Kamis, 20 Maret 2014

Jokowi Bisa Menangis

Saya tuliskan apa yg terpikir sesaat setelah menonton sebuah acara reality show Indonesia Baru di salah satu tv swasta nasional pada 19 Maret 2014 Pukul 23.00 WIB. Acara itu dipandu Retno Pinasti dari pihak tv swastanya, grup musik Slank, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, dan audiens dari berbagai kampus yang warna jaket almamaternya beragam.

Jokowi sosok pemimpin yang dianggap banyak kalangan dekat dengan masyarakat dan realita kehidupan, blusukan dan mobilitasnya saat sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta mungkin itu yg mendasari anggapan itu. Dengan sosok seperti itu tentu sulit bagi kita membayangkan atau melihat dia dalam suasana haru, katakanlah menangis. Sebagai warga biasa di DKI Jakarta, saya sendiri pun tidak pernah terpikir bagaimana seorang Jokowi bisa menangis yang akan dilihat banyak orang.  Mungkin reality show yang saya tonton ini adalah pertama kali saya melihatnya begitu terharu, menjawab pertanyaan para penanya terpatah-patah, air mata nya jelas terlihat di pinggir mata hingga menetes pun jelas disorot kamera.

Ceritanya, dia begitu terharu saat pihak penyelenggara acara menghadirkan seorang perempuan yang pernah menemani hidupnya di masa kecil dulu, namanya Bu Tanti tetangga Jokowi saat rumah mereka di bantaran sungai Kali Anyar. Ibu ini sangat meluap-luap ekspresinya, bertemu dengan bocah kecil yang dulu sering dibonceng dengan sepeda ontelnya, dan itu pun diamini Jokowi, ibu itu sering mengantarkan Jokowi kecil ke rumah Pak de- Bu de nya dulu.

Suasana haru tidak berhenti sampai disitu, secara frontal presenter acara tersebut meminta konfirmasi dari Jokowi mengapa dirinya terlihat begitu terharu, sangat jelas air matanya. Dengan terpatah-patah, Ia menjelaskan apa yg membuatnya sangat terharu. Kehadiran Bu Tanti saat itu mengembalikan memorinya jauh ke masa kecilnya, ia mengingat kembali hidupnya pernah sebagai warga di permukiman pinggir sungai, digusur pemerintah setempat, dan terkatung-katung untuk bertempat tinggal permanen dan layak.

Pengalaman hidup lampaunya itu yang mendorong dia selama ini bekerja untuk warga yang dipimpinnya, mengetahui masalah di bawah, mengetahui kesulitan-kesulitan warganya, turun langsung melihat masalah dan segera merespon masalah itu dengan upaya penanganan dari pemimpin dan pemerintahan. Terkhusus untuk persoalan permukiman terutama di kota Jakarta, ia tahu betul bagaimana dinamika dan kenyataan hidup penghuni permukiman kumuh yang ada di bantaran sungai/pinggir kali dan waduk, di pinggir rel kereta. Di wilayah manapun, rasanya tinggal seperti itu ia mengklaim rasanya sama saja, tidak nyaman, terpinggirkan dan selalu mengalami kesulitan.


Tulisan ini hanya menceritakan kembali apa yang dilihat di media, kebenaran tulisan ini milik penulis, dan kebenaran yang diceritakan pada tulisan ini merupakan tanggung jawab Jokowi sendiri dan Sang Gusti Pencipta Semesta karena ia yg merasakan langsung pengalaman hidupnya lalu dibagikannya kepada siapapun yang bertanya kepadanya. Ditekankan pada tulisan ini, tidak ada kepentingan yang berbau politik, jikapun pikiran anda mengarah kesana, ya sudah nikmati saja ya J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar