Jumat, 21 Maret 2014

Mau jadi kaya jangan jadi PNS, jadilah Pengusaha. Mau lebih kuat dari Pengusaha jadilah Pejabat.


Kalimat pernyataan itu saya gabung dari dua pihak berlainan.  Kalimat “Mau jadi kaya jangan jadi PNS, Jadilah pengusaha” sering disampaikan oleh orang tua saya khususnya Bapak. Kalimat kedua, “Mau jadi lebih kuat dari pengusaha jadilah pejabat, saya ingat betul kalimat ini sering terlontar dari Ahok, Wakil Gubernur DKI Jakarta. Saya merangkai dua kalimat pernyataan itu untuk dapat diartikan sebagai pedoman hidup.
Selain itu juga saya ingin jadikan tulisan ini sebagai arsip pribadi saat saya sudah aktif punya keterlibatan dalam pemerintahan di negara ini. Arsip yang bisa saya buka kembali di masa depan, mengingatkan hari ini, dan memotivasi saya dalam pekerjaan nanti. Maret ini saya terhitung sebagai CPNS di Lembaga bentukan negara dibidang Hak Asasi Manusia (HAM).
Akhir tahun lalu berjubel orang bersaing untuk memperebutkan banyak kursi agar diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil yang harus melewati masa sebagai Calon PNS. Sejak kelulusan saya itu orang tua saya tentu merasa senang dengan hal itu, wejangan yang tujuannya untuk bekerja dengan baik dibahasakan-nya dengan banyak contoh, perumpamaan dan pengalaman hidupnya sebagai PNS. Bapak saya sudah puluhan tahun mengabdi di negara ini sebagai tenaga pendidik untuk di Sekolah Dasar di daerah Sumatera Barat.
Jika kau punya cita-cita jadi orang kaya, jangan pernah berkeinginan menjadi PNS. Alasannya, gaji, pangkat, dan fasilitas lain sudah ditentukan oleh negara dan undang-undang, tidak bisa diutak atik. Saat kau kaya sebagai PNS, 2 pilihan yang mungkin terjadi. Pertama, uang negara kau makan. Kedua, berwirausaha, dan tentu pilihan kedua itu harus pintar-pintar membagi waktu agar tugas utama dalam ke PNS-an tidak terganggu.
Siapapun orang tuanya, semua orang tua menginginkan anak-anaknya tidak pernah berurusan dengan hukum, apalagi jika merugikan banyak orang. Perbuatan korupsi adalah perbuatan yang potensi kerugiannya dirasakan masyarakat tidak kecil. Dana yang harusnya dialokasikan untuk kepentingan masyarakat, ternyata dalam pelaksanaan kebijakan dan program di lapangan uang itu masuk ke kantong pribadi, kelompok, dan keluarganya. Orang tua mana yang senang anaknya terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi. Dulu, orang tua senang dengan kelulusan anaknya dalam penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil. Bertahun-tahun kemudian, orang tuanya sedih, malu bukan kepalang karena anaknya melakukan korupsi dalam jabatan dan statusnya sebagai PNS. Terimakasih Orang tuaku yang tidak pernah bosan menasehati kami anak-anaknya.
Ahok, sosok tegas, tempramen dan dikenal sangat anti pada perbuatan korup, di sektor apapun dia tidak ingin uang rakyat yang dikelola pemerintah dinikmati oleh para pejabat-pejabat korup. Korupsi tidak bisa dipungkiri ada perjanjian dan kesepakatan dua arah, contohnya antara pejabat sebagai pemegang tampuk kekuasaan, dan dengan pengusaha yang memiliki modal besar, orientasi laba dan mengeruk banyak aset dalam kehidupan. Agar semua itu tercapai tanpa kerugian sepeser pun, mereka rela memberikan dana besar kepada pejabat yang mau meng-golkan keinginan pengusaha. Disinilah pengusaha dan pejabat begitu mesra untuk 1 kepentingan, Uang!.
Pada kenyataannya korupsi di berbagai daerah di Indonesia, banyak pejabat di daerah dan pusat tersangkut kasus korupsi, melibatkan terutama para pengusaha. Karena itu pantas rasanya Ahok menyebut Mau jadi lebih kuat dari pengusaha jadilah pejabat. Pejabat disini yang dimaksud adalah pejabat tidak korup tentu. Jadi lebih kuat berarti punya kuasa untuk mengintervensi pengusaha agar masyarakat dan lingkungannya tidak merugi. Apalagi pembangunan kian pesat disitulah pengusaha terus menggoda pejabat-pejabat yang punya kuasa didekati, tawar menawar dan akhirnya terjadi transaksi. Habislah uang rakyat karena hubungan pengusaha dan pejabat, pejabat tidak lagi kuat untuk menahan godaan itu, kuasa yang dimilikinya disalahgunaka, uang-uang mengucur deras dari para pengusaha.
Merujuk pada pernyataan Ahok tadi. Pejabat yang berkuasa harus mampu melawan pengusaha yang nakal, nakal dalam arti kata menjalankan kegiatan usahanya dengan merugikan orang lain, contoh tidak bayar pajak, bayar namun tidak sesuai dengan yang seharusnya, ijin-ijin usaha mudah didapat. Hal itu tidak saja berdampak buruk bagi masyarakat, namun bagi lingkungan juga. Kualitas lingkungan semakin menurun, tidak lagi lestari, potensi lingkungan yang harusnya masih bisa dinikmati generasi selanjutnya dihabiskan dalam waktu yang cepat.
Dalam kekuasaan ada intervensi, dalam intervensi ada kepentingan, semuanya itu ditujukan bagi kepentingan publik agar tidak merugi. Pejabat lah yang harusnya punya kuasa segala-galanya dibanding pihak manapun, termasuk pengusaha itu sendiri, pengusaha hanya bermodal duit besar, pejabat didukung regulasi, didukung negara dan didukung kebijakan, bahkan jika itu pejabata kepala daerah mereka tentu didukung rakyatnya. Berbagai dukungan bagi pejabat dapat menjadi modal untuk kebaikan dan peningkatan kinerja, sudah seharusnya pejabat menang atas pengusaha. Namun karena uang besar, kini banyak pejabat tergiur sehingga ciut saat berhubungan dengan pengusaha. Jarang perbuatan korupsi hanya melibatkan 1 orang saja, dimanapun didominasi ada hubungan kepentingan banyak pihak, kalangan pengusaha ada di dalamnya.
Ahok sebelum menjadi Wagub Provinsi DKI Jakarta, telah menempati pos-pos pemerintah eksekutif dan legislatif, sebagai pengusaha pun pernah dijalaninya. Awal karir perpolitikannya sebagai anggota DPRD Belitung Timur, kemudian menjadi Bupati Belitung Timur. Berangkat dari kampung halamannya sebagai mantan Bupati Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung ia bertarung dalam Pemilihan Gubernur Provinsi Bangka Belitung, namun ia kalah atau dikalahkan saat itu. Setelah itu, dia terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2009-2014 dari Partai Golkar. Belum habis masa tugasnya, tahun 2012 ia mencoba peruntungan di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta sebagai Cawagub dari Partai Gerindra mendampingi Cagub Joko Widodo dari PDIP. Kali ini dia tidak bisa dikalahkan oleh apapun, sehingga ia berkuasa untuk 5 tahun ke depan hingga 2017. Ia ingin terus berkuasa, sebagai pejabat, mengalahkan apapun termasuk pengusaha, demi mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial masyarakatnya.
 Bapak dan Ahok dua figur terbaik dalam hidup saya, mengajarkan kejujuran dan kesederhanaan. Sebentar lagi hidup saya tidak lagi untuk saya pribadi, sebagiannya lagi akan tercurah untuk negara ini, menjadi abdi negara di lembaga yang pernah saya rencanakan sebagai tempat magang dulu saat kuliah sarjana. God Bless Orang tuaku dan koh Ahok.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar