Sejak Jokowi resmi deklarasiin dirinya
sebagai Capres dari PDIP, dinamika perpolitikan Indonesia makin menarik.
Pengamat politik dari kalangan akademisi punya pandangan masing-masing tentang
deklarasi Capres PDIP dan tentang hitung-hitungan kemenangan PDIP di Caleg atau
Capresnya di Pilpres nanti. Bagi parpol selain PDIP, dimandatkannya Jokowi oleh
Partainya sebagai Capres tentu merusak skenario banyak Parpol, reaksinya ada yang black campaign, ada yang mendekat, ada yang cuek dan pede karena
klaim prestasi pembangunan, lalu ada yang menggerutu. Selain kalangan parpol, pencapresan
Jokowi memunculkan dua pandangan beragam dari masyarakat, setidaknya ada dua
pandangan yang berkembang akhir-akhir ini, Pertama,
ada yang tidak setuju Jokowi nyapres, alasannya, Jokowi itu tidak amanah karena
telah menyumpahi diri nya bersama Ahok Wakilnya untuk menjabat sebagai Gubernur
untuk lima tahun hingga 2017. Kedua,
masyarakat setuju pencapresan Jokowi karena sosok Jokowi yang dianggap dekat
dengan rakyat dan kerap dengan kebiasaan blusukannya mampu menyelesaikan
berbagai persoalan bangsa ini termasuk Jakarta.
Semut-semut
Mendatangi Gula
Hingga April 2014 ini,
18 bulan kinerjanya sebagai Gubernur dirasa belum maksimal dan belum mampu
mengubah kehidupan masyarakat dan potret kota seperti yang dijanjikan saat
kampanye Pilkada lalu yakni Jakarta Baru. Selama setahun terakhir memang berbagai
survei selalu menempatkan Jokowi di peringkat teratas sebagai Capres pemenang
pemilu 2014. Tingginya survei itu mengundang banyak pihak membentuk suatu
perkumpulan dan gerakan yang menginginkan Jokowi sebagai Calon Presiden,
walaupun PDIP sebagai kendaraaan politiknya mereka tetap mendukung Jokowi
sebagai Capres. Barisan relawan atau sekretariat bermunculan di awal tahun
2014, klaim pendukung dan massa yang banyak dirasa sebagai modal awal mereka
untuk memenangkan Jokowi dalam Pilpres. Kalangan pengusaha berusaha mendekat ke
partai dengan menawarkan bantuan dana dan jaringan yang dimiliki. Semua pihak
seakan mengartikan Jokowi adalah pemenang Pilpres 2014, Jokowi dipasangkan
dengan siapapun, dialah pemenangnya. Mereka tidak berani berjudi dengan
mendukung kandidat dari partai lain. Sebelum resmi menjadi penguasa eksekutif,
masyarakat dan pengusaha telah berusaha mendekati calon penguasa itu, dukungan
tersebut tentu bukan tanpa motif. Sulit rasanya menyatakan dukungan dari mereka
tulus untuk mendukung dan memenangkan Jokowi bersama PDIP nya. Penulis bahkan
berani menyatakan dukungan khususnya dari masyarakat yang bergabung dalam
gerakan kerelawanan Jakarta Baru tidak mendapat apapun setelah Pilkada DKI berlalu,
motif untuk mendapat jabatan, memuluskan kepentingan sepihak atau mendapat
proyek tidak tampak selama penulis mengamati kinerja Jokowi Ahok saat berkuasa.
Semut-semut
Pilkada DKI Jakarta
Kemenangan
Jokowi saat pilgub DKI Jakarta tahun 2012 lalu tidak bisa dilepaskan dari peran
serta relawan yang menyatukan diri mereka pada satu kekuatan yakni Relawan
Jakarta Baru. Gerakan kerelawanan ini dipandu oleh salah satu konsultan politik
di Jakarta sebutlah nama nya The Cyruss
Network. Sistem kerja dengan kontrak hak dan kewajiban yang tertulis,
sistem penggajian bersumber dari penyandang dana konsultan tersebut, setiap
relawan dari tingkat kecamatan hingga TPS diatur nilai nominal penggajiannya,
tugas dilapangan dilengkapi dengan surat tugas resmi. Saat itu, relawan
bertugas untuk memenangkan Jokowi Ahok, dengan kondisi yang mengharuskan
melawan kuasa calon incumbent dan kekuatan
birokrasi DKI yang dimiliknya. Melihat kondisi itu tidak heran semut vs gajah
sering berkembang terutama di kalangan relawan, tentu hal itu sebagai
pembangkit semangat agar cita-cita untuk memenangkan calonnya di pilkada dapat
terwujud. Jokowi yang saat itu belum sepopuler
sekarang, bagi tim suksesnya partai dan relawan dibutuhkan kerja dan upaya lebih keras untuk mempopulerkan kandidat yang diusungnya, apalagi wakilnya Ahok saat itu memang sering luput dari publik.
Khusus untuk Ahok yang mendampingi Jokowi sebagai Calon Wakil Gubernur, berasal
dari kalangan minoritas harus diakui menjadi tantangan kinerja lapangan para
relawan. Isu SARA terlalu kencang saat itu, pembuktian rekam jejak harus mampu
meredam isu SARA, dan bersyukurnya ternyata mayoritas masyarakat DKI tidak
termakan isu tersebut. Pilkada usai, usai pulalah kontrak kerja para relawan
saat itu, tidak ada pesta pora, tidak ada klaim berlebihan dibanding perilaku orang dari
partai saat itu. Kawan-kawan partai yang harusnya bisa menjadi partner saat di lapangan ternyata tidak terlalu dan tak selalu mesra di lapangan, relawan dan partai
sering bersinggungan ketika sedang bertugas, relawan sering dianggap merebut
lapak kalangan parpol, partai lebih besar massanya dan kontribusinya jauh lebih besar ketimbang pihak relawan. Itulah kira-kira yang terjadi saat itu, sudah berlalu :)
Melihat makin begitu populernya penyebutan kata : relawan,
makna relawan itu justru makin dipertaruhkan,. Walaupun terhitung sebagai relawan, hitung-hitungan uang dalam berkinerja tidak bisa
dibuang begitu saja, karena memang setiap orang butuh dana untuk melakukan kegiatan
apapun, termasuk kegiatan politik. Sesibuk apapun relawan Jokowi menuju pilpres
2014, Relawan Jakarta Baru sudah terbukti untuk mengimplementasi makna kata
relawan, kinerja perbulannya dihargai dengan nominal gaji (sering disebut uang transport) di bawah 1 juta plus baju kemeja kotak-kotak gratis. Saat ini, pencapresan Jokowi bukan lagi sekedar wacana dan isu, Jokowi resmi bertarung untuk RI 1. Wowww! Pencapresannya di tengah jalan kinerjanya sebagai Gubernur, seakan seperti mengkhinati masyarakat DKI, termasuk kami para relawan
Jakarta Baru. Tapi kami masih punya Ahok yang tidak bisa disepelekan, bahkan sosoknya lebih mencerminkan keberanian dan ketegasan, penulis percaya Sosok Ahok lebih dibutuhkan untuk mewujudkan cita-cita Jakarta Baru yang belum terlihat hingga saat ini.
File kegiatan selama menjadi Relawan
File kegiatan selama menjadi Relawan
Surat Tugasku
Materi Training Relawan
Bersama Salah Satu Relawan Cipinang Muara
Persiapan Makan-makan Relawan dikoordinatori Relawan Cipinang Cempedak
Halal Bi Halal di Kelurahan Cipinang Besar Utara
Kedatangan Cagub di Kelurahan Cipinang Besar Utara
Apresiasi dari The Cyruss Network untuk Relawan





Tidak ada komentar:
Posting Komentar