Saya tuliskan apa yg terpikir sesaat setelah
menonton sebuah acara reality show Indonesia
Baru di salah satu tv swasta nasional pada 19 Maret 2014 Pukul 23.00 WIB. Acara
itu dipandu Retno Pinasti dari pihak tv swastanya, grup musik Slank, Gubernur
DKI Jakarta Joko Widodo, dan audiens
dari berbagai kampus yang warna jaket almamaternya beragam.
Jokowi sosok pemimpin yang dianggap banyak kalangan
dekat dengan masyarakat dan realita kehidupan, blusukan dan mobilitasnya saat
sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta mungkin itu yg mendasari
anggapan itu. Dengan sosok seperti itu tentu sulit bagi kita membayangkan atau
melihat dia dalam suasana haru, katakanlah menangis. Sebagai warga biasa di DKI
Jakarta, saya sendiri pun tidak pernah terpikir bagaimana seorang Jokowi bisa
menangis yang akan dilihat banyak orang.
Mungkin reality show yang saya
tonton ini adalah pertama kali saya melihatnya begitu terharu, menjawab pertanyaan
para penanya terpatah-patah, air mata nya jelas terlihat di pinggir mata hingga
menetes pun jelas disorot kamera.
Ceritanya, dia begitu terharu saat pihak
penyelenggara acara menghadirkan seorang perempuan yang pernah menemani
hidupnya di masa kecil dulu, namanya Bu Tanti tetangga Jokowi saat rumah mereka
di bantaran sungai Kali Anyar. Ibu ini sangat meluap-luap ekspresinya, bertemu
dengan bocah kecil yang dulu sering dibonceng dengan sepeda ontelnya, dan itu
pun diamini Jokowi, ibu itu sering mengantarkan Jokowi kecil ke rumah Pak de-
Bu de nya dulu.
Suasana haru tidak berhenti sampai disitu, secara
frontal presenter acara tersebut meminta konfirmasi dari Jokowi mengapa dirinya
terlihat begitu terharu, sangat jelas air matanya. Dengan terpatah-patah, Ia
menjelaskan apa yg membuatnya sangat terharu. Kehadiran Bu Tanti saat itu
mengembalikan memorinya jauh ke masa kecilnya, ia mengingat kembali hidupnya
pernah sebagai warga di permukiman pinggir sungai, digusur pemerintah setempat,
dan terkatung-katung untuk bertempat tinggal permanen dan layak.
Pengalaman hidup lampaunya itu yang mendorong dia
selama ini bekerja untuk warga yang dipimpinnya, mengetahui masalah di bawah,
mengetahui kesulitan-kesulitan warganya, turun langsung melihat masalah dan
segera merespon masalah itu dengan upaya penanganan dari pemimpin dan
pemerintahan. Terkhusus untuk persoalan permukiman terutama di kota Jakarta, ia
tahu betul bagaimana dinamika dan kenyataan hidup penghuni permukiman kumuh
yang ada di bantaran sungai/pinggir kali dan waduk, di pinggir rel kereta. Di
wilayah manapun, rasanya tinggal seperti itu ia mengklaim rasanya sama saja,
tidak nyaman, terpinggirkan dan selalu mengalami kesulitan.
Tulisan ini hanya menceritakan kembali apa yang
dilihat di media, kebenaran tulisan ini milik penulis, dan kebenaran yang
diceritakan pada tulisan ini merupakan tanggung jawab Jokowi sendiri dan Sang
Gusti Pencipta Semesta karena ia yg merasakan langsung pengalaman hidupnya lalu
dibagikannya kepada siapapun yang bertanya kepadanya. Ditekankan pada tulisan
ini, tidak ada kepentingan yang berbau politik, jikapun pikiran anda mengarah
kesana, ya sudah nikmati saja ya J


Tidak ada komentar:
Posting Komentar