Minggu, 10 Agustus 2014

Rumahku


            Semenjak memasuki tempat pekerjaan baru beberapa bulan lalu, saya mulai rasakan bahwa tempat pekerjaan saat ini adalah rumah dalam kehidupan. Jika ditarik makna rumah ke arah kekerabatan keluarga, rumah ada di satu kabupaten Sumatera Barat, itupun kepemilikan orangtua. Jika ditarik ke arah fisik, setiap harinya di rantau membaringkan diri di rumah bilik kos-kosan. Komnas HAM tempat bernaung dalam dunia kerja, tempat mendewasakan diri dengan ragam nilai-nilai kehidupan seperti tanggung jawab, integritas dan kesederhanaan. Bagi banyak orang pasti tempat pekerjaannya adalah tempat kebanggaannya, punya alasan masing-masing sehingga bangga akan itu. Secara pribadi saya bangga dan bersyukur bisa diterima masuk ke dalam institusi ini, tempat yang bertanggung jawab akan pemajuan, penegakan dan perlindungan Hak Asasi Manusia. Komnas HAM dipercayakan sebagai lembaga pelayanan publik di bidang Hak Asasi Manusia, tiap masyarakat yang datang dan berurusan kesana biasanya mereka yang mengalami pengabaian dan pelanggaran akan hak asasi-nya sebagai manusia. Mereka  yang datang menganggap dan berharap Komnas HAM dapat membantu mereka sehingga haknya dipulihkan, memperoleh keadilan. Cibiran yang kudengar dari luaran, lembaga ini produk barat harus dijauhi, lembaga ini produk kepentingan politik yang harus dikerdilkan.
            Bagi saya pribadi sebagai manusia anggota kehidupan berbangsa bernegara Indonesia, saya merasakan tempat saya bekerja sebagai tempat yang melindungi hak asasi segenap elemen di dalamnya. Jauh sebelum masuk saya sering mengamati, merasakan tindakan sekitar yang berseberangan dengan makna perlindungan HAM. Lahir, besar dan sempat tinggal di daerah masa kecil saya terbiasa menjadi orang minoritas, yang kadang melihat pelanggaran HAM. Di bidang kehidupan beragama, pendirian rumah ibadah sangat sulit mengaksesnya, Sulit untuk berdiskusi soal keagamaan karena pikiran sempit dan fanatisme yang mengakar, sikap primordial mengarah rasis bertebaran, aturan-aturan kelembagaan cenderung mendiskriminasikan yang minor. Dan kini, saya jauh dari semua itu. Saya rasa tempat saat ini merupakan tempat yang mampu memberikan pencerahan bahwa Indonesia itu memang masih hidup. Nilai-nilai nasionalisme dari pendahulu bangsa, nilai pluralisme yang disebar Gusdur masih dirawat dan dilestarikan. Dan secara regulasi dan institusi, tempatku bernaung saat ini relevan akan perlindungan dan penegakan Hak Asasi Manusia.
            Saya percaya tempat ini menjadi tempat merawat nasionalisme dan pluralisme bangsa. Tidak membiarkan sikap-sikap rasis, fanatis destruktif, diskriminatif karena soal SARA. Untuk itulah rasa syukur tak pernah henti dalam hidupku, Tuhan tempatkan saya di tempat ini, tempat yang mengajarkan untuk memahami manusia tak sekedar fisik, sekedar pergaulan dan rekan bergaul, jauh ke dalamnya manusia ciptaan Tuhan sama kedudukannya, memiliki hak dan kewajiban yang sama, setara dihadapan Tuhan, di dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, dan dihadapan hukum. Rasa syukur yang dapat membalasnya, saya dapat berperan dari hal kecil untuk melindungi, memajukan dan menegakkan Hak Asasi Manusia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar