan  perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) serta peningkatan kesejahteraan masyarakat yang relevan dengan masalah di lapangan menjadi kriteria utama untuk memilih satu pasangan. Simpulannya, berbagai informasi yang diperoleh dan dipelajari kemudian dijadikan materi pembanding dan pertimbangan antara kriteria sebagai landasan dan profil pasangan yang telah tersedia.





[1] Sebelum ditetapkan KPU, disebut Bakal Calon Presiden-Bakal Calon Presiden (Bacapres-Bacawapres)
[2] http://profile.metrotvnews.com/read/109/jusuf-kalla
[3]http://news.detik.com/tokoh/321/0/letnan-jenderal-purn-prabowo-subianto-djojohadikusumo-lumban-tobing

[4] http://pan.or.id/profil-tokoh/ir-m-hatta-rajasa/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar