Minggu, 30 Maret 2014

Jokowi itu Gula Pahit


Sejak Jokowi resmi deklarasiin dirinya sebagai Capres dari PDIP, dinamika perpolitikan Indonesia makin menarik. Pengamat politik dari kalangan akademisi punya pandangan masing-masing tentang deklarasi Capres PDIP dan tentang hitung-hitungan kemenangan PDIP di Caleg atau Capresnya di Pilpres nanti. Bagi parpol selain PDIP, dimandatkannya Jokowi oleh Partainya sebagai Capres tentu merusak skenario banyak Parpol, reaksinya ada yang black campaign, ada yang mendekat, ada yang cuek dan pede karena klaim prestasi pembangunan, lalu ada yang menggerutu. Selain kalangan parpol, pencapresan Jokowi memunculkan dua pandangan beragam dari masyarakat, setidaknya ada dua pandangan yang berkembang akhir-akhir ini, Pertama, ada yang tidak setuju Jokowi nyapres, alasannya, Jokowi itu tidak amanah karena telah menyumpahi diri nya bersama Ahok Wakilnya untuk menjabat sebagai Gubernur untuk lima tahun hingga 2017. Kedua, masyarakat setuju pencapresan Jokowi karena sosok Jokowi yang dianggap dekat dengan rakyat dan kerap dengan kebiasaan blusukannya mampu menyelesaikan berbagai persoalan bangsa ini termasuk Jakarta.
Semut-semut Mendatangi Gula
Hingga April 2014 ini, 18 bulan kinerjanya sebagai Gubernur dirasa belum maksimal dan belum mampu mengubah kehidupan masyarakat dan potret kota seperti yang dijanjikan saat kampanye Pilkada lalu yakni Jakarta Baru. Selama setahun terakhir memang berbagai survei selalu menempatkan Jokowi di peringkat teratas sebagai Capres pemenang pemilu 2014. Tingginya survei itu mengundang banyak pihak membentuk suatu perkumpulan dan gerakan yang menginginkan Jokowi sebagai Calon Presiden, walaupun PDIP sebagai kendaraaan politiknya mereka tetap mendukung Jokowi sebagai Capres. Barisan relawan atau sekretariat bermunculan di awal tahun 2014, klaim pendukung dan massa yang banyak dirasa sebagai modal awal mereka untuk memenangkan Jokowi dalam Pilpres. Kalangan pengusaha berusaha mendekat ke partai dengan menawarkan bantuan dana dan jaringan yang dimiliki. Semua pihak seakan mengartikan Jokowi adalah pemenang Pilpres 2014, Jokowi dipasangkan dengan siapapun, dialah pemenangnya. Mereka tidak berani berjudi dengan mendukung kandidat dari partai lain. Sebelum resmi menjadi penguasa eksekutif, masyarakat dan pengusaha telah berusaha mendekati calon penguasa itu, dukungan tersebut tentu bukan tanpa motif. Sulit rasanya menyatakan dukungan dari mereka tulus untuk mendukung dan memenangkan Jokowi bersama PDIP nya. Penulis bahkan berani menyatakan dukungan khususnya dari masyarakat yang bergabung dalam gerakan kerelawanan Jakarta Baru tidak mendapat apapun setelah Pilkada DKI berlalu, motif untuk mendapat jabatan, memuluskan kepentingan sepihak atau mendapat proyek tidak tampak selama penulis mengamati kinerja Jokowi Ahok saat berkuasa.

Semut-semut Pilkada DKI Jakarta
            Kemenangan Jokowi saat pilgub DKI Jakarta tahun 2012 lalu tidak bisa dilepaskan dari peran serta relawan yang menyatukan diri mereka pada satu kekuatan yakni Relawan Jakarta Baru. Gerakan kerelawanan ini dipandu oleh salah satu konsultan politik di Jakarta sebutlah nama nya The Cyruss Network. Sistem kerja dengan kontrak hak dan kewajiban yang tertulis, sistem penggajian bersumber dari penyandang dana konsultan tersebut, setiap relawan dari tingkat kecamatan hingga TPS diatur nilai nominal penggajiannya, tugas dilapangan dilengkapi dengan surat tugas resmi. Saat itu, relawan bertugas untuk memenangkan Jokowi Ahok, dengan kondisi yang mengharuskan melawan kuasa calon incumbent dan kekuatan birokrasi DKI yang dimiliknya. Melihat kondisi itu tidak heran semut vs gajah sering berkembang terutama di kalangan relawan, tentu hal itu sebagai pembangkit semangat agar cita-cita untuk memenangkan calonnya di pilkada dapat terwujud. Jokowi yang saat itu belum sepopuler sekarang, bagi tim suksesnya partai dan relawan dibutuhkan kerja dan upaya lebih keras untuk mempopulerkan kandidat yang diusungnya, apalagi wakilnya Ahok saat itu memang sering luput dari publik. Khusus untuk Ahok yang mendampingi Jokowi sebagai Calon Wakil Gubernur, berasal dari kalangan minoritas harus diakui menjadi tantangan kinerja lapangan para relawan. Isu SARA terlalu kencang saat itu, pembuktian rekam jejak harus mampu meredam isu SARA, dan bersyukurnya ternyata mayoritas masyarakat DKI tidak termakan isu tersebut. Pilkada usai, usai pulalah kontrak kerja para relawan saat itu, tidak ada pesta pora, tidak ada klaim berlebihan dibanding perilaku orang dari partai saat itu. Kawan-kawan partai yang harusnya bisa menjadi partner saat di lapangan ternyata tidak terlalu dan tak selalu mesra di lapangan, relawan dan partai sering bersinggungan ketika sedang bertugas, relawan sering dianggap merebut lapak kalangan parpol, partai lebih besar massanya dan kontribusinya jauh lebih besar ketimbang pihak relawan. Itulah kira-kira yang terjadi saat itu, sudah berlalu :) 
Melihat makin begitu populernya penyebutan kata : relawan, makna relawan itu justru makin dipertaruhkan,. Walaupun terhitung sebagai relawan, hitung-hitungan uang dalam berkinerja tidak bisa dibuang begitu saja, karena memang setiap orang butuh dana untuk melakukan kegiatan apapun, termasuk kegiatan politik. Sesibuk apapun relawan Jokowi menuju pilpres 2014, Relawan Jakarta Baru sudah terbukti untuk mengimplementasi makna kata relawan, kinerja perbulannya dihargai dengan nominal gaji (sering disebut uang transport) di bawah 1 juta plus baju kemeja kotak-kotak gratis. Saat ini, pencapresan Jokowi bukan lagi sekedar wacana dan isu, Jokowi resmi bertarung untuk RI 1. Wowww!  Pencapresannya di tengah jalan kinerjanya sebagai Gubernur, seakan seperti mengkhinati masyarakat DKI, termasuk kami para relawan Jakarta Baru. Tapi kami masih punya Ahok yang tidak bisa disepelekan, bahkan sosoknya lebih mencerminkan keberanian dan ketegasan, penulis percaya Sosok Ahok lebih dibutuhkan untuk mewujudkan cita-cita Jakarta Baru yang belum terlihat hingga saat ini. 
File kegiatan selama menjadi Relawan
Surat Tugasku

Materi Training Relawan

Bersama Salah Satu Relawan Cipinang Muara

Persiapan Makan-makan Relawan dikoordinatori Relawan Cipinang Cempedak

Halal Bi Halal di Kelurahan Cipinang Besar Utara

 Kedatangan Cagub di Kelurahan Cipinang Besar Utara

Apresiasi dari The Cyruss Network untuk Relawan 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar