Tanyakanlah tiap orang, siapapun berharap selalu sehat dan mereka tak ingin masuk ke rumah sakit, kecuali mereka yang
berprofesi sebagai tenaga medis, misalnya dokter, perawat, semua orang ingin
sehat, itu jelas. Tidak bisa dibantah juga, bahwa terdapat kemungkinan manusia mengidap sakit penyakit, kemudian jatuh sakit dan perlu segera mendapat penanganan medis di Rumah Sakit.
Rumah Sakit diartikan sebagai tempat pengobatan sakit pasien, agar peluh, perih yang dirasa pasien sirna. Fakta yang terjadi: Pengabaian kondisi sakit calon pasien disebabkan pelayanan rumah sakit yang tak ramah dan tidak tanggap, bukannya sembuh, justru nambah penyakit atau mati di rumah sakit, tak bisa dielak.
Rumah Sakit diartikan sebagai tempat pengobatan sakit pasien, agar peluh, perih yang dirasa pasien sirna. Fakta yang terjadi: Pengabaian kondisi sakit calon pasien disebabkan pelayanan rumah sakit yang tak ramah dan tidak tanggap, bukannya sembuh, justru nambah penyakit atau mati di rumah sakit, tak bisa dielak.
Belum lewat semingguan ini, 16
Februari 2015, seorang warga Pematang Siantar, Sumatera Utara harus meregang
nyawa di Rumah Sakit plat merah di Kota Siantar.
Jauh di waktu sebelumnya, 20 Januari 2014, seorang lelaki sepuh ditelantarkan pegawai dan ambulance dari Rumah Sakit plat merah di Kota Bandar Lampung, Lampung, kakek tersebut akhirnya meninggal dunia.
Jauh di waktu sebelumnya, 20 Januari 2014, seorang lelaki sepuh ditelantarkan pegawai dan ambulance dari Rumah Sakit plat merah di Kota Bandar Lampung, Lampung, kakek tersebut akhirnya meninggal dunia.
Untuk menjawab kecaman publik, dalih
pihak Rumah biasanya, menuruti Standard Operating Procedure (SOP) merupakan tahapan pelayanan Rumah Sakit terhadap
calon pasiennya, dimaksudkan agar tertib administrasi dan keuangan rumah sakit.
Saat pasiennya meninggal dunia dan diduga secara sengaja ditelantarkan pihak
Rumah Sakit, biasanya kata maaf dan turut berduka cita yang disampaikan pihak
Rumah Sakit kepada publik, jika tak tersorot publik terbuka kemungkinan
kejadian serupa.
Kegamangan dua tipe masyarakat muncul
saat hendak berurusan dengan Rumah Sakit, pilihan-pilihannya rumah sakit swasta
atau negeri, biaya mahal atau biaya murah, fasilitas lengkap atau fasilitas
seadanya. Masyarakat tipe Pertama, mereka
dapat menikmati fasilitas dan pelayanan maksimum yang membutuhkan uang lebih,
ini rata-rata diperoleh dari Rumah Sakit swasta ternama. Masyarakat tipe Kedua, mereka hanya dapat menikmati
fasilitas dan layanan minimalis dengan biaya sangat-sangat terjangkau, sangat mudah
dijumpai di Rumah Sakit milik Pemerintah, di pusat maupun daerah. Penerapan
layanan kesehatan BPJS semakin membuat gamang masyarakat, Pemerintah
menjanjikan fasilitas maksimal dengan biaya murah, masyarakat dipaksa untuk
memiliki kartu BPJS, membayarkan dana kewajiban, namun saat harus dilayani
Rumah Sakit janji tinggal janji, penelantaran kondisi pasien sekarat itu sudah
biasa, sudah jelas hal itu merukan bentuk perilaku Rumah Sakit yang secara sengaja mengabaikan kewajibannya dalam penyediaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Jauh lebih
substansi, hak atas hidup manusia tidak dihormati oleh pihak Rumah Sakit.
Tubuh yang sehat adalah harapan
sekaligus aset tiap orang, uang yang berlimpah adalah modal segelintir saja,
sampai-sampai mereka sanggup mengasuransikan dirinya. Lalu bagaimana dengan
orang miskin yang tubuhnya sedang berpenyakit dan harus segera mendapat pertolongan
medis, harus dihadapkan terlebih dahulu pada alur birokrasi administrasi dan
keuangan yang sangat menyita waktu, menguras pikiran dan emosi keluarga pasien.
Rasa tanggap dan ramah, dianggap semacam barang langka bagi kebanyakan orang yang
berurusan dengan mayoritas Rumah Sakit di Republik Indonesia, materi masih
dinomorsatukan ketimbang usaha menyambungkan nafas hidup calon pasien/ pasiennya. Bahkan,
urusan ditahap akhir saja masih saja berbelit, misal keluarga yang anggota
keluarganya tidak sanggup lagi ditolong medis kerap terlantar dan terulur
waktunya, disebabkan ketiadaan atau minimnya fasilitas ambulance.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar