Kalimat pernyataan itu saya gabung dari
dua pihak berlainan. Kalimat “Mau jadi
kaya jangan jadi PNS, Jadilah pengusaha” sering disampaikan oleh orang tua saya
khususnya Bapak. Kalimat kedua, “Mau jadi lebih kuat dari pengusaha jadilah
pejabat, saya ingat betul kalimat ini sering terlontar dari Ahok, Wakil
Gubernur DKI Jakarta. Saya merangkai dua kalimat pernyataan itu untuk dapat
diartikan sebagai pedoman hidup.
Selain itu juga saya ingin jadikan
tulisan ini sebagai arsip pribadi saat saya sudah aktif punya keterlibatan
dalam pemerintahan di negara ini. Arsip yang bisa saya buka kembali di masa
depan, mengingatkan hari ini, dan memotivasi saya dalam pekerjaan nanti. Maret
ini saya terhitung sebagai CPNS di Lembaga bentukan negara dibidang Hak Asasi
Manusia (HAM).
Akhir tahun lalu berjubel orang bersaing
untuk memperebutkan banyak kursi agar diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil
yang harus melewati masa sebagai Calon PNS. Sejak kelulusan saya itu orang tua
saya tentu merasa senang dengan hal itu, wejangan yang tujuannya untuk bekerja
dengan baik dibahasakan-nya dengan banyak contoh, perumpamaan dan pengalaman
hidupnya sebagai PNS. Bapak saya sudah puluhan tahun mengabdi di negara ini
sebagai tenaga pendidik untuk di Sekolah Dasar di daerah Sumatera Barat.
Jika kau punya cita-cita jadi orang
kaya, jangan pernah berkeinginan menjadi PNS. Alasannya, gaji, pangkat, dan
fasilitas lain sudah ditentukan oleh negara dan undang-undang, tidak bisa
diutak atik. Saat kau kaya sebagai PNS, 2 pilihan yang mungkin terjadi. Pertama, uang negara kau makan. Kedua, berwirausaha, dan tentu pilihan
kedua itu harus pintar-pintar membagi waktu agar tugas utama dalam ke PNS-an
tidak terganggu.
Siapapun orang tuanya, semua orang tua
menginginkan anak-anaknya tidak pernah berurusan dengan hukum, apalagi jika
merugikan banyak orang. Perbuatan korupsi adalah perbuatan yang potensi
kerugiannya dirasakan masyarakat tidak kecil. Dana yang harusnya dialokasikan
untuk kepentingan masyarakat, ternyata dalam pelaksanaan kebijakan dan program
di lapangan uang itu masuk ke kantong pribadi, kelompok, dan keluarganya. Orang
tua mana yang senang anaknya terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan
tindak pidana korupsi. Dulu, orang tua senang dengan kelulusan anaknya dalam
penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil. Bertahun-tahun kemudian, orang tuanya
sedih, malu bukan kepalang karena anaknya melakukan korupsi dalam jabatan dan statusnya
sebagai PNS. Terimakasih Orang tuaku yang tidak pernah bosan menasehati kami
anak-anaknya.
Ahok, sosok tegas, tempramen dan dikenal
sangat anti pada perbuatan korup, di sektor apapun dia tidak ingin uang rakyat
yang dikelola pemerintah dinikmati oleh para pejabat-pejabat korup. Korupsi
tidak bisa dipungkiri ada perjanjian dan kesepakatan dua arah, contohnya antara
pejabat sebagai pemegang tampuk kekuasaan, dan dengan pengusaha yang memiliki
modal besar, orientasi laba dan mengeruk banyak aset dalam kehidupan. Agar semua
itu tercapai tanpa kerugian sepeser pun, mereka rela memberikan dana besar
kepada pejabat yang mau meng-golkan keinginan pengusaha. Disinilah pengusaha
dan pejabat begitu mesra untuk 1 kepentingan, Uang!.
Pada kenyataannya korupsi di berbagai
daerah di Indonesia, banyak pejabat di daerah dan pusat tersangkut kasus
korupsi, melibatkan terutama para pengusaha. Karena itu pantas rasanya Ahok
menyebut Mau jadi lebih kuat dari
pengusaha jadilah pejabat. Pejabat disini yang dimaksud adalah pejabat
tidak korup tentu. Jadi lebih kuat berarti punya kuasa untuk mengintervensi
pengusaha agar masyarakat dan lingkungannya tidak merugi. Apalagi pembangunan
kian pesat disitulah pengusaha terus menggoda pejabat-pejabat yang punya kuasa
didekati, tawar menawar dan akhirnya terjadi transaksi. Habislah uang rakyat
karena hubungan pengusaha dan pejabat, pejabat tidak lagi kuat untuk menahan
godaan itu, kuasa yang dimilikinya disalahgunaka, uang-uang mengucur deras dari
para pengusaha.
Merujuk pada pernyataan Ahok tadi.
Pejabat yang berkuasa harus mampu melawan pengusaha yang nakal, nakal dalam
arti kata menjalankan kegiatan usahanya dengan merugikan orang lain, contoh
tidak bayar pajak, bayar namun tidak sesuai dengan yang seharusnya, ijin-ijin usaha
mudah didapat. Hal itu tidak saja berdampak buruk bagi masyarakat, namun bagi
lingkungan juga. Kualitas lingkungan semakin menurun, tidak lagi lestari,
potensi lingkungan yang harusnya masih bisa dinikmati generasi selanjutnya
dihabiskan dalam waktu yang cepat.
Dalam kekuasaan ada intervensi, dalam
intervensi ada kepentingan, semuanya itu ditujukan bagi kepentingan publik agar
tidak merugi. Pejabat lah yang harusnya punya kuasa segala-galanya dibanding
pihak manapun, termasuk pengusaha itu sendiri, pengusaha hanya bermodal duit
besar, pejabat didukung regulasi, didukung negara dan didukung kebijakan, bahkan
jika itu pejabata kepala daerah mereka tentu didukung rakyatnya. Berbagai dukungan
bagi pejabat dapat menjadi modal untuk kebaikan dan peningkatan kinerja, sudah
seharusnya pejabat menang atas pengusaha. Namun karena uang besar, kini banyak
pejabat tergiur sehingga ciut saat berhubungan dengan pengusaha. Jarang perbuatan
korupsi hanya melibatkan 1 orang saja, dimanapun didominasi ada hubungan
kepentingan banyak pihak, kalangan pengusaha ada di dalamnya.
Ahok sebelum menjadi Wagub Provinsi DKI
Jakarta, telah menempati pos-pos pemerintah eksekutif dan legislatif, sebagai
pengusaha pun pernah dijalaninya. Awal karir perpolitikannya sebagai anggota
DPRD Belitung Timur, kemudian menjadi Bupati Belitung Timur. Berangkat dari
kampung halamannya sebagai mantan Bupati Belitung Timur, Provinsi Bangka
Belitung ia bertarung dalam Pemilihan Gubernur Provinsi Bangka Belitung, namun
ia kalah atau dikalahkan saat itu. Setelah itu, dia terpilih sebagai anggota
DPR RI periode 2009-2014 dari Partai Golkar. Belum habis masa tugasnya, tahun
2012 ia mencoba peruntungan di Pemilihan Gubernur DKI Jakarta sebagai Cawagub dari
Partai Gerindra mendampingi Cagub Joko Widodo dari PDIP. Kali ini dia tidak
bisa dikalahkan oleh apapun, sehingga ia berkuasa untuk 5 tahun ke depan hingga
2017. Ia ingin terus berkuasa, sebagai pejabat, mengalahkan apapun termasuk
pengusaha, demi mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial masyarakatnya.
Bapak dan Ahok dua figur terbaik dalam hidup saya, mengajarkan kejujuran dan kesederhanaan. Sebentar lagi hidup saya tidak lagi untuk saya pribadi, sebagiannya lagi akan tercurah untuk negara ini, menjadi abdi negara di lembaga yang pernah saya rencanakan sebagai tempat magang dulu saat kuliah sarjana. God Bless Orang tuaku dan koh Ahok.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar