Jumat, 01 Mei 2015

Si Pemalas yang Tertegur Pembimbing




            Penyebab mahasiswa tingkat akhir belum kelar-kelar tugas akhirnya, kalo bukan karena dia pemalas, alasan apalagi yang layak untuk menjadi pembelaan. Sekarang saya mengakui bahwa rasa malas menjadi sebab utama dalam studi, apalagi disaat-saat masa akhir. Dulu, waktu masih belajar di kampus Rawamangun, saya bukan orang yang tergolong malas kalo bersentuhan dengan kepentingan studi, apapun cobaannya saya kuat seperti batu karang. Pengalaman yang berbeda dengan yang lalu, saat ini saya mudah lupa akan tanggung jawab penyelesaian tugas akhir, padahal di awal-awal studi di kampus Depok, begitu bergairah penuh semangat. Alasan pekerjaan di dunia birokrat, sering menjadi alibi pribadi untuk membantah kemalasan saya. Kekurangan waktu untuk mengerjakan tugas akhir, bisa diakali dengan memundurkan waktu tidur, dengan konsekuensi durasi waktu tidur berkurang, dan kadang fokus saat bekerja terganggu. Namun, apa daya, demi menyelesaikan tugas akhir, memang harus siap dengan segala konsekuensinya.
            Kebangkitan semangat dalam mengerjakan dan menyelesaikan tugas akhir pada beberapa minggu terakhir berawal dari  komunikasi dengan rekan seangkatan, yang bernasib sama dengan saya. Komunikasi dengan rekan seangkatan punya motivasi bersama untuk segera lulus dan menyandang status alumni dari kampus Depok. Sebelum adanya komunikasi itu, dosen pembimbing sudah berulang kali menghubungi dan mengingatkan saya soal tugas akhir ini, namun kemalasan masih begitu besar menguasai diri, akhirnya kemajuan signifikan atas pengerjaan tugas akhir belum terlaksana. Sering saya tertegur dengan perhatian dosen pembimbing, masa ada dosen yang mencari dan menanyai kabar mahasiswanya, apa karena dia perempuan, entah. Yang jelas teguran itu harus dibalas dengan loyalitas dan tanggung jawab dari saya sebagai mahasiswa bimbingan beliau.
Kombinasi antara perhatian dosen pembimbing dan komunikasi rekan seangkatan kini menjadi lengkap untuk konsistensi semangat, yang dahulu kembang kempis. Konsistensi semangat ini dibutuhkan hingga last minute penyerahan tugas akhir ke jurusan saya. Tidak ada lagi waktu untuk berleha, tidak ada lagi tempat untuk benih memalaskan diri, yang ada sekarang ingin lulus sesegera mungkin, mengingat usia semakin tua, beban kuliah makin besar, dan bisa fokus pada tanggung jawab pekerjaan secara penuh, menyusun rencana menikah, dengan siapa, kapan, untuk melengkapi kebahagiaan orangtuaku di kampung.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar